Selasa, 17 November 2009

Anggota Dewan Dikado Kartu Remi

Soko Tuban
TUBAN - Belasan mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Peduli Reformasi (AMPR) Tuban kemarin (16/11) menggelar aksi di Kejaksaan Negeri (Kejari) dan DPRD setempat.

Mereka menuntut kasus-kasus korupsi yang ada di Bumi Ronggolawe segera dituntaskan. Selain itu, menuntut agar pimpinan DPRD dan alat kelengkapan dewan segera terbentuk.

Mahasiswa gabungan dari PMII, HMI, KAHMI dan IMM itu memulai aksi sekitar pukul 10.00. Mereka bergerak dari Jalan Sunan Bonang atau depan Masjid Agung Tuban. Dengan membentangkan bendera organisasinya masing-masing, para aktivis itu menuju kantor Kejari di Jalan RA Kartini.

Mereka terus meneriakkan yel-yel dan bergantian melakukan orasi. Para pengunjuk rasa juga membawa sejumlah poster. Setelah berorasi, lima perwakilan mahasiswa dipertemukan dengan Kasi Intel M. Chozin dan Kasi Pidsus Agus Budiarto. ''Kami mempertanyakan proses hukum kasus korupsi pakaian sipil harian (PSH) yang sampai saat ini hanya bolak-balik dari Kejari ke Polres. Ini kenapa?,'' tanya Kartono, salah satu perwakilan mahasiswa dihadapan dua pejabat kejaksaan tersebut.

Kasi Pidsus Agus Budiarto mengatakan, sampai saat ini penanganan kasus PSH masih terus diproses. Sebab, jaksa penuntut umum (JPU) masih menemukan adanya berkas yang belum lengkap. ''Masih ada syarat materiil yang belum dipenuhi,'' kata dia.

Namun, Kasi Pidsus tidak menyebutkan secara detail syarat materiil yang belum lengkap tersebut. ''Kami tetap komitmen, supaya hal ini bisa berjalan maksimal,'' tambahnya.

Dalam pertemuan itu sempat terjadi ketegangan. Kartono yang tidak puas dengan jawaban dari Kejari memilih keluar ruangan tanpa ada koordinasi terlebih dahulu.

Setelah dari kejaksaan, para pengunjuk rasa melakukan longmarch ke gedung DPRD Tuban. Sesampainya di bundaran patung-depan DPRD Tuban-mereka menggelar orasi menuntut agar DPRD setempat segera bekerja. ''Potong gajinya, karena anggota dewan sampai saat ini belum bekerja,'' teriak para pengunjuk rasa.

Aksi saling dorong dengan petugas terjadi ketika mahasiswa merangsek masuk ke gedung dewan. Namun, itu tidak berlangsung lama. Sekitar 15 menit para mahasiswa berorasi, namun tak satupun anggota dewan yang menemui mereka. Padahal, saat itu sejumlah anggota dewan masih ngantor. Seperti sebagian anggota dewan dari FKB, FPP, F-Gerindra, FPDIP, dan FAB. Para wakil rakyat ini memilih berdiam didalam ruangan dan mengintip dari jendela ruang kantornya.

Beberapa saat kemudian, anggota FKB Muhyidin menemui para aktivis. Terkait belum terbentuknya pimpinan definitif, politisi asal Plumpang ini meminta para mahasiswa untuk menanyakan langsung ke FPG Bersatu. Sebab, pihaknya sudah semaksimal mungkin mengusulkan kepada pimpinan sementara agar pimpinan DPRD dan alat kelengkapan segera terbentuk. ''Anggota dewan dari FPG memang tadi pagi ada di kantor. Mengapa mereka pada lari semua saat ada demo. Dan ini semua karena PG yang belum menyerahkan nama calon,'' tegas Muhyidin dengan nada tinggi.

Belum puas dengan jawaban tersebut, para mahasiswa memberi kado kepada anggota dewan dengan kartu remi dan sejumlah uang recehan. Ini sebagai bentuk belum bisa bekerjanya anggota dewan, Namun, kado tersebut ditolak oleh Muhyidin. ''Ya saya tolak,'' kata dia. Akibatnya, kartu remi tersebut berserakan dilantai depan kantor DPRD setempat.

Hendratonik, koordinator aksi mengatakan, kado kartu remi ini sebagai ungkapan kekecewaan masyarakat terhadap wakil rakyat yang selama ini belum bisa bekerja untuk rakyat. (zak)Radar Bojonegoro

About This Blog

Cek Tagihan PLN

blog tutorial

Gabung Yuk...!

Test Form

Name:
Email Address:
Alamat Web
Berapa usia anda...? Dibawah 17 th
Antara 17 s/d 30th
Diatas 30 th
Apa jenis kelamin anda Pria
Wanita
Baina huma
Apa pendapat anda tentang blog ini..? Sangat kami harapkan, saran, kritik, maupun pendapat anda. silahkan ketik pada kolom disamping ini

free forms

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP