Senin, 30 Maret 2009

Yang Tersisa dari Darsih, Korban Tragedi Situ Gintung

Soko Tuban
Aditya-Adinda Dijanjikan Hp, Bagas Minta Jajan
Rata Penuh

Kematian Darsih, 30, akibat jebolnya tanggul Situ Gintung di Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, Jumat (27/3) membuat keluarga diliputi rasa kesedihan. Termasuk ketiga anak korban, Aditya Bagus Prabowo, 13, Adinda Putri Nuraini, 6, dan Bagas Juliandra Putra.

KHORIJ ZAENAL ASRORI, Bojonegoro

---------------------------------------------

DARSONO, 50, ayah korban, masih tidak kuasa menerima kenyatan atas tewasnya anak sulungnya di perantauan. Raut wajah pria berbadan kekar ini murung semenjak mendapat kabar anaknya tewas dihantam air bah di Banten dengan tragis. Bahkan, kesedihan terus mengguncang hatinya ketika detik-detik menjelang kedatangan jenazah putrinya.

Jenazah Darsih tiba pada Sabtu (28/3) pukul 17.00 dengan suara sirine ambulans yang membuat detak jantung mengguncang. Kedatangan ambulans disambut dengan isak tangis kerabat, dan langsung menuju rumah duka yang terbuat dari papan kayu di Dusun Warang, Desa Sumur Cinde, Kecamatan Soko, Tuban. "Putriku tewas dalam bencana tsunami kecil di Banten," ucap pria yang bekerja sebagai buruh tani dengan nada lirih.

Begitu pula Tasmijah, ibu korban. Dia terus menangis dengan posisi tergolek di selembar tikar pandan. Tasmijah selalu ditemani Darsono dan kedua anaknya yang lain di saat meratapi kesedihan tewasnya Darsih. Sesekali Tasmijah memejamkan mata. Namun selang beberapa menit kemudian, Tasmijah bangun dengan meneteskan air mata. Pemandangan ini terus berlangsung.

Tewasnya Darsih dalam bencana di Banten ini meninggalkan tiga putra-putrinya. Darsih mempunyai anak tiga dari hubungannya dengan Bagus Maini, 34, mantan suaminya. Darsih dan Gaguk, sapaan suaminya, resmi cerai setengah tahun lalu. Ketiga anaknya, Aditya Bagus Purnama, Adinda Putri Nuraini dan Bagas Juliandra Putra, dirawat oleh Gaguk dan sampai kini tinggal di Gang Kandam II Kelurahan Karangpacar, Kecamatan Kota Bojonegoro. "Sehari sebelum kejadian, tepatnya kamis (26/3) ibunya menelpon ketiga anaknya dengan waktu lumayan lama," ucap Gaguk dengan mata memerah saat ditemui menjelang kedatangan jenazah mantan istrinya.

Meski semua kerabat dirundung kesedihan, Aditya, anak Darsih yang duduk di kelas satu SMP 1 PGRI Bojonegoro, terlihat masih tegar. Raut wajahnya tidak murung. Bahkan saat ditanya, dia juga tidak meneteskan air mata sama sekali. "Diberitahu bapak kalau ibu meninggal, tapi saya tetap tegar," ucap Aditya sembari membawa album foto yang berwarna hijau yang berisi dokumen foto kenangannya bersama kedua orang tuanya.

Aditya hanya menyesali atas kematian ibunya. Sebab, dirinya sempat dijanjikan akan dibelikan handphone (Hp) oleh ibunya kalau pulang nanti. Anak sulung Darsih ini menceritakan, saat ditelepon ibunya Kamis lalu (26/3), dirinya dijanjikan sang ibu Hp. Bahkan, korban juga sempat menjanjikan akan membelikan Hp untuk Adinda, adik Aditya yang masih duduk di kelas satu SD. "Kalau Bagas minta jajan yang banyak," ucap Aditya. Saat Aditya yang berkaos warna biru dongker ditemui menjelang kedatangan jenazah ibunya, dia tidak meneteskan air mata. Bahkan keinginan untuk memiliki Hp sudah dia tunggu-tunggu.

Aditya begitu menginginkan Hp. Saat ditemui, anak baru gede ini langsung meminjam Hp milik wartawan koran ini. Setelah itu, dia baru bisa sedikit tersenyum, karena bisa main game yang ada di fitur Hp tersebut. Bahkan, dia menolak makan siang yang sudah disajikan oleh kerabatnya, karena begitu senangnya menikmati game di Hp. "Selain untuk game, Hp juga untuk SMS (layanan pesan pendek) sesama teman satu sekolah," ucapnya.

Kini, harapan untuk memiliki Hp sirna. Sang ibu yang sudah lama tidak ketemu ini sudah tiada. Tapi, dia yakin suatu saat nanti dirinya akan memiliki Hp. "Walau ibu tidak jadi membelikan handphone, pasti ayah akan membelikan," harap Aditya. (*) Sumber : Radar Bojonegoro

Read more...

Inventarisir Kerusakan Jalan dan Saluran Irigasi

Soko Tuban
TUBAN - Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Tuban masih menginventarisir jalan dan irigasi di empat wilayah kecamatan yang rusak akibat banjir meluapnya Bengawan Solo (BS). Empat kecamatan tersebut, Widang, Rengel, Plumpang, dan Soko.

Kepala DPU Tuban, Choliq Qunnasich mengatakan, dari empat wilayah kecamatan tersebut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (PNPB) hanya menggelontorkan dana recovery untuk perbaikan jalan di Widang sebesar Rp 1,6 miliar. Sementara untuk tiga wilayah kecamatan lainnya ditanggung sepenuhnya oleh APBD. Choliq belum punya gambaran pasti berapa anggaran yang akan terserap untuk perbaikan jalan dan irigasi di Tuban karena inventarisasi masih berlangsung.

Di Soko yang wilayahnya paling sedikit terendam banjir, menurut dia, jalan yang rusak sepanjang 4 km. Kalau per kilometer jalan beraspal membutuhkan anggaran Rp 250 juta berarti untuk jalan di Soko saja terserap Rp 1 miliar. Jumlah tersebut belum termasuk irigasi dan gedung milik pemerintah yang rusak.

Mantan Kasubdin Prasarana Jalan Dinas Kimpraswil itu mengatakan, untuk recovery tanggul Bengawan Solo yang rusak akibat bencana, pemerintah pusat menurunkan anggaran perbaikan sekitar Rp 700 miliar. Dari jumlah tersebut, yang dikucurkan untuk perbaikan tanggul dan pintu air di Tuban hanya Rp 35 miliar. Dana inilah yang dipakai Bengawan Solo Hilir untuk perbaikan tanggul di Tegalsari sepanjang 80 meter. Choliq menambahkan, selain perbaikan, Tuban juga membutuhkan anggaran untuk pembuatan tanggul sepanjang 25km di sepanjang wilayah bantaran Bengawan Solo di Rengel hingga Soko. ''Selama ini, wilayah tersebut tak bertanggul,'' tandas dia. (ds) Sumber : Radar Bojonegoro

Read more...

Minggu, 29 Maret 2009

Satu Korban Tanggul Situ Gintung dari Soko

Soko Tuban
Satu warga Kabupaten Tuban menjadi korban jebolnya tanggul Situ Gintung di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten Jumat (27/3) dinihari lalu. Korban itu bernama Darsih, 30, warga Dusun Warang, Desa Sumur Cinde, Kecamatan Soko.

Kemarin (28/3), jenazah korban tiba di rumah duka , Jenazah itu diangkut dari Banten menggunakan ambulans bersama jenazah dua warga asal Ponorogo. Keduanya, Siti R dan anaknya yang balita. Dua korban itu masih ada hubungan darah dengan mantan suami Darsih. ''Siti itu saudara sepupuku," kata Bagus Maini, 34, mantan suami korban saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Karangpacar, Kecamatan/Kota Bojonegoro.

Kabar jebolnya tanggul Situ Gintung memang membuat keluarga Darsih panik. "Kami mendapat kabar bahwa Darsih tewas di hantam air bah di Banten," kata Darsono, ayah korban saat ditemui di rumahnya di Dusun Warang.

Dia mendapatkan kabar kematian putri sulungnya dari mantan menantunya Bagus. Menurut Darsono, Gaguk, sapaan akrab Bagus, menelepon dirinya melalui handphone kerabatnya Jumat sekitar pukul 22.00. ''Seketika itu keluarga tangisan,'' kata pria yang bekerja sebagai buruh tani ini.

Suwadi, 45, salah satu kerabat korban, saat ditemui di rumah duka menyatakan, dirinya tidak menyangka Darsih tewas dihantam air bah lantaran tanggul Situ Gintung jebol. Dia dan keluarga korban awalnya tidak mengerti adanya tragedi jebolnya tanggul tersebut.

''Peristiwa jebolnya tanggul Situ Gintung kami ketahui setelah mendengar kematian Darsih," ujarnya.

Menurut Gaguk, dari perkawinan dirinya dengan Darsih, lahir tiga anak. Ketiganya, Aditya Bagus Prabowo yang kini duduk di bangku kelas 1 SMP, Adinda Putri Nuraini (kelas satu SD), dan Bagas Juliandra Putra. ''Kasihan Bagas yang masih kanak-kanak," kata Gaguk.

Dia menjelaskan, semenjak cerai sekitar enam bulan lalu, ketiga anaknya ikut dirinya. Mereka tinggal di Gang Kandam II Desa Karangpacar.

Sementara Aditya mengaku sudah mendengar ibunya tewas dihantam air bah. ''Bapak memberitahu jika ibu meninggal di hantam air bah," katanya saat ditemui wartawan koran ini kemarin.

Darsih bekerja di Kelurahan Cirendeu sebagai pembantu di rumah Siti R. Menurut keterangan Gaguk, korban tewas saat berada di rumah majikannya. ''Rumah majikannya dengan tanggul Situ Gintung tidak terlalu jauh jaraknya," tutur Gaguk dengan terbata-bata. (rij) Sumber : Radar Bojonegoro

Read more...

Jumat, 20 Maret 2009

50 Miliar untuk Perdayakan Masyarakat

Soko Tuban

TUBAN-Tuban mendapat kucuran dana sekitar Rp 50 miliar untuk program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan 2009. Terbesar, anggaran tersebut dikucurkan dari APBN sebesar Rp 42 miliar dan selebihnya Rp 10,6 miliar dari APBD Tuban. Alokasi anggaran program pemberdayaan masyarakat tersebut kemarin disampaikan Ketua Bappeda Tuban, Heri Sisworo dalam laporan sosialisasi program tersebut di Hotel Mustika Tuban kemarin (19/3). Hadir dalam acara tersebut, Wabup Tuban Lilik Soehardjono, perwakilan DPRD Tuban, Sekda Parastuti, perwakilan sejumlah lembaga perbankan di Tuban, dan para fasilitator.

Dikatakan Heri, menanggulan kemiskinan merupakan program besar yang membutuhkan konsistensi, keberanian, inisiatif, dan dana yang cukup memadai. Agar program tersebut berjalan efektif, menurut dia, perlu dikenali dan dipahami tentang profil kemiskinan dengan memanfaatkan data-data yang akurat dan metodologi analisa yang tepat.(ds) Sumber : Radar Bojonegoro

Read more...

Rabu, 11 Maret 2009

Mobil Plat Merah, Tabrak Gl Max

Soko Tuban
BOJONEGORO - Mobil plat merah yang dikendarai anak dari salah satu PNS Pemkab Bojonegoro kemarin (selasa, 10/3) menabrak Tasmiran, warga asal desa Ponco kabupaten tuban saat mengendarai motor GL Maxnya.

Pada saat kejadian, peristiwa tabrakan antara Mobil Isuzu merk Kuda dengan motor GL Max terjadi di perempatan jalan WR Supratman Kota Bojonegoro. Kejadian tabrakan ini terjadi pukul 07.45 pagi, disela sibuknya lalu lalang jalan protokol di Bojonegoro.

Atas insiden tabrakan ini, motor GL Max yang dikendarai Tasmiran mengalami penyok parah dan mengakibatkan motor milknya tidak dapat digunakan kembali. Sementara, mobil plat merah nopol S 9706 C atas nama Bupati Bojonegoro ini mengalami kerusakan deck di bagian depan mobil.

Dari insiden nahas ini, pria asal Ponco Tuban yang hendak pergi ke Bojonegoro mengalami luka robek di bagian jari tangannya. Dan harus menjalani pengobatan itensif di rumah sakit terdekat. Sementara, sopir dan Ibu PKK salah satu PNS yang ada di mobil tidak mengalami luka sama sekali.

Kronologisnya, mobil merk Kuda ini sedang melaju dengan santai dari arah Utara menuju ke Selatan dengan kecepatan 30 km/jam. Namun, tak disangka dari arah barat tiba-tiba ada motor GL Max sedang melaju. Karena sama kagetnya, tiba-tiba tabrakan tak dapat dihindarkan. Walaupun mobil yang atas nama Bupati Bojonegoro ini telah membunyikan klakson dengan keras.

Mobil plat merah yang dikendarai M Harindra, anak dari salah satu PNS ini hendak mengantarkan ibunya untuk menghadiri rapat PKK.

Namun tabrakan tidak menimbulkan kemacetan yang berarti di sepanjang jalan WR Supratman. Karena sewaktu kejadian, aparat kepolisian dari unit Lantas Polres Bojonegoro langsung menanganinya.

Kompol Sudirman Kasat Lantas Polres Bojonegoro membenarkan atas insiden tabrakan di jalan WR Supratman. Dan secara langsung mobil plat plat merah nopol S 9706 C dan motor GL Max langsung di bawa ke Unit Lantas Polres Bojonegoro untuk diperiksa. (rij)
Sumber : Radar Bojonegoro

Read more...

Larikan Gadis Bawah Umur

Soko Tuban

BOJONEGORO - Melati (bukan nama sebenarnya),16, warga salah satu desa di Kecamatan Kota, dilaporkan sejak Minggu (8/3), kabur dari rumahnya. Kejadian ini terjadi tepatnya sekitar pukul 21.00.

Menurut saksi, Kartini , 40, ibu korban, kejadian ini diawali dengan pamitnya si korban untuk membeli nasi goreng di sekitar rumahnya. Lebih tepatnya di jalan MT. Haryono Jetak.

Menurut pengakuan ibu korban, anaknya pergi bersama Didik, 25, warga Desa/Kecamatan Soko yang notabenenya adalah kekasih korban.

Karena sampai keesokan hari keduanya tak kunjung pulang, ayah Melati akhirnya melaporkan kejadian ini ke pihak yang berwajib.

Menurut keterangan Kabag Bina Mitra Kompol Kusen Hidayat saat dikonfirmasi oleh Koran ini, mengungkapkan bahwa korban dan terlapor belum diketemukan. Kejadian ini pun masih dalam proses penyelidikan.

" Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. Korban dan terlapor sampai saat (Selasa, red) ini masih belum ditemukan" ungkapnya.

Kusen juga menegaskan bahwa dalam kejadian ini nantinya terlapor akan terjerat hukuman maksimal 15 tahun penjara. Hal ini dikarenakan terlapor melanggar UU No. 23 Tahun 2002 Pasal 83 mengenai perlindungan anak.

" Telapor akan dikenai hukuman 15 tahun penjara, karena korban tergolong gadis dibawah umur" tegasnya. (tha).

Aparat Kejar Didik, karena Bawa Kabur Gadis Selama 2 Hari
BOJONEGORO - Aparat kepolisian dari satuan Reskrim Polres Bojonegoro terus lakukan pengejaran terhadap Didik (25) pria asal Desa Soko Kecamatan Soko Tuban. Karena pria yang bekerja swasta ini, kurang lebih selama tiga hari telah membawa lari Nuri Prasetyawati.

"Semenjak dilaporkan orang tuanya ke Polres (Senin, 9/3), sampai kini anggota kami terus melakukan pengejaran terhadap Didik," kata Kompol H Kusen Hidayat Kabag Binamitra Polres Bojonegoro kepada Radar Bojonegoro kemarin (Selasa, 10/3).

Didik dilaporkan Suprapto (43), ayah korban yang tinggal di Dukuh Madean Desa Jetak Kota Bojonegoro. Karena diduga telah membawa anak gadisnya yang masih pelajar semenjak hari minggu pukul 21.00 malam (8/3). Dan dari pengetahun orang tuanya Didik merupakan salah satu teman pria yang diduga sebagai pacar korban.

Kejadiannya, Minggu (8/3) korban Nuri Prasetyawati tepatnya pukul 21.00 izin pamit kepada Kartini, selaku Ibunya. Gadis yang masih pelajar tersebut, izin pamit kepada Ibunya untuk membeli nasi goreng yang berada di pinggir jalan Jetak, tepatnya di depan Pom Bensin Jetak Bojonegoro.

Namun hingga tengah malam korban yang ditunggu-tunggu oleh orang tuanya belum juga kembali. Bahkan sempat kedua orang tua korban mencari dan menanyakan di sekitar TKP. Karena jarak antara rumah korban dan tempat nasi goreng tidak terlalu jauh. Bahkan kedua orang tuanya hingga senin siang pun masih melakukan pencarian hingga ke Tuban. Serta tidak luput menanyakan ke beberapa teman dekat anaknya.

Merasa bingung dan kesal, akhirnya Suprapto pada senin kemarin (9/3) pukul 16.00 mendatangi Polres Bojonegoro untuk melaporkan Didik. Sementara, Didik diduga membawa anaknya karena dari sepengetahuan orang tua, selain pacar korban. Karena pada saat pencarian yang dilakukan orang tuanya ke rumah Didik yang berada di desa Soko kota Tuban. Terlapor yang masih buron ini juga tidak ada di rumahnya bahkan semenjak minggu malam bertepatan saat anaknya dibawa kabur.

Kompol H Kusen Hidayat menuturkan, terlapor yang masih buron ini terancam pidana. Lantaran terlapor telah melanggar UU No.23/2002 tentang Perlindungan Anak (UUPA). "karena membawa lari gadis masih di bawah umur, terlapor terancam pidana kurungan minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun," tambah Kabag Binamitra Polres Bojonegoro yang pernah menunaikan haji ini. (rij) Sumber : Radar Bojonegoro

Read more...

Minggu, 08 Maret 2009

Sebelas Kecamatan Terjangkit Flu Burung

Soko Tuban
TUBAN - Sebelas kecamatan di Tuban sejak dua bulan terakhir ini dinyatakan positif terjangkit flu burung. Kecamatan terakhir yang dinyatakan terjangkit flu burung adalah Kecamatan Tambakboyo.

Di Desa/Kecamatan Tambakboyo, Senin (2/3) lalu ditemukan 20 ekor ayam mati mendadak. Sehari berikutnya, 5 ekor ayam mati mendadak. Kemarin, beberapa ekor ayam juga mati.

Di desa ini, Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Tuban hanya berhasil memusnahkan beberapa ekor ayam yang mati dengan dibakar dan dikubur. Sementara sebagian ayam lainnya telanjur dibuang di sungai.

Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Tuban Sulistyani mengatakan, berjangkit kembali flu burung di Tuban dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya, musim penghujan.

Menurut dia, curah hujan yang tinggi, mengakibatkan lingkungan sekitar becek dan kotor. ''Ini yang menjadi pemicu berjangkitkan kembali flu burung,'' ujar dokter hewan jebolan Unair Surabaya ini.

Faktor lain, kata Sulistyani, risiko penularan. Berdasar hasil temuannya di lapangan, banyak warga yang menjual ayam sakit yang diduga karena terjangkit flu burung. Ayam-ayam yang terinfeksi virus H5N1 inilah yang kemudian menular kepada binatang unggas lainnya.

Ditambahkan Sulistyani, selain melalui pedagang ayam di pasar, mewabahnya flu burung di Tuban juga dipengaruhi kesalahan warga membudidayakan ternaknya. Menurut dia, seharusnya binatang unggas tersebut dilokalisasi di kandang atau dibuatkan pagar pembatas.

Sulistyani menyatakan, instansinya sudah mengambil langkah-langkah antisipasi untuk meminimalisasi penyebaran flu burung. Selain memusnahkan unggas yang diindikasi terserang flu burung dengan dibakar, kata dia, pihaknya juga menyemprotkan disinfektan di kandang-kandang unggas yang terjangkit flu burung. ''Mensosialisasikan masalah ini kepada masyarakat juga terus kami giatkan,'' tutur wanita kelahiran Mojokerto 56 tahun lalu ini.

Wabah flu burung kali pertama ditemukan berjangkit di Tuban pada awal 2004. Setelah itu, wabah ini meluas dan menyebar hingga 2007. Penyebaran virus tersebut baru reda pada 2008. Setelah itu, awal Januari lalu wabah flu burung kembali muncul.

Dengan temuan di Desa/Kecamatan Tambakboyo itu, sudah sekitar seribu lebih ayam mati mendadak di sebelas kecamatan. Selain Tambakboyo, kecamatan lain adalah Palang, Widang, Rengel, Palang, Merakurak, Tuban, Jenu, Bancar, Semanding, dan Jatirogo. (ds) sumber : Radar Bojonegoro

Read more...

Banjir di Tuban Masih Meluas

Soko Tuban
TUBAN - Luapan air Bengawan Solo masih meluas di Tuban. Di Kecamatan Plumpang misalnya. Banjir kemarin (7/3) mulai merendam pemukiman warga di Bandungrejo, Sembung, dan Plumpang. Padahal, sejak Jumat (6/3) lalu, air hanya menggenangi wilayah persawahan.

Kondisi terparah terjadi di Desa Bandungrejo. Selain menenggelamkan sekitar 60 hektare (ha) lahan pertanian, sebagian rumah warga dan jalan kecamatan yang menghubungkan desa ini dengan ibu kota kecamatan juga terendam air. Panjang jalan yang terendam sekitar 600 m. Ketinggian air pada titik jalan yang terendam ini sekitar 40 cm.

Kondisi tersebut mengakibatkan desa ini terisolasi. Jalan yang tergenang air ini tak bisa dilalui mobil. Sejumlah kendaraan bermotor yang memaksa lewat, juga mengalami problem mesin.

Kades Bandungrejo Tulus mengatakan, arus air sungai yang melintasi desanya cukup deras. Kondisi tersebut diperparah dengan genangan air hujan yang turun di desa setempat. Dalam kondisi seperti ini, lanjut dia, sangat mungkin genangan banjir terus meluas dan meninggi.

Di Desa Plumpang dan Sembung, sejumlah rumah warga juga mulai terendam air. Ketinggian air yang naik itu membuat Pemkab Tuban kemarin memberlakukan siaga III. Kepala Kesbangpolinmas Tuban Teguh Setyobudi menyatakan, sampai kemarin ada lima kecamatan yang terendam banjir. Kelima kecamatan itu, Parengan, Rengel, Soko, Plumpang, dan Widang. ''Yang parah di Kecamatan Widang,'' ujarnya.

Di Kecamatan Widang, air luapan Bengawan Solo bisa masuk melalui tanggul Tegalsari yang jebol pada 1 Maret lalu. ''Ya belum bisa diperbaiki (tanggul Tegalsari), sebab masih tergenang air,'' katanya.

Untuk Kecamatan Rengel, lanjut dia, air sudah memasuki perumahan warga. ''Kira-kira enam desa yang terendam,'' imbuhnya.

Dia menambahkan, Pemkab Tuban terus bersiaga membantu korban banjir. Hingga kemarin, tiga perahu karet disiagakan di Kecamatan Widang, satu perahu karet di Parengan, dan satu perahu karet di Rengel. ''Selain itu, juga 8 tenda sudah kami distribusikan ke Widang,'' jelasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Camat Widang Bambang Dwijono mengatakan, di wilayah kecamatannya ada 8 desa yang tergenang banjir. Yakni, Desa Banjar, Tegalsari, Tegalrejo, Kedungharjo, Simo, Compreng (Dusun Temas), Mlangi (Dermalang), dan Desa Mrutuk.

''Transportasi dari Desa Mrutuk menuju Mlangi tergenang air hingga 40 cm. Jadi, ada mobil yang berani lewat, ada juga yang tidak berani,'' katanya.

Camat Parengan Eko Arif Yulianto saat dikonfirmasi mengatakan, setelah sempat diterjang banjir bandang, wilayah kecamatannya kemarin kembali normal. ''Sudah tidak ada desa yang tergenang,'' katanya.

Dia menuturkan, banjir bandang di Kecamatan Parengan pernah terjadi di 1978, 1984, serta 2003. ''Dan tahun 2009 ini termasuk besar,'' imbuhnya.

Dia menambahkan, pihaknya belum bisa memerkirakan berapa besar kerugian akibat banjir bandang tersebut. ''Masih proses perhitungan,'' imbuhnya.

Menurut dia, pemkab telah membantu 5 ton beras untuk korban banjir bandang di Kecamatan Parengan. ''Sudah kami salurkan ke desa-desa,'' katanya.

Sementara itu, untuk meringankan korban banjir, kemarin sumbangan dari pembaca Jawa Pos didistribusikan di Desa Dermalang, Mrutuk, dan Tegalrejo, seluruhnya di Kecamatan Widang.

Di masing-masing desa ini, relawan Jawa Pos menyerahkan 20 bungkus mi instan kepada setiap kepala keluarga (KK). Bambang Supriyono, salah satu anggota relawan mengatakan, sambil menyerahkan bantuan, tim relawan juga mensurvei warga korban banjir. Sehingga, nantinya terkumpul data desa mana saja yang diproritaskan menerima bantuan dan bentuk sumbangangannya.

Sementara itu, di Bojonegoro, ketinggian air Bengawan Solo kemarin (7/3) menurun. Papan duga di Kecamatan Kota mencatat angka di bawah siaga I atau 13 peilschaal.

''Jika nanti (tadi) malam tidak hujan, maka akan turun di bawah siaga,'' kata Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah (BPSAW) Bengawan Solo di Bojonegoro Pudjo Buntoro.

Dia menjelaskan, hari ini ketinggian air diperkirakan terus menurun. Apalagi, kata Pudjo, kondisi ketinggian air di wilayah hulu mulai Kali Jurung di Solo hingga Kali Madiun di bawah nomal. Sementara papan duga di Dungus, Ngawi dan Karangnongko, Kecamatan Ngraho juga mencatat di bawah siaga. ''Kisaran tiga meter di bawah siaga,'' ujarnya.

Untuk wilayah Kecamatan Babat dan Laren di Lamongan dan Kecamatan Widang, Tuban, kata Pudjo, masih akan berada di kisaran siaga III. Itu terjadi karena air dari anak Bengawan Solo masih cukup banyak. ''Kalau hujan, tentunya anak Bengawan Solo akan naik dan Bengawan Solo akan terkatrol naik,'' imbuhnya.

Karena itu, tutur dia, kewaspadaan terhadap banjir masih perlu dilakukan. ''Hujan diprediksi masih akan terjadi dengan intensitas tinggi,'' katanya.

Berdasarkan data satlak PB Lamongan, jumlah rumah yang terendam di Kecamatan Babat bertambah 20 unit. ''Total di Lamongan ada 12 kecamatan dan 102 desa yang terendam banjir. Rinciannya, ada 16.753 rumah yang terendam, jumlah pengungsi mencapai 553 KK,'' jelas Sekretaris Satlak PB Lamongan Imam Trisno Edy kemarin (7/3).

Sementara itu, banjir di sejumlah kawasan di Kecamatan Kota Lamongan mulai surut. Meski demikian, warga tetap waspada karena hujan masih mungkin kembali mengguyur Kota Tahu Campur tersebut.

''Kali Pengaron benar-benar sudah tidak bisa menampung luapan air lagi,'' kata Kabag Humas dan Infokom Pemkab Lamongan Aris Wibawa kemarin (7/3).

Jika hujan deras turun, lanjut dia, maka banjir akan menggenangi wilayah perkotaan seperti Kelurahan Tlogoanyar, Perumnas Made dan Sukomulyo, serta Perumahan Jetis Indah.

Seperti diberitakan, akibat melubernya air dari Sungai Pengaron, tangkis di Dusun Pilang Gadung, Desa Tambakrigadung, Tikung jebol sepanjang 7 meter. Akibatnya, air menggenangi 150 rumah di Desa Tambakrigadung. Air yang meluber itu merendam 6 desa/kelurahan di wilayah Lamongan. Keenam desa/kelurahan itu, Sidomukti, Tanjung, Sidoharjo, Sukomulyo, Tlogoanyar, dan Kebet.

Sementara di Kecamatan Tikung, air merendam Desa Pilangadung, Jotosanur, Guminingrejo dan Pengumbulanadi. Total ada 1.341 rumah di dua kecamatan itu yang terendam air.

Selain itu, luapan sungai tersebut juga menenggelamkan jalan poros Lamongan-Mojokerto, di Jotosanur-Kalikapas hingga mendekati perempatan Kelurahan Sidoharjo dengan kedalaman hingga setengah meter.

Sementara itu, setelah banjir bandang di Desa Bleboh, Kecamatan Jiken, Blora berlalu, sebagian warga desa setempat kini sibuk mencari surat-surat berharganya. ''Beruntung lemari untuk menyimpan surat-surat ini tidak ikut terseret banjir,'' ujar Martini, salah seorang korban banjir kemarin (7/3).

Sejumlah korban banjir bandang ada yang kehilangan semua barang yang ada di dalam rumah. ''Kartu jamkesmas saya hilang bersama surat-surat yang lain,'' ujar Ngatemi, warga lainnya.

Sementara warga yang bisa menyelamatkan surat-surat berharganya, mereka kemarin menjemur surat-surat tersebut. Kebetulan, cuaca cerah.

Bagi sebagian korban banjir itu, mereka masih trauma dengan kejadian tersebut. Air bah yang menerjang perumahan penduduk berjalan cukup cepat. Bahkan, banjir bandang Kamia (5/3) sore itu terbesar sepanjang sejarah di desa tersebut. ''Kalau banjir kecil-kecilan sering terjadi. Kalau yang besar baru kali ini selama saya hidup di sini,'' ujar Suwarsono, korban banjir lainnya.

Kades Bleboh Baskoro menyatakan, dirinya sudah mendata dan melaporkan musibah banjir itu ke pihak kecamatan. Dia berharap pemkab bisa memberikan bantuan lebih dari sekadar bahan makanan dan mi instan. ''Setidaknya ada dana untuk memperbaiki rumah warga,'' pintanya.

Banjir bandang yang terjadi di Desa Bleboh merusak sedikitnya 52 rumah di empat dusun. Dari pendataan pihak desa, kerugian diperkirakan sampai Rp 500 juta. (ds/zak/ade/feb/idi/ono) suomber : Radar Bojonegor

Read more...

Kamis, 05 Maret 2009

Hari Ini, 101 Sekdes Diangkat PNS

Soko Tuban
TUBAN - Sebanyak 101 sekretaris desa (sekdes) di Tuban hari ini diangkat menjadi PNS. Selain itu, sejumlah 335 tenaga honorer juga bakal menerima SK calon pegawai negeri sipil (CPNS). Penyerahan akan dilakukan di GOR di Jalan Sunan Kalijogo.

Kasubag Humas dan Protokoler Pemkab Tuban Gatot Setiyono kepada Radar Bojonegoro mengatakan, 101 sekdes diagendakan diambil sumpah diangkat sebagai PNS. Sedangkan, 335 tenaga honorer baru menerima SK CPNS. ''Untuk diangkat PNS belum, sebab masih proses,'' katanya. Dia menambahkan, sekdes dan tenaga honorer itu adalah formasi pada tahun 2008.

Dia mengungkapkan, rata-rata tenaga honorer yang menerima SK CPNS itu yang sudah mengabdi puluhan tahun menjadi tenaga di lingkup Pemkab Tuban. ''Ya rata-rata 5-20 tahun,'' ujarnya. Tenaga honorer tersebut sudah masuk dalam daftar data base. (zak)
S
umber : Radar Bojonegoro

Read more...

Minggu, 01 Maret 2009

Warga Desa Sandingrowo Terisolasi, Berharap Bantuan Datang

Soko Tuban
Banjir telah menenggelamkan banyak rumah di sebagian wilayah Bojonegoro, Lamongan, Tuban, dan Blora. Bahkan, warga Desa Sandingrowo, Kecamatan Soko, Tuban beberapa hari terakhir Rata Penuhterkepung luberan air sungai terpanjang di Jawa tersebut.

ZAKKI TAMAMI, Tuban

---

Bantaran sawah di sebagian Desa Sandingrowo tak terlihat lagi kemarin (28/2). Hamparan padi yang sebelumnya menjadi pemandangan alam desa, berubah menjadi seperti lautan yang terbentang luas karena banjir.

Jalan menuju desa setempat juga sudah tak terlihat aspalnya. Genangan air di jalan itu setinggi pinggang orang dewasa. Sementara di pintu masuk desa tersebut, belasan perahu kecil siap menyambut para ''tamu''. Perahu-perahu itu digunakan sebagai sarana tranportasi di desa karena jalan yang ada sudah terendam air.

Perahu yang ditumpangi wartawan koran ini bergerak masuk desa tersebut. Puluhan rumah yang ada sudah tak terlihat lagi lantainya. Beberapa anak memilih bermain air di sekitar rumahnya. Sedangkan orang tua mereka mengawasi dari rumah.

Sejumlah rumah di desa itu ada yang sudah tertutup rapat. ''Ngungsi Mas, orangnya,'' kata salah seorang warga yang wartawan koran ini menunjuk salah satu rumah yang tertutup rapat.

Warga yang bertahan di rumah saat ini terancam kelaparan. Sebab, persediaan makanan yang ada kian menipis. ''Sampai saat ini belum dapat bantuan,'' kata Yatmi, salah satu warga desa setempat yang mengaku sudah sepekan ini rumahnya terendam banjir.

Tahun lalu, rumah Yatmi juga kebanjiran. Namun, dia langsung mendapatkan bantuan. ''Contohnya mi, nasi, minyak. Kok sekarang belum,'' keluhnya.

''Niki dereng angsal bantuan nopo-nopo Mas (ini belum dapat bantuan apa-apa Mas),'' ujar Ratmi, warga lainnya yang kemarin memasak di atas meja.

Sebelum memilih bertahan di rumah, dia lebih dulu mengungsikan sapi miliknya ke tempat yang aman. Bagi Ratmi dan sebagian warga lainnya, mengungsi bakal membuat mereka akan mengeluarkan banyak biaya. ''Mending di rumah saja, ngungsi malah bondone akeh,'' kata Kaslam, warga desa setempat yang juga mengaku belum menerima bantuan korban banjir.

''Ini kaki saya sudah terserang kutu air, kok bantuan obat-obatane belum datang,'' keluhnya.

Tak hanya rumah warga yang terendam banjir. Sejumlah tempat pendidikan juga sudah tergenang air. Di antaranya, MI Nurul Ulum desa setempat dan SDN Sandingrowo. ''Satu minggu libur nggak ada kegiatan sekolah,'' kata Tasna'in, kepala MI Nurul Ulum.

Libur itu diberlakukan karena ketinggian air di sekolah setempat setinggi paha orang dewasa. ''Selain itu lantai dua dipakai untuk mengungsi warga,'' imbuhnya.

Dia mengaku setiap tahun sekolah tersebut selalu tergenang air. ''Usai banjir pasti disuruh menyetorkan data, tapi kok bantuanya belum tiba-tiba,'' keluhnya. (*)
Sumber : Radar Bojonegoro

Read more...

About This Blog

Cek Tagihan PLN

blog tutorial

Gabung Yuk...!

Test Form

Name:
Email Address:
Alamat Web
Berapa usia anda...? Dibawah 17 th
Antara 17 s/d 30th
Diatas 30 th
Apa jenis kelamin anda Pria
Wanita
Baina huma
Apa pendapat anda tentang blog ini..? Sangat kami harapkan, saran, kritik, maupun pendapat anda. silahkan ketik pada kolom disamping ini

free forms

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP