Rabu, 31 Desember 2008

SEKEDAR TAHU

Soko Tuban
Sebenarnya masih banyak berita di Soko yan tak ter ekspos oleh media, ada warga Mbopong yang di sambar petir saat membawa pulang traktor dari sawah, meninggalnya jamaah Haji asal Prambon Tergayang atas nama H. Tasam di tanah suci, hingga kecelakaan sepeda motor di perempatan pasar Prambon antara suzuki cristal yang dikendarai oleh Suyono 28 warga Pandan agung dengan Hond GL Max yang di kendarai oleh Warga sugih waras yang sedan mabuk Sehabis minum di warung miras desa setempat, Nahas bagi Suyono setelah ditabrak dari belakang
hingga menderita luka dibeberapa bagian tubuh masih dipukuli oleh yang nabrak hingga pingsan.
Penabrakpun di amankan warga, beruntung petugas dari polsek soko yang mendapat laporan segera datang. sementara korban dilarikan kerumah sakit, pelaku dikeler kekantort polisi.
Keterlaluan memang orang itu, ujar Jasmo, 42 warga Pandan agung dan Yayuli warga setempat yang kebetulan ada dilokasi saat kangrus lewat . warga yang sudah emosi tidak sempat melampiaskan kemarahanya, kejadianya dua minggu yan lalu. kabar terbaru, sesuai pengamatan kangrus, warga mulai dari glagah sari, Sandingrowo, Mejeruk dan sekitarnya (lokasi areal sekitar bengawan solo) sudah mulai panen padi. tapi yang menyedihkan hingga saat ini pupuk masih sulit. padahal warga penggarap sawah tadah hujan (daerah pegunungan dan lereng bukit & yang jauh dari bengawan) Prambon, Jati, Cekalang, Tluwe, Wadung, Kebon, Klumpit dan sekitarnya Baru mulai tanam padi.(original By Kangrus)

Read more...

KASUS RASKIN BANGUNREJO

Soko Tuban
Beras Dikembalikan, Tak Gugurkan Penggelapan
Perbuatan Sunjani, Kades Bangunrejo, Kecamatan Soko yang menggelapkan beras untuk keluarga miskin (Raskin) sebanyak 12 ton tidak gugur meski beras tersebut dikembalikan dalam jumlah yang sama oleh tersangka. ''Perbuatan melawan hukum itu sudah terjadi dan sama sekali tidak terpengaruh dengan pengembalian,'' kata Kasi Penindakan dan Penuntutan (Datun) Kejari Tuban Yuniarti Undarti kemarin (25/12).

Pengembalian beras yang digelapkan, kata dia, mungkin hanya jadi pertimbangan majelis hakim untuk meringankan hukuman.

Undarti yang juga jaksa penuntut umum (JPU) kasus tersebut menegaskan, unsur penggelapan yang dilakukan tersangka cukup kuat. Sisa Raskin sebanyak 12 ton selama ini diakui Sunjani masih dititipkan di gudang Dolog Tuban. Namun, setelah sejumlah warga mengecek, baru diketahui kalau berat tersebut sudah diambil Sunjani dan kemudian dijual.

Sunjani dilimpahkan penyidik polisi ke Kejari Tuban pada Rabu (24/12) lalu setelah berkas perkaranya dinyatakan sempurna (P-21) oleh kejaksaan. Setelah menerima pelimpahan, kejaksaan tak menahan tersangka dan hanya dikenakan wajib lapor. Saat penyidikan polisi, pria berpostur tinggi ini juga tidak ditahan.

Sunjani termasuk kades berpengaruh. Untuk bisa memeriksanya saja, penyidik polisi harus empat kali meminta izin kepada Bupati Tuban Haeny Relawati Rini Widyastuti. Karena sulitnya izin memeriksa tersebut turun, penyidikan kasus tersebut sempat molor hingga tujuh bulan. Sunjani dilaporkan menggelapkan Raskin jatah desanya untuk pengalokasian November hingga Desember 2006. Beras yang digelapkan adalah selisih pendistribusian sebanyak 1,447 kg dikalikan jumlah warga penerimanya sebanyak 354 orang selama dua bulan. Beras selisih pendistribusian yang sebelumnya berada di gudang Dolog Tuban tersebut diam-diam diambil dan kemudian dijual. Setelah kasus tersebut terungkap dan dilaporkan 30 Maret 2008 lalu, Sunjani mengganti beras sebanyak 12 ton untuk didistribusikan kepada warga penerima Raskin.(ds) Sumber : RADAR BOJONEGORO

Read more...

Kamis, 25 Desember 2008

Sakit, Lima Jamaah Haji Tertunda Pulang

Soko Tuban
Biasanya sehabis melaksanakan ibadah haji, sebagian jamaah haji mulai kangen dan ingin cepat pulang berkumpul dengan keluarga. Terutama yang tergabung kloter-kloter awal yang memang sudah sebulan lebih meninggalkan keluarga di tanah air.


Namun, lain halnya dengan JIRAN bin KARMIDJAN (78) asal kloter 2 dari Desa Kedungbondo Balen Bojonegoro yang dirawat di RS An-Nur Makkah dan KARSAM bin NURIMAN (78) asal kloter 4 dari Dusun Salen, Tegalsari Widang Tuban yang dirawat RS King Abdul Aziz Jeddah.

“Maksud hati ingin pulang dengan kloternya, tapi apa daya kondisi kesehatan tak memungkinkan untuk terbang ke tanah air, hingga akhirnya harus dirawat terlebih dahulu di Rumah Sakit Saudi Arabia,” kata H. NUR YASIN SHIROTOL MUSTAQIM, MA dari Media Center Asrama Haji Sukolilo dalam rilisnya yang diterima suarasurabaya.net, Rabu (17/12).

Selain JIRAN dan KARSAM, yang masih dirawat di rumah sakit adalah KUJAERI KH bin H. ABDUL MUKTI (54) asal kloter 4 dari Dusun Semanding, Sandingrowo Soko Tuban yang dirawat RS King Abdul Aziz Makkah, ABU AMIN bin KASMIRUN (67) asal kloter 8 dari Karang, Sekaran Lamongan saat ini dirawat di RSAA Hera dan NARMIN bin KASIRUN (69) asal kloter 9 dari Tejoasri, Laren Lamongan yang dirawat di RS King Abdul Aziz Jeddah.

Sampai kloter 9, ada 4 jamaah yang wafat di tanah suci. Tapi, baru 2 SKK (Surat Keterangan Kematian) yang sudah diterima PPIH Embarkasi Surabaya atas nama DJASMAT bin SEMIDIN (61) kloter 7 asal Lohgung RT.14 RW.04 Brondong Lamongan dan SURATMAN bin KARTO (57) kloter 8 asal Besur RT.02 RW.01 Sekaran Lamongan. Keduanya meninggal dunia di Makkah sebelum wukuf yaitu pada 3 Desember 2008.

Jumlah kedatangan sampai dengan kloter 9 ada 4002 jamaah dan 45 petugas. Mutasi keluar 12 orang dan mutasi masuk 6 orang.(git) sumber : suarasurabaya.net

Read more...

Selasa, 23 Desember 2008

Petani Tuban Kembali 'Jarah' Truk Bermuatan Pupuk


Soko Tuban - Lagi-lagi perampasan pupuk terjadi di wilayah Kabupaten Tuban. Satu truk trailer sarat muatan pupuk yang diparkir di Dusun Rekul, Desa Bangunrejo, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, habis dijarah warga sekitar, Minggu (21/12/2008).

Sebanyak 30 ton pupuk jenis TSP produk PT Petrokimia Gresik, berhasil disikat petani. Sekali pun ratusan massa membayar kepada supir truk seharga Rp 75.000 per sak, namun kejadian tersebut kian menjadikan distribusi pupuk carut marut.

Informasi yang dihimpun dari warga Desa Bangunrejo, Kecamatan Soko, Tuban, aksi massa bermula ketika sang supir memarkir truk di sekitar perempatan Rekul. Pengemudi truk asal Desa Bangunrejo tersebut bermaksud istirahat sejenak di rumahnya.

Sayangnya ada petani yang iseng membuka terpal penutup truk tersebut. Dari situlah mereka tahu, jika muatan truk tersebut adalah pupuk. Meski pupuk TSP, namun karena kelangkaan pupuk urea petani sekitar Rekul tetap nekad. Mereka langsung membongkar isi truk.

Mengetahui muatannya dibongkar, sang supir langsung melapor ke Polsek Soko. Sesaat kemudian jajaran Polisi dari Polsek Soko dan Polres Tuban, tiba di lokasi kejadian. Namun demikian permintaan polisi agar aksi pengambilan pupuk dihentikan, tak digubris massa.

Meski sempat terjadi ketegangan bersamaan kedatangan polisi, namun aksi tetap saja berlangsung. Pupuk pun akhirnya dibeli petani langsung dari supir.

"Petani di sini memang sudah lama menginginkan pupuk, apalagi saat ini padi dan jagung sejak ditanam sampai sekarang kekurangan pupuk," kata Zaenuri, warga setempat saat dihubungi detiksurabaya.com, Minggu (21/12/2008) sore.

Menurutnya, sebenarnya petani tidak mau merampas. Tapi semua yang mengambil pupuk tetap membeli, meskipun secara paksa.

"Itu terjadi karena memang kami sudah lama kesulitan mendapatkan pupuk," ungkapnya.(bdh/bdh). sumber : detik surabaya gambar : metrotvnews

Read more...

Kamis, 11 Desember 2008

Hujan Deras di Pegunungan Sebabkan Banjir Bandang

Soko Tuban
Banjir bandang Selasa (09/12) malam, menerjang sejumlah desa di Kecamatan Soko Tuban, Jawa Timur. Banjir yang datang secara tiba-tiba ini membuat warga panik dan tidak mampu menyelamatkan harta benda mereka dari terjangan air.

Banjir bandang ini menerjang 3 desa di Kecamatan Soko, Tuban, Jawa Timur. Banjir yang terjadi Selasa malam ini membuat warga panik dan tidak mampu memindahkan perabotan rumah tangga mereka ke tempat yang lebih aman. Banjir menerjang ratusan rumah warga di Desa Sanding Rowo, Desa Sokosari dan Desa Rahayu hingga setinggi setengah meter.

Menurut warga, banjir berasal dari daerah pegunungan dan menerjang pemukiman warga yang berada di pinggir sungai Bengawan Solo. Sebelum banjir, Kabupaten Tuban diguyur hujan deras selama dua hari berturut-turut. Selain derasnya air yang berasal dari pegunungan, warga juga menunjuk penyempitan irigasi sebagai pemicu terjadinya banjir.

Rabu (10/12) siang warga masih disibukkan dengan tumpukan sampah dan lumpur yang dibawa oleh air bah. Warga berharap pemerintah kabupaten segera melakukan pelebaran irigasi untuk menghindari banjir akibat tingginya curah hujan akhir-akhir ini. Sumber : indosiar.com, Tuban (Tim Liputan/Sup)

Read more...

Rabu, 03 Desember 2008

Kanker kini tidak lagi mematikan


Soko Tuban

Kanker kini tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya anaman “KELADI TIKUS” (Typhonium Flagelliforme/ Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai penyakit berat lain. Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 cm ini hanya tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. “Tanaman ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa,” kata Drs.Patoppoi Pasau, orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia. Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia. Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan pasien dari Malaysia , Amerika, Inggris, Australia, Selandia Baru, Singapura, dan berbagai negara di dunia.

Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan, Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut. “Sebelum menjalani kemoterapi,dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan,”jelas Patoppoi.

Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker. “Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli teh tersebut,” ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah toko obat di Malaysia , secara tidak sengaja dia melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul “Cancer, Yet They Live” karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996. “Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia ,” kenang Patoppoi sambil tersenyum. Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu.

Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat Departemen Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya di Pekalongan Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, mereka menemukan tanaman itu di sana. Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu.

Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. “Dr Teo mengatakan agar tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat,” lanjut Patoppoi. Akhirnya, dengan tekad bulat dan do’a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai memproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku tersebut untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi putranya, Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan tanaman tersebut. “Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut tumbuh liar di pinggir sungai,” kata Boni yang mendampingi ayahnya saat itu.

Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya berhenti rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. “Bahkan nafsu makan ibu saya pun kembali normal,” lanjut Boni.

Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. “Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta ,” kata Patoppoi. Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada isterinya. “Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan dosis kemoterapi kepada kami,” lanjut Patoppoi. Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan agar mengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya yang tidak mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. Dan pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam bulan sekali.”Tetapi karena sesuatu hal, para dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaan tanaman sebagai pengobatan alternatif,” sambung Boni sambil tertawa. Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr.Teo melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak terdapat di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di Indonesia. Kemudian Dr Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh,” sambung Patoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam bahasa Indonesiadan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu penderita kanker di Indonesia. Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas mengenai meninggalnya Wing Wir yanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos, Patoppoi sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala, penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyembuhkan pasien tersebut. “Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos,” ujar Boni. Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, bisa sekitar 30 telepon yang masuk. “Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 orang yang datang ke sini,” lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH. Khamdani, Buduran Sidoarjo. Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi. Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku dijual untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos. Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi, karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif.

Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi berusaha untuk menemui Dr. Teo secara langsung. Atas bantuan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno, Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di Penang, Malaysia. Di kantor Pusat Cancer Care Penang, Malaysia, Patoppoi mendapat penerangan lebih lanjut mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama Indonesia. Ternyata saat Patoppoi mendapat buku “Cancer, Yet They Live” edisi revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku tersebut, serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan kanker. Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikan perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya. Maka secara resmi, Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial Cancer Care Indonesia, yang juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer Care, yaitu di Jl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta , telp. 021-4894745, dan di Buduran, Sidoarjo. Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut secara lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus dalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai tananaman lainnya dengan dosis tertentu. “Dosis yang diperlukan tergantung penyakit yang diderita,”kata Boni.

Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi formulir yang menanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan dikirimkan melalui fax ke Dr. Teo. “Formulir tersebut dapat diisi disini, dan akan kami fax-kan. Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep sekaligus obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia , sekitar 40-60 Ringgit Malaysia ,” lanjut Boni. “Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami tidak menarik keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa memberikan perpanjangan waktu pembayaran.” tambahnya.

Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah satu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker ginjal. Ada dua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya ini. Pasien pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan dengan keladi tikus, karena telah ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah memiliki reputasi. Setelah menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami kerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah. Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu proses penyembuhan kemoterapi.

Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek yang dialami penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal. Tetapi dokter ini menolak untuk diekspos karen menurutnya, pengobatan ini belum resmi diteliti di Indonesia. Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai “ter-kun” atau dokter-dukun. “Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan konvensional dan modern,” kata dokter tersebut.

Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan bantuan kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dan sabu-sabu di Surabaya , yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat kanker paru-paru. Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III, pasien tersebut mengkonsumsi pil dan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari peredaran darah penderita dan mengatasi ketergantungan pada narkoba tersebut. “Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi tikus, dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi,” sambung Boni sambil tertawa.

Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat serangan kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saat kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan. Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker payudara, paru-paru, usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, leher rahim, tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan hepatitis.

Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan milyaran Ringgit Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan. Bagi anda yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungan dengan artikel “Obat Kanker” bisa menghubungi perwakilan lembaga sosial “Cancer Care Indonesia ” beralamat di : Jl. Kayu Putih 4 no.5 Jakarta, telp : 021-4894745.

Sumber : resep.web.id


Read more...

About This Blog

Cek Tagihan PLN

blog tutorial

Gabung Yuk...!

Test Form

Name:
Email Address:
Alamat Web
Berapa usia anda...? Dibawah 17 th
Antara 17 s/d 30th
Diatas 30 th
Apa jenis kelamin anda Pria
Wanita
Baina huma
Apa pendapat anda tentang blog ini..? Sangat kami harapkan, saran, kritik, maupun pendapat anda. silahkan ketik pada kolom disamping ini

free forms

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP