Rabu, 24 Oktober 2007

Kabare wong Soko III

Sehari, Dua Gantung Diri
RADAR BOJONEGORO

TUBAN - Dalam sehari, dua kepala rumah tangga di wilayah Kecamatan Soko ditemukan tewas gantung diri di atas pohon kemarin (21/10). Ngardi, 43, warga Desa Gununganyar yang tergantung di atas pohon nangka diduga frustasi karena tak mampu membiayai nikah anaknya. Sedangkan Kastur, 45, warga Desa Klumpit tergantung di atas pohon asam setelah tiga hari menghilang.

Jasad Ngardi lebih dulu ditemukan sekitar pukul 04.30 dengan leher terjerat tali plastik. Ujungtali tersebut diikatkan pada salah satu dahan pohon. Sementara ujung lainnya menjeratlehernya.Diperkirakan, pria ini telah lama tergantung di atas pohon. Sehingga, saat ditemukan ujung kakinya sudah menyentuh tanah karena tali yang dipakai menggantung molor.

Sebelum gantung diri, korban sempat mengeluh kepada sejumlah kerabatnya karena uang yang dimilikinya tak cukup untuk membiayai nikah putranya. Diduga, karena tidak menemukan solusi untuk menutup biaya nikah, korban memutuskan mengakhiri hidup dengan cara gantung diri.

Sedangkan Kastur, yang ditemukan tergantung setelah tiga hari menghilang dari rumah, sebelum meninggal sempat bercerita kepada kerabatnya jika dalam mimpinya dirinya diajak temannya mencari jerami. Sejak Oktober lalu, korban stres tanpa sebab yang jelas. Jasad korban kali pertama ditemukan Sarlan, tetangganya.

Kasatreskrim Polres Tuban AKP Efendi Lubis menyatakan, dalam visum luar terhadap jasad kedua korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik. "Tanda-tanda kematian korban karena bunuh diri juga ditemukan, yakni kemaluan dan anus masing-masing mengeluarkan sperma dan kotoran," tandasnya. (ds)

Read more...

Minggu, 21 Oktober 2007

KABARE WONG SOKO II

dutamasyarakat.com Warung bakso dan mie ayam milik Kasan, di Desa Sokosari, Kecamatan Soko, ludes terbakar di saat perayaan Idul Fitri 1428 H. Harta benda Kasan pun musnah dilalap si jago merah. “Saya pasrah dengan musibah ini,” katanya. (van,mu)

Read more...

Jumat, 19 Oktober 2007

Bertahan di Tengah Gelisah Zaman

Dutamasyarakat.com Sekalipun harga jual daun tembakau basah belakangan jatuh hingga Rp 900/Kg, namun petani di sentra tembakau di Kabupaten Tuban masih bertahan. Mereka masih nekad berspekulasi disaat panen sekitar sebulan mendatang, harga tembakau merangkak naik. Sementara itu, sejumlah wilayah sentra tembakau di Tuban semacam Plumpang, Rengel, Soko, Montong, Semanding dan Merakurak, masih bertahan dengan tanamannya. Padahal risiko menanam komoditas bahan utama rokok ini sangat berat di saat kemarau terik. Terlebih bersamaan puasa Ramadhan. Sejumlah petani di sentra tembakau yang ditemui Duta menyatakan, mereka tetap bertahan dengan menanam tembakau karena pangsa pasarnya jelas. Jika harga tembakau jatuh seperti musim panen lalu, dianggap petani sebagai hal lumrah. “Petani seperti kita ini kan hanya berikhtiar dengan menanam, kalau saat panen harganya jeblok ya mungkin belum rejekinya. Kalau kita tidak menanam tembakau harus menanam apa, tanah disini kalau kemarau paling cocok ditanami tembakau,” kata Ramsono di samping sejumlah petani asal Desa Jegulo, Kecamatan Soko, Tuban, kemarin siang. Dia katakan, idealnya agar petani tidak merugi harga tembakau basah sebesar Rp 1.500 - 2.000/Kg. Sedangkan untuk daun kering minimal sebesar Rp 24.000 - 25.000/Kg. Harga tembakau kering musim panen kemarin jatuh hingga Rp Rp 13.000/Kg. “Kalau harga tembakau di bawah itu, kami berani memastikan petani bakal rugi. Semoga saja saat panen nanti, permintaan dari pabrik rokok banyak dan harganya baik,” timpal Zaeni petani tembakau lainnya. Menurut Ramsono, bertani tembakau musim ini relatif sangat berat. Karena disaat kemarau terik kali ini petani menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Yang paling berat, petani harus mengambil air untuk menyiram tanaman tembakaunya dari sungai kecil sekitar lahan. “Terus terang Pak, yang berat itu memikul air dari sungai ke sawah untuk menyiram. Ini setiap hari kita lakukan dua kali, dan seperti ini sudah kita lakukan tiap musim kemarau. Bedanya sekarang sedang puasa ramadhan, jadi ya lumayan berat,” kata Sukarni petani lain asal Mentoro, Soko. Derita petani tembakau ternyata belum berujung. Jatuhnya harga di saat panen raya kemarin, masih berdampak serius di kalangan kaum pinggiran tersebut. Setidaknya menjelang menyambut datangnya hari lebaran nanti, mereka tak memiliki kesiapan uang untuk pesta kemenangan. (teguh budi utomo)

Read more...

Selasa, 09 Oktober 2007

TUBAN SEKILAS

TEMPO Interaktif, Tuban:Menjelang Lebaran, sedikitnya 16 titik rawan tindak kriminalitas, seperti pencurian dengan kekerasan (curas) dan bajing loncat di jalur pantai utara sepanjang 45 kilometer di Kabupaten Tuban. Pihak aparat keamanan membangun posko-posko di titik rawan itu, dengan menurunkan tim lapis dari pelbagai keahlian.Menurut Kepala Polres Tuban, Ajun Komisaris Besar Bambang Priyambada, kawasan titik rawan itu mulai dari Kecamatan Jenu, Tambak Jati hingga ke Peteng. Di kawasan tersebut rawan terjadi tindak kriminalitas, curas, curat seperti bajing loncat, hingga tempat pembuangan orang. "Daerah tersebut menjadi prioritas pengamanan di pantai utara antara Tuban dengan Kabupaten Rembang," tegasnya yang dihubungi Tempo, Kamis (4/10) pagi.Bambang mengatakan selama kurun waktu satu tahun ini setidaknya terjadi lima kasus kriminalitas di kawasan tersebut. Rata-rata kasusnya masuk kategori berat, seperti curas. Modusnya, biasanya para pelaku ini membawa kendaraan dan memburu pemilik kendaraan yang membawa barang-barang. Seperti truk yang dipreteli satu-persatu dengan cara menurunkan barangnya di tengah jalan atau yang disebut dengan bajing loncat. Modus lain, yaitu terang-terangan menyerang pengguna jalan, sepertisepeda motor dan sejenisnya.Apalagi, di beberapa ruas jalan di kawasan Jenu dan Tambak Jati, ada beberapa jalan yang rusak dan kini sedang dalam perbaikan. Pihak keamanan meminta agar sebelum Hari Raya perbaikan jalan di jalur Pantura ini bisa cepat selesai sehingga bisa melancarkan arus pemudik dari arah Semarang dan sebaliknya dari Surabaya.Untuk mengantisipasi tindak kejahatan itu, pihak Polres Tuban menurunkan sedikitnya 600 personel. Itu belum termasuk dari bantuan TNI AD, Dinas Perhubungan, Unit Gawat Darurat dari Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit serta dari Satuan Polisi Pamong Praja. Total yang turun lebih dari 1.200 personel yang nantinya akan menempati 16 posko yang dipusatkan di bekas terminallama Kota Tuban.Posko Simpati Lebaran 2007 ini, nantinya juga memberikan layanan seperti bantuan kesehatan, khususnya bagi pemudik yang menggunakan jalur Pantura, dan jalur tengah yang menghubungkan antara Tuban dengan Bojonegoro lewat Kecamatan Rengel dan Kecamatan Soko.Pihak Pemkab Tuban sendiri juga sudah menurunkan tim, yaitu Polisi Pamong Praja, Dinas Kesehatan dan Dinas Perhubungan yang nanti akan bergabung dengan Polres Tuban dan Kodim Tuban.Sujatmiko

Read more...

About This Blog

Cek Tagihan PLN

blog tutorial

Gabung Yuk...!

Test Form

Name:
Email Address:
Alamat Web
Berapa usia anda...? Dibawah 17 th
Antara 17 s/d 30th
Diatas 30 th
Apa jenis kelamin anda Pria
Wanita
Baina huma
Apa pendapat anda tentang blog ini..? Sangat kami harapkan, saran, kritik, maupun pendapat anda. silahkan ketik pada kolom disamping ini

free forms

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP