Senin, 30 Juli 2007

Tak Dijatah Raskin Bulan Juli

Karena Tuban Nunggak Rp 162 JutaTUBAN - Tunggakan beras operasi pasar khusus beras untuk keluarga miskin (OPK Raskin) lima bulan terakhir menembus Rp 162,729 juta. Persisnya, terhitung Februari hingga Juni 2007. Tunggakan yang berbuntut dihentikannya jatah OPK Raskin pada bulan berikutnya tersebut mendapat perhatian khusus Sekkab Tuban Parastuti. Dia pun tanpa segan mengabsen camat yang desanya memiliki tunggakan raskin itu. Tunggakan tertinggi ditempati enam kecamatan. Yakni, Bangilan Rp 42,4 juta, Bancar Rp 21,4 juta, Merakurak Rp 25 juta, Plumpang Rp 15,6 juta, Palang Rp 13,6 juta, dan Senori Rp 10,5 juta. Tunggakan terbesar berikutnya Kecamatan Kenduruan Rp 9,9 juta, Soko Rp 7,5 juta, Kerek Rp 5,1 juta, Jenu Rp 4 juta, Jatirogo Rp 3,2 juta, Bangilan Rp 1,9 juta, Tambakboyo Rp 1,2 juta, Semanding Rp 1,1 juta, dan Montong Rp 350 ribu. Sedangkan kecamatan yang dipastikan sudah tidak memiliki tunggakan hanya Tuban Kota, Widang, dan Rengel. Parastuti menegaskan, kalau pelaksanaan pemilihan kepala desa (Pilkades) dianggap menghambat penyaluran raskin, maka usai pelaksanaan pesta demokrasi di tingkat desa tersebut, camat harus memberesi pelunasan OPK Raskin. Apa penyebab macetnya pembayaran beras subsidi pemerintah tersebut? Parastuti menyatakan, salah satu penyebabnya karena beras OPK Raskin datang pada saat yang tidak tepat. "Beras yang datang tidak bisa langsung dibagikan karena warga penerimanya tidak tinggal di sekitar kantor desa. Karena itu butuh waktu," tandas dia yang tidak sepenuhnya sependapat dengan asumsi bahwa tunggakan tersebut karena uangnya dipakai perangkat desa. Desa, lanjut mantan Ketua Bappeda Tuban tersebut, belum bisa memberlakukan sistem cash and carry (langsung bayar di tempat) begitu beras datang. Sebab, kebanyakan warga belum mengumpulkan uang pembelian. (ds)

Read more...

Melacak Akar Kecurangan Pilkades di Tuban (1)--‘Panen‘ Uang di Pesta Demokrasi Akar Rumput

dutamasyarakat.com

Pilkades massal di Tuban telah usai dihelat. Ancaman konflik horisontal antarpendukung kandidat Kades masih lekat di tengah warga. Rekayasa demi kemenangan calon, menjadi pemantik tak murninya Pilkades.Termasuk beredarnya politik uang. Siapa yang diuntungkan?

BOLEH jadi secara umum Pilkades massal yang diprogram Pemkab Tuban telah usai. Pesta kaum pedesaaan di 287 dari 295 desa telah rampung dihelat. Gegap gempita warga desa pun, akrab mewarnai pelaksanaan demokrasi kerakyatan yang dibiayai Rp 1,5 miliar dari APBD Tuban 2007.
Tebaran duit untuk sekadar membeli dukungan masih kental di kalangan mereka. Termasuk juga campur tangan bandar judi turut menyertai perjalanan demokrasi di desa. Yang pasti beragam rekayasa tumplek blek terlihat di dalamnya. Semuanya dimanfaatkan untuk sebuah kemenangan dan meraih jabatan sakral yang dikultuskan sementara orang di desa.
Fenomena rekayasa dalam Pilkades, menurut aktivis Ansor Tuban, Fatchur Rozi, sudah terasa sejak pembentukan panitia Pilkades. Hampir setiap calon yang melek politik, bakal menyiapkan ‘orangnya’ bisa duduk di kepengurusan Panitia Pilkades. Teknis ini menjadi sentra bagi dimulainya sebuah rekayasa.
“Sesuai temuan sejak awal memang seperti itu. Pertimbangannya berawal dari panitia, sebuah rekayasa pelaksanaan Pilkades bisa dilakkan,” kata Rozi di satu kesempatan.
Kepalsuan itu memang terbukti. Panitia yang sudah terkontaminasi oleh kepentingan salah satu kandidat, menjadi tidak netral. Itu terasa di saat coblosan. Ditemukan di Desa Sumur Jalak, Kedungsoko (keduanya di Kecamatan Plumpang), Desa Tasikmadu (Palang) dan Desa Simo (Soko) terjadi praktik itu.
“Di Desa Kedungsoko, ada hak pilih mencoblos sampai tiga kali. Ini mestinya tidak terjadi kalau panitia fair dan tidak memihak salah satu calon,” kata Toni pemuda desa setempat.
Tak hanya itu, di Desa Tasikmadu helat Pilkades yang diikuti delapan calon, juga terjadi hal serupa. Panitia meloloskan pemegang hak pilih mencoblos lebih dari sekali.
Tragisnya di desa sentra penghasil buah belimbing madu ini, terjadi kelebihan sembilan suara. Dari 3.472 orang Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang menggunakan haknya menghadiri undangan sebanyak 2.792 orang. Sedangkan kartu suara yang dipakai untuk coblosan sebanyak 2.801, sehingga jika dikalkulasi terdapat kelebihan sembilan suara. Hitungannya 2.801 suara dikurangi pengguna hak pilih 2.792 orang.
“Ini kan membuktikan bahwa panitia membuat rekayasa, sehingga mencemari proses demokrasi,” kata sejumlah warga Desa Tasikmadu. Oleh karena itu, menurut warga, sudah sepantasnya dikaji ulang hasil Pilkades di Tasikmadu. (bersambung)

Read more...

Pemkab Tetap Sahkan Kades Simo

RADAR BOJONEGORO
Senin, 30 Juli 2007

Akan Dilantik 10 Agustus Mendatang
TUBAN - Anggota DPRD Tuban angkat bicara terkait polemik hasil Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Simo, Kecamatan Soko. Sekretaris Komisi A Agung Supriyanto menyatakan akan mempelajari bukti-bukti dugaan kecurangan yang dilaporkan warga.

Agung juga mendesak panitia pilkades dan camat Soko segera memfasilitasi persoalan-persoalan yang diprotes warga. "Bila ditemukan ada unsur pidana, kepolisian bakal mengambilalih persoalan ini," tandas politisi PAN itu.

Jum’at lalu ratusan pendukung Achmad Hadi, calon yang dikalahkan Tasmo, ngluruk ke DPRD Tuban. Mereka mengadukan dugaan ketidakberesan yang terjadi dalam Pilkades Simo. Antara lain dugaan money politics yang dilakukan tim sukses calon terpilih. Warga menuntut hasil pilkades dibatalkan. Warga juga menyegel balai desa, memajang carang (ranting bambu) di pagar kantor desa itu, dan memasang beberapa poster yang berisi hujatan kepada panitia pilkades.

Namun, sikap DPRD berbeda dengan pemkab. Kabag Pemerintahan A. Mufid Budiono menyatakan, meski sebagian warga memprotes, calon terpilih tetap dilantik 10 Agustus nanti karena sudah ada penetapan dari panitia. "Kalau ada yang kurang puas dengan hasil (pilkades), ya silahkan. Tapi yang jelas jadwal (pelantikannya) tetap," tandasnya.

Sementara itu, 7 desa di 5 kecamatan yang ada di Tuban kemarin menggelar pilkades tahap II. Tujuh desa itu, Banjar (Kecamatan Widang); Nguluhan (Montong); Mojomalang (Parengan); Tambakboyo (Tambakboyo); serta Tengger, Padasan, dan Kasiman (Kerek).

Mufid menambahkan, bila ditambah dengan pilkades tahap I (268 desa), hingga kemarin telah 277 desa menggelar pesta demokrasi tingkat desa tersebut. Kini, tinggal 6 desa yang belum menggelar pilkades. Yakni, Glagahsari (Soko), Siding (Bancar), Prunggahan Wetan, Prunggahan Kulon (Semanding), Sumberarum, dan Kedungrejo (Kerek). Pilkades enam desa itu dijadwalkan 5 Agustus nanti. Sedangkan satu desa lainnya, Kedungharjo (Widang), belum bisa melaksanakan pilkades karena masih bermasalah.

Sementara itu, Pemkab Blora hanya memberikan waktu sehari kepada setiap calon Kades untuk menggelar kampanye. Sesuai jadwal yang disusun pemkab, kampanye berlangsung 4 September atau sehari sebelum pilkades yang rencananya digelar serentak 5 September di 246 desa. "Bagaimana format kampanyenya, kami serahkan kepada panitia pilkades untuk mengaturnya," kata Kabag Pemdes Pemkab Blora Winarno. (wid/ono)

Read more...

Jumat, 13 Juli 2007

KLOTER 73, SATU JAMAAH DIAMPUTASI TELAPAK KAKI KIRINYA

Kasto Bin Kasmijan (58), jamaah haji dari kelompok terbang (kloter) 73 asal Kendalrejo Rt 01/Rw 02 Soko Tuban, pulang ke tanah air tanpa telapak kaki kiri , karena harus diamputasi setelah menjalani rawat inap di Rumah Sakit Ashir King Abdul Aziz Madina.
Menurut dokter kloter 73, dr Indraswari saat ditemui di Poliklinik Asrama Haji Sukolilo (AHS) Surabaya, Selasa (30/1) mengatakan, sejak di Tanah Air, Kasto mempunyai penyakit diabet, dan setelah tiba di Tanah Suci, karena mereka banyak melakukan kegiatan dengan jalan kaki, ini menyebabkan telapak kaki kirinya luka, kemudian membesar, lalu mengeluarkan bau tak sedap (membusuk), setelah menjalani pemeriksaan dan sempat rawat inap, dokter di RS Ashir King Abdul Aziz Madina memutuskan harus diamputasi.Setelah beberapa kali dirawat dokter kloter tidak juga membaik, akhirnya dengan kesepakatan keluarga, Kasto dirujuk ke RS Ashir King Abdul Aziz, dan dokter di RS Madina itu memutuskan telapak kaki kiri Kasto harus diamputasi,ujarnya.Dikatakan Indraswari, setelah menjalani pemotongan telapak kaki kirinya pada 20 Januari 2007 lalu, Kasto tinggal sementara di RS Ashir King Abdul Aziz selama 5 hari, selanjutnya diterbangkan ke tanah air bersama rombongan kloter 73. Mengenai biaya perawatan, Humas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) debarkasi Surabaya, Sugianto mengatakan, semua biaya perawatan dan operasi ditanggung sepenuhnya oleh PPIH Madinah.Sementara itu, saat ditemui di ruang istirahat Poliklinik Asrama haji, Kasto tampak sedikit lega tiba di tanah air dan bisa ketemu keluarga, meskipun sedikit sedih karena kehilangan kaki kirinya.Saya merasakan pelayanan kesehatan PPIH di Madinah sangat baik dan cepat, bahkan tindakan yang diambil juga sangat tepat. Seandainya tidak segera mengambil keputusan operasi pemotongan kaki kiri saya, maka kondisi saya makin mengkhawatirkan. Bahkan kemungkin saya tidak bisa pulang bersama kloter 73, ujar Kasto.Dia berharap, pelayanan yang diberikan RS Ashir King Abdul Aziz Madina bisa dicontoh di RS Indonesia, mengenai kecepatan dalam pengambilan tindakan.Untuk diketahui, kloter 73 berjumlah 445 jamaah, meninggal 5 jamaah, mutasi masuk 2 jamaah, dan sakit 7 jamaah. Nama-nama jamaah yang meninggal yaitu, M.Mahdun Bin Mat Sujak (42), Dusun Taraan RT 05 RW 01 Tegalrejo Merakurak Tuban, Karsini Binit Madak (71), Dusun Nyaman RT.03 RW.04 Perbon Tuban, M.Yakub Efandi Bin Efendi (60), Jl. Gresik 393 RT 03 RW 03 Glodok Palang Tuban, Suhadi Bin Badrun (68), Dusun Glondongan RT 03 RW 01 Tambakboyo Tuban, Misrih Binti Kadam (65), Gendongombo Rt 03 Rw 02 Semanding Tuban, Sedangkan 2 jamaah mutasi masuk dari Nusa Tenggara Barat (NTB) yaitu, Abu Bakar Alwi dan Yasin Yakib.

Read more...

Sabtu, 07 Juli 2007

Sabtu, 07 Juli 2007

RADAR BOJONEGORO

Sabtu, 23 Juni 2007 Siswa Tak Lulus 262 Anak

TUBAN - Pelajar SLTP di Tuban yang tahun ini tidak lulus ujian nasional (unas) 262 anak atau sekitar 1,85 persen dari total peserta unas SLTP di Kota Tuak itu.
Data dari dinas pendidikan setempat menyebutkan, peserta unas SMP/MTs 14.138 siswa. Dari jumlah tersebut, yang lulus 13.
876 siswa atau 98,15 persen.
Sedangkan 262 siswa yang tak lulus, yakni, 84 siswa SMP negeri, 34 anak SMP swasta, 74 siswa SMP Terbuka, 20 siswa MTs negeri, 50 siswa MTs swasta.
Khusus kelompok SMP, sekolah yang siswanya terbanyak tak lulus adalah SMPN 1 Kerek, yakni 14 anak.
Berikutnya, disusul SMP Islam 45 Tambakboyo (12 anak), SMPN 2 Plumpang (11 anak), SMP Islam Jenu (7 anak), SMPN 2 Soko (7 anak), dan SMP PGRI 3 Tuban (7 anak).
Selain itu, ada lima sekolah yang masing-masing 5 siswanya tak lulus unas.
Yakni, SMPN 2 Tuban, SMPN 4 Tuban, SMPN 1 Semanding, SMPN Merakurak, SMPN 2 Rengel, dan SMP Islam Bangilan.
"Mereka masih diberi kesempatan mengikuti ujian nasional kesetaraan," kata Kadinas Pendidikan Tuban Karmani kepada wartawan koran ini kemarin.
Ujian kesetaraan atau paket B tersebut bakal diselenggarakan pada 26-28 Juni mendatang.
Sementara itu, SMPN 1 Tuban dipastikan gagal mempertahankan posisinya sebagai peraih rata-rata NUN tertinggi se-Jatim.
Posisinya diambil alih SMPN 1 Lamongan dengan nilai rata-rata 28,26.
SMPN 1 Tuban kini melorot ke peringkat 5 dengan nilai rata-rata 27,71.
"Iya, tahun ini kami peringkat lima," kata kepala SMPN 1 Tuban Bedjo Mulyono.
Sementara itu, Dinas Pendidikan Tuban kemarin membagikan ijazah SMA ke masing-masing sekolah.
"Hari ini (kemarin, Red) resmi kami bagikan ke sekolah," kata Kasubdin SLTP/SLTA Dinas Pendidikan Tuban Sutrisno. (wid)

Read more...

SOKO TUBAN
Sabtu, 07 Juli 2007


RADAR BOJONEGORO
Selasa, 03 Juli 2007

Buron Polresta Surabaya Utara Didor

TUBAN - Kumaidi, 35, buron Polresta Surabaya Utara dalam kasus penipuan dan penggelapan, Minggu petang lalu didor anggota Resintel Polsek Soko.
Sebelum ditangkap, tersangka sempat melarikan tiga motor warga kecamatan setempat. Versi petugas, timah panas tersebut terpaksa disarangkan pada betis kanan tersangka.
Alasannya, tersangka berusaha kabur menuju sawah saat petugas menggerebek rumahnya di Desa Jegulo, kecamatan setempat.
Di rumah tersebut, polisi menyita 3 buah STNK.
Kapolres Tuban AKBP Bambang Priyambadha melalui Kapolsek Soko AKP Ahmad Kusrin menyatakan, penyergapan terhadap tersangka itu sebenarnya bukan kali pertama.
Sebelumnya, upaya yang sama beberapa kali dilakukan.
Namun, Kumaidi yang merasa jadi incaran petugas berhasil melarikan diri.
Kusrin menjelaskan, selama diburu Polresta Surabaya Utara dalam sejumlah kasus penipuan/penggelapan, tersangka melarikan tiga motor milik warga di wilayah hukumnya.
Motor pertama yang dilarikan tersangka adalah milik Sukur Subagio, warga Desa Klumpit, pada 13 Desember 2006.
Motor lainnya, milik Kasdari, warga Desa Segulo, pada 27 Januari lalu dan motor Hartik dengan TKP di Pasar Sukosari pada 31 Januari lalu.
"Jumlah motor yang dilarikan bisa jadi lebih banyak karena tidak semua korban melapor," ujar Kusrin.Mantan perwira staf Polwil Bojonegoro tersebut menambahkan, modus operasi tersangka hampir sama.
Dia berdalih pinjam motor orang yang dikenalnya untuk sebuah keperluan.
Setelah motor berhasil dibawa, kendaraan itu dilarikan untuk dijual ke penadah di Kamal, Madura.
Motor-motor hasil kejahatan itu dijual tersangka dengan harga Rp 1 juta hingga 1,5 juta. Menurut Kusrin, setelah disidik anggotanya, tidak tertutup kemungkinan tersangka diseret ke Polresta Surabaya Utara.
Sebab, tersangka juga melakukan tindak pidana di wilayah hukum tersebut. (ds)

http://www.jawapos.com/

Read more...

Minggu, 01 Juli 2007

Terhimpit Masalah Ekonomi Suami Istri Bunuh Diri Bersama

Soko Tuban - Tak kuat menahan himpitan persoalan ekonomi yang dideritanya, pasangan suami istri yang baru nikah 3 bulan warga Desa Klumpit Kabupaten Tuban, Jawa Timur nekad mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri bersama. Sang suami mengergaji kepala istrinya sampai tewas. Sementara sang suami membenturkan kepala ke tembok, beruntung dia selamat.
Hanya karena tak kuat terhimpit sulitnya mencukupi kebutuhan ekonomi pasangan suami istri warga Desa Klumpit, Kecamatan Suko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Rabu (20/06/07) kemarin, nekad mencoba mengakhiri hidupnya. Sang suami Jumintro (30), yang tiap hari hanyalah sebagai buruh tani nekad memukul istrinya Lasmi (25), dengan sebuah gergaji di leher bagian belakang. Kemudian membenturkannya ke tembok dinding rumahnya, hingga si istri akhirnya tewas.
Usai memukul istrinya hingga tewas, sang suami akhirnya berniat juga mengakhiri hidupnya dengan membenturkan kepalanya ke tembok rumah hingga terluka parah dibagian kepala. Namun perbuatan nekad sang suami dipergoki mertuanya sendiri. Melihat anak perempuannya tewas bersimbah darah serta menantunya terluka parah dibagian belakang, lelaki ini berteriak minta tolong.
Menurut Matrais, seharian anak menantunya tidak keluar rumah. Jumintro sendiri gagal bunuh diri dan harus melakukan perawatan karena menderita luka yang cukup serius di kepalanya akibat dibenturkan ke tembok.
Didepan petugas, Jumintro nekad melakukan perbuatan ini karena merasa putus asa tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Kemudian sepakat mengajak istrinya bunuh diri dengan terlebih dulu mengakhiri hidup istrinya.
Petugas dari Polres Tuban langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara. Setelah selesai mengambil sidik jari Lasmi, jenazahnya langsung dilarikan ke RSU Dokter Kusma Tuban guna dilakukan otopsi. Kini polisi melakukan penjagaan ketat terhadap Jumintro dan nantinya akan dilakukan pemeriksaan intensif terkait motif apa yang membuat mereka nekad bunuh diri. (Tim Liputan/Sup)
Sumber: http://news.indosiar.com/news_read.htm?id=62308
© Copyright 2005 PT. INDOSIAR VISUAL MANDIRIwww.indosiar.com
window.print()

Read more...

About This Blog

Cek Tagihan PLN

blog tutorial

Gabung Yuk...!

Test Form

Name:
Email Address:
Alamat Web
Berapa usia anda...? Dibawah 17 th
Antara 17 s/d 30th
Diatas 30 th
Apa jenis kelamin anda Pria
Wanita
Baina huma
Apa pendapat anda tentang blog ini..? Sangat kami harapkan, saran, kritik, maupun pendapat anda. silahkan ketik pada kolom disamping ini

free forms

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP