Kamis, 31 Desember 2009

DPC Barnas Akui Belum Terima Surat dari DPP Terkait Penganuliran Pemecatan Sidik Wiyanto

Soko Tuban
TUBAN - DPC Barnas Tuban belum mengambil langkah terkait penganuliran pemecatan Sidik Wiyanto dari kepengurusan partainnya. Sebab, secara resmi DPC Partai Barnas belum menerima surat dari DPP terkait penganuliran tersebut.

''Sampai sekarang DPC belum tahu persoalan itu, sebab belum menerima surat dari DPP. Redaksinya juga belum tahu,'' kata ketua DPC Barnas Tuban Endrik ketika dikonfirmasi kemarin. Sehingga, lanjut dia, sampai saat ini pihaknya belum mengambil langkah terkait masalah ini. Lantas?. Dikatakan anggota FPG bersatu DPRD Tuban ini, semua yang telah dilakukan itu sudah sesuai dengan prosedur yang ada atau sudah sesuai dengan AD/ART partai Barnas. ''AD/ART pasal 13 disebutkan, semua permasalahan yang ada di tingkat kabupaten/kota kewenangan DPC,'' tegas Endrik.

Bagaimana jika memang surat penganuliran dari DPP turun? ''Kalau toh dianulir, harus ada prosesnya. Yakni melalaui DPP dan juga DPD baru ke DPC,'' imbuh politisi asal Soko tersebut. ''Setelah itu baru kita proses. Misalnya klarifikasi,'' tambahnya.

Diberitakan, perjuangan Sidik Wiyanto terkait pemecatan dirinya sebagai pengurus dan anggota Partai Barisan Nasional (Barnas) Tuban akhirnya direspon DPP Barnas. Selasa (28/12) lalu, pengurus pusat mengeluarkan surat keputusan (SK) pembatalan surat pemecatan bernomor 010/SKI/DPP-P.BARNAS/XII/2009. Yang berisi pembatalan keputusan DPP Nomor 002/SKI/DPP-P.BARNAS/V/2009 tertanggal 14 Mei 2009 terkait pemecatan Sidik. SK tersebut ditandatangani Pjs Sekjen DPP Barnas, Muhammad Arfan dan wakil ketua umum Vance Rumangkang.

Dalam pileg lalu, Sidik yang mengantongi 1.789 suara terpaksa terpental dari kursi dewan. Ini menyusul keluarnya surat pemberhentian dari DPP Barnas. Atas dasar surat pemecatan tersebut, KPUK Tuban mencoret Sidik sebagai calon tetap. Dia diganti Endrik, ketua partainya yang memperoleh suara terbanyak kedua, yakni 1337 suara. (zak)a sumber : Radar Bojonegoro

Read more...

Senin, 30 November 2009

Rp 900 Miliar untuk Madrasah dan Pesantren

Soko Tuban 
TUBAN - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur tidak tanggung-tanggung dalam mengucurkan dana untuk mengembangkan dunia madrasah dan pesantren. Buktinya, pada 2010 mendatang Dinas P dan K Jatim menyiapkan anggaran Rp 900 miliar lebih.

Demikian disampaikan Sekretaris Dinas P dan K Jatim Ratna saat memberi sambutan dalam seminar internasional di Asrama Haji, Jalan Mastrip, Tuban kemarin (29/11).

"Anggaran sebanyak ini diperuntukkan antara lain, pembangunan madrasah diniyah, paket A, B, dan C, para santri, siswa kurang mampu, dan guru madrasah swasta," kata Ratna. Hal itu, lanjut dia, dimaksudkan sebagai bentuk perhatian pemerintah, sekaligus untuk membantu beban mereka yang kurang mampu.

Dia menambahkan, pada 2010 nanti pihaknya juga merencanakan membangun lima sekolah menengah kejuruan (SMK) bertaraf internasional. Namun, Ratna tidak menyebut secara detail dimana saja lima sekolah tersebut bakal dibangun. "Yang dapat kami sampaikan hanya program Dinas P dan K Jatim," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Bakorwil II Bojonegoro Setijadjit, dalam sambutan membuka seminar mengatakan, pendidik merupakan sosok yang vital dan penting. "Hal ini digambarkan dalam lagu Indonesia raya. Yakni bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia raya," tegasnya. (zak)    Radar Bojonegoro

Read more...

Janji Pekan Depan Direalisasikan Distribusi Kompor Gas dan Tabung Elpiji 3 Kg

Soko Tuban
TUBAN - Minimnya pasokan menjadi salah satu kendala yang dihadapi Pertamina Surabaya untuk mendistribusikan kompor gas dan tabung elpiji pada program konversi (peralihan) minyak tanah (mitan) di Kabupaten Tuban. Akibatnya, konsultan Pertamina di wilayah Bumi Ronggolawe kebingungan. Padahal, warga setempat sudah mempertanyakan kelanjutan program pemerintah ini.

Manajer Operasional PT Wahana Adya, Agus Meutiartono mengatakan, pihaknya sudah mengajukan ke Depo Pertamina agar tabung dan kompor gas secepatnya didistribusikan ke Tuban. "Dan sudah ada jawaban, pihak Pertamina siap," ungkapnya kemarin (28/11).

Namun, lanjut Agus, dalam surat jawaban itu tidak dijelaskan jadwal pendistribusian di Tuban. Sebab, jatah untuk penerima konversi mitan dari warga Kabupaten Tuban masih menunggu antrean lagi. "Mungkin minggu depan mas,'' janjinya.

Agus mengaku tak bisa berbuat banyak dengan molornya pendistribusian tabung elpiji dan kompor dari Pertamina. Sebab, semua yang mendistribusikan barang ke Tuban adalah tanggung jawab dan wewenang Pertamina. "Tidak dari konsultan. Karena itu, konsultan hanya bisa menggantungkan pihak Pertamina," terangnya.

Diberitakan sebelumnya, kuota konversi mitan untuk Kabupaten Tuban sebanyak 292 ribu kepala keluarga (KK). Namun, setelah dilakukan pendataan, jumlah penerimanya membengkak menjadi 321.804 KK. Dari jumlah itu, yang sudah menerima kompor gas dan tabung elpiji ada 297.923 KK atau 93 persen. Mereka tersebar di 20 kecamatan.

Sementara 23.881 KK lainnya belum menerima, masih menunggu Pertamina. Jumlah warga yang belum menerima ini terdapat di Kecamatan Tuban dan Soko. Di Kecamatan Tuban, dari 10.626 KK yang seharusnya menerima, baru 2.266 KK yang sudah mendapatkan kompor gas dan tabung elpiji 3 kg. Sedangkan di Kecamatan Soko, dari calon penerima 26.893 KK, baru 11.372 KK yang mendapatkan. (zak)Radar Bojonegoro

Read more...

Jumat, 27 November 2009

Malam Takbiran Mabuk-mabukkan, Pagi Dihantam KA

Soko Tuban 
SURABAYA – Kecelakaan terjadi di dekat perlintasan kereta api Margomulyo, Jumat (27/11) dini hari. Seorang pejalan kaki tewas tertabrak kereta barang. Kepala, pinggul dan kakinya hancur.
Dari identitas KTP yang ditemukan di dompetnya, korban diketahui bernama Sukajat, 31 warga Dusun Soko RT 09/RW 02, Desa Sokosari, Kecamatan Soko, Tuban.
Menurut Kasbun, warga sekitar, peristiwa tersebut berawal ketika korban turun dari angkot. “Dia turun dari angkot bersama temannya. Setelah itu, dia berjalan kaki ke arah barat,” kata pria berusia 30 tahun ini.
Tak ada yang tahu korban hendak kemana. Pastinya jalannya sempoyongan dan diduga kuat dalam keadaan mabuk berat. “Sepertinya mabuk, Mas. Lha wong setelah jalan, dia tiba-tiba saja duduk-duduk di tengah rel dengan kepala tertunduk,” tutur Kasbun.
Tak lama, kereta api barang melintas dari stasiun Pasar Turi ke arah barat. Warga sekitar yang melihat ada kereta akan melintas langsung meneriaki korban. Tapi korban tetap duduk di tengah rel.
“Banyak yang neriaki dia kalau ada kereta. Tapi dia tetap saja diam. Mungkin ya itu tadi dia lagi mabuk berat. Jadi teriakan orang gak didengar,” katanya.
Akibatnya bisa ditebak. Tubuh Sukajat tertabrak kereta yang melaju dengan kecepatan tinggi.
“Kerasnya tabrakan membuat tubuh korban terseret hingga 50 meter dari lokasi. Kepala, pinggul dan kakinya hancur,” ujar Wakapolsek Tandes Iptu Kamilan.
Dari TKP, petugas menemukan dompet korban yang berisi KTP dan uang Rp 1.500 dan sandal jepit warna hijau. Selanjutnya mayat Sukajat dievakuasi ke ruang jenazah RSU Dr Soetomo untuk diotopsi. Sementara Kasbun diperiksa sebagai saksi di Polsek Tandes. (nurqomar)(Pos Kota)

Read more...

Selasa, 17 November 2009

Pelaku Perkosaan Pelajar SD Ditangkap

Soko Tuban
TUBAN - Begitu korban mengaku diperkosa, kurang dari 24 jam pelaku perkosaan Melati, 9 (bukan nama sebenarnya), pelajar kelas tiga salah satu SDN di Rengel kemarin (16/11) ditangkap.

Dia adalah AA, 15, warga Desa Pekuwon, Kecamatan Rengel. Sebagai barang bukti, polisi mengamankan dua kain warna hijau muda yang dipakai tersangka menutup wajahnya dan wajah korban. Juga, pakaian yang dikenakan tersangka, kaos biru dan celana jeans, serta sebuah VCD porno. Barang bukti yang disebut terakhir adalah pemicu birahi tersangka.

Terungkapnya kasus yang menghebohkan ini berkat kerja keras Unit Opsnal I Satreskrim Polres Tuban dan Polsek Rengel. Begitu Minggu (15/11) sore korban yang mengalami pendarahan pada pangkal pahanya mengaku diperkosa, Polsek Rengel langsung mencari petunjuk di sekitar sekolah tersangka. Dari penyelidikan tersebut terungkap ada empat pemuda tanggung yang nongkrong di depan sekolah setempat sesaat sebelum kejadian. Empat pemuda ini kemudian diamankan di Mapolsek setempat. Untuk mendalami penyelidikan, malam itu juga keempat pemuda tersebut dibawa Unit Opsnal I ke Mapolres Tuban. Unit yang dikomando Bripka Mugianto inilah yang menginterogasi para pemuda tersebut. Setelah diperiksa hingga dini hari, akhirnya menjelang subuh AA, salah satu dari empat pemuda tersebut mengakui semua perbuatannya.

Kepada wartawan koran ini, dia mengaku memerkosa Melati karena terangsang dengan VCD film porno yang ditonton di rumah Juri, temannya pada Kamis. Sejak nonton VCD tersebut, pemuda lulusan salah satu MTs di Pekuwon tersebut terus teringat-ingat. Dalam kasus perkosaan tersebut, AA membantah merencanakan. Jumat itu, dia nongkrong di depan sekolah korban bersama empat temannya. Begitu melihat korban menuntun sepedanya yang rantai lepas, dia kemudian membantu. Karena tidak ada alat untuk membetulkan rantai sepeda tersebut, tersangka sempat pulang ke rumahnya yang hanya berjarak sekitar 30 meter (m). Keperluannya, untuk mengambil obeng dan tang. Dua alat inilah yang dipakai pemuda ini untuk membetulkan sepeda korban.

Saat membetulkan sepeda tersebut, lengan tersangka bersentuhan dengan lengan Melati. Itulah yang membuat hasrat laki-lakinya langsung naik. Usai membetulkan sepeda, sambil membekap mulut korban, tersangka menyeretnya di belakang balai desa. Di tempat inilah korban diperkosa. Sebelum diperkosa, tersangka lebih dulu menutup wajahnya dengan kain hijau muda yang dibawanya. Setelah itu, ganti wajah korban yang ditutup dengan kain lain dengan warna yang sama. Setelah diperkosa, korban dilepas pulang.

Kasus ini terungkap saat Sabtu dini hari, pangkal paha korban mengalami pendarahan. Namun, saat itu, kepada kedua orang tuanya, Melati mengaku penyebab keluarnya darah tersebut akibat jatuh dari sepeda. Dia sama sekali tidak membuka kasus perkosaan yang menimpanya.

Karena darah terus mengucur, korban kemudian dibawa ke Puskesmas Rengel. Di puskesmas inilah, dokter setempat merujuk Melati ke salah satu rumah sakit di Tuban. Di rumah sakit, korban pun masih bertahan dengan keterangan awal bahwa pendarahan tersebut akibat terjatuh dari sepeda. Dokter yang curiga kemudian memeriksa. Dari sinilah diketahui kalau pendarahan tersebut akibat terkena benda tumpul. Berbekal diagnosa dokter, orang tuanya kemudian merayu korban untuk menanyakan kejadian sesungguhnya yang dialami. Dia pun akhirnya mengakui perkosaan yang dialami.

Kasatreskrim Polres Tuban Iptu Budi Santoso mengatakan, dari hasil pemeriksaan sementara, tersangka AA memerkosa korban seorang diri dan tidak dibantu temannya. ''Ini baru petunjuk awal. Tidak tertutup kemungkinan ada orang lain yang membantu,'' kata dia. (ds)Radar Bojonegoro

Read more...

Anggota Dewan Dikado Kartu Remi

Soko Tuban
TUBAN - Belasan mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Peduli Reformasi (AMPR) Tuban kemarin (16/11) menggelar aksi di Kejaksaan Negeri (Kejari) dan DPRD setempat.

Mereka menuntut kasus-kasus korupsi yang ada di Bumi Ronggolawe segera dituntaskan. Selain itu, menuntut agar pimpinan DPRD dan alat kelengkapan dewan segera terbentuk.

Mahasiswa gabungan dari PMII, HMI, KAHMI dan IMM itu memulai aksi sekitar pukul 10.00. Mereka bergerak dari Jalan Sunan Bonang atau depan Masjid Agung Tuban. Dengan membentangkan bendera organisasinya masing-masing, para aktivis itu menuju kantor Kejari di Jalan RA Kartini.

Mereka terus meneriakkan yel-yel dan bergantian melakukan orasi. Para pengunjuk rasa juga membawa sejumlah poster. Setelah berorasi, lima perwakilan mahasiswa dipertemukan dengan Kasi Intel M. Chozin dan Kasi Pidsus Agus Budiarto. ''Kami mempertanyakan proses hukum kasus korupsi pakaian sipil harian (PSH) yang sampai saat ini hanya bolak-balik dari Kejari ke Polres. Ini kenapa?,'' tanya Kartono, salah satu perwakilan mahasiswa dihadapan dua pejabat kejaksaan tersebut.

Kasi Pidsus Agus Budiarto mengatakan, sampai saat ini penanganan kasus PSH masih terus diproses. Sebab, jaksa penuntut umum (JPU) masih menemukan adanya berkas yang belum lengkap. ''Masih ada syarat materiil yang belum dipenuhi,'' kata dia.

Namun, Kasi Pidsus tidak menyebutkan secara detail syarat materiil yang belum lengkap tersebut. ''Kami tetap komitmen, supaya hal ini bisa berjalan maksimal,'' tambahnya.

Dalam pertemuan itu sempat terjadi ketegangan. Kartono yang tidak puas dengan jawaban dari Kejari memilih keluar ruangan tanpa ada koordinasi terlebih dahulu.

Setelah dari kejaksaan, para pengunjuk rasa melakukan longmarch ke gedung DPRD Tuban. Sesampainya di bundaran patung-depan DPRD Tuban-mereka menggelar orasi menuntut agar DPRD setempat segera bekerja. ''Potong gajinya, karena anggota dewan sampai saat ini belum bekerja,'' teriak para pengunjuk rasa.

Aksi saling dorong dengan petugas terjadi ketika mahasiswa merangsek masuk ke gedung dewan. Namun, itu tidak berlangsung lama. Sekitar 15 menit para mahasiswa berorasi, namun tak satupun anggota dewan yang menemui mereka. Padahal, saat itu sejumlah anggota dewan masih ngantor. Seperti sebagian anggota dewan dari FKB, FPP, F-Gerindra, FPDIP, dan FAB. Para wakil rakyat ini memilih berdiam didalam ruangan dan mengintip dari jendela ruang kantornya.

Beberapa saat kemudian, anggota FKB Muhyidin menemui para aktivis. Terkait belum terbentuknya pimpinan definitif, politisi asal Plumpang ini meminta para mahasiswa untuk menanyakan langsung ke FPG Bersatu. Sebab, pihaknya sudah semaksimal mungkin mengusulkan kepada pimpinan sementara agar pimpinan DPRD dan alat kelengkapan segera terbentuk. ''Anggota dewan dari FPG memang tadi pagi ada di kantor. Mengapa mereka pada lari semua saat ada demo. Dan ini semua karena PG yang belum menyerahkan nama calon,'' tegas Muhyidin dengan nada tinggi.

Belum puas dengan jawaban tersebut, para mahasiswa memberi kado kepada anggota dewan dengan kartu remi dan sejumlah uang recehan. Ini sebagai bentuk belum bisa bekerjanya anggota dewan, Namun, kado tersebut ditolak oleh Muhyidin. ''Ya saya tolak,'' kata dia. Akibatnya, kartu remi tersebut berserakan dilantai depan kantor DPRD setempat.

Hendratonik, koordinator aksi mengatakan, kado kartu remi ini sebagai ungkapan kekecewaan masyarakat terhadap wakil rakyat yang selama ini belum bisa bekerja untuk rakyat. (zak)Radar Bojonegoro

Read more...

Dilarang Jual Tanah, Istri Dipukul Cangkul

Soko Tuban 
GRABAGAN - Masalah tanah bisa menimbulkan pertikaian keluarga. Seperti yang dialami Murwati, 55, warga RT 05/II Desa Waleran, Kecamatan Grabagan. Gara-gara melarang suaminya Lasimin, 60, menjual tanah, dia kemarin (16/11) dianiaya.

Murwati dipukul suaminya menggunakan doran (kayu pegangan cangkul). Akibat penganiayaan tersebut, dahi korban luka terbuka. Korban yang mengalami pendarahan serius mendapat perawatan di Puskesmas Grabagan.

Lasimin kepada wartawan koran ini berharap uang hasil jual tanah bisa dipakai mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Namun, istrinya menentang. Dia bersikukuh mempertahankan tanah tersebut.

Murwati ingin tanah itu nantinya bisa diberikan kepada dua anak hasil perkawinan keduanya. Sebelum menikahi Murwati, Lasimin menikah dengan tiga perempuan lain dan dikaruniai satu anak. Tiga istrinya tersebut sudah dicerai. ''Karena jengkel, dia saya pukul doran,'' kata tersangka.

Pukulan pertama yang dilayangkan Lasimin meleset. Pada pukulan kedua, doran tersebut persis mengenai dahi korban. Kasatreskrim Polres Tuban Iptu Budi Santoso mengatakan, tersangka yang kini ditahan dijerat dengan pasal 351 KUHP. (ds) Radar Bojonegoro

Read more...

Senin, 16 November 2009

Gara-gara Sepeda Rusak, Bocah 9 Tahun di Tuban Diperkosa

Soko Tuban
Rengel - Gadis kecil berusia 9 tahun sebut saja Fatimah menjadi korban perkosaan. Peristiwa itu terjadi saat korban yang masih kelas IV SD ini pulang sekolah.

Anak malang dari Desa Pekuwon, Kecamatan Rengel, Tuban kini berada di rumah sakit menjalani perawatan intensif karena mengalami pendarahan serius akibat peristiwa itu.

Tragedi memilukan itu terjadi dua hari lalu, ketika itu korban pulang dari sekolah menggunakan sepeda. Tiba-tiba rantai sepedanya lepas. Mencoba memperbaiki sepedanya datang seseorang lelaki yang tidak dikenalnya memberikan bantuan

Namun bantuan itu harus dibayar sangat mahal Fatimah. Setelah sepeda diperbaiki, korban dibawa ke belakang sekolah oleh pelaku, Fatimah diperkosa. Usai melampiaskan nafsunya, pelaku pergi begitu saja meninggalkan korban.

Setelah itu, korban pulang dengan terus menahan sakit di kemaluannya. Sore harinya badan Fatimah panas. Sakit itu berlanjut hingga malam hari bahkan mengalami pendarahan dan terpaksa dilarikan ke Puskesmas Rengel.

Orangtuanya sama sekali tidak tahu tentang apa yang terjadi karena Fatimah mengaku terjatuh dari sepeda. Bahkan ketika dibawa ke RSUD Tuban, Fatimah tidak mau bercerita.

Ketika didesak, gadis bau kencur itu baru bercerita kejadian yang menimpanya. Mendengar kisah sang anak, orangtua korban yang merasa tidak terima, langsung melaporkan peristiwa itu ke Polres Tuban.

Ketika ditanya siapa lelaki yang telah menggagahinya, Fatimah mengaku tidak kenal. "Saya tidak kenal. Orang saat itu memakai baju putih," tuturnya di RSUD Dr R Koesma Tuban, di Jalan Wahidin Sudiro Husodo, Minggu (15/11/2009).

Sementara itu pihak polisi langsung bergerak untuk menyelidiki kasus itu. Kasus perkosaan itu ditangani oleh Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Sat Reskrim Polres Tuban.

"Kita sudah menerima laporan dan masih melakukan pendalaman atas perkara ini," Kasat Reskrim Polres Tuban, Iptu Budi Santoso. (wln/wln) TB Utama - detikSurabaya

Read more...

Minggu, 15 November 2009

Gelapkan Motor, Nasabah Adira Ditahan

Soko Tuban
SOKO-Peringatan bagi konsumen kredit motor yang main-main dengan leasing atau perusahaan pembiayaan. Samudi, 46, konsumen Adira Finance Bojonegoro kemarin (14/11) ditangkap Unit I Satreskrim Polres Tuban. Tuduhannya, menggadaikan motor Suzuki New Smash yang dikreditnya dari perusahaan pembiayaan tersebut.

Warga Desa Mentoso, Kecamatan Soko yang kini dijebloskan ke tahanan tersebut dijerat pasal 372 KUHP. Sangkaannya dengan maksud memiliki menggelapkan suatu barang sebagian atau seluruhnya milik orang lain. Samudi kredit New Smash pada Maret 2008 lalu dengan uang muka Rp 1 juta. Dalam akad kredit, disepakati pembayaran motor 36 kali dengan angsuran Rp 485 ribu per bulan. Pada bulan-bulan pertama, Samudi lancar membayar angsuran. Namun, sepuluh bukan terakhir, pembayaran kreditnya macet alias tidak dibayar.

Upaya leasing untuk menarik motor kreditnya nopol S 3695 GA tak membuahkan hasil karena motor tersebut sudah dipindahtangankan atau digadaikan kepada orang lain. Tidak jelas siapa yang menerima gadai motor tersebut. Kepada petugas, tersangka juga tidak menyebutkan.

Kasatreskrim Polres Tuban Iptu Budi Santoso mengatakan, dari alat bukti yang dikumpulkan penyidik, perbuatan tersangka memenuhi unsur tindak pidana penipuan. ''Atas pertimbangan subjektif dan objektif, tersangka kami tahan,'' kata dia. (ds)  Radar Bojonegoro

Read more...

Sabtu, 14 November 2009

Jaksa Meminta Polisi Merubah Pasal

Soko Tuban
TUBAN - Kejaksaan memberi petunjuk penyidik Unit III Satreskrim Polres Tuban terkait pasal yang diterapkan untuk menjerat Thakwin Ariyanto, 12, pelajar MTs Negeri Rengel. Dia adalah tersangka pembakaran teman sepermainannya, Toyib, 10, pelajar SDN Campurejo 2, Kecamatan Rengel saat bermain bersama pada Sabtu (12/9) malam.

Kasatreskrim Polres Tuban Iptu Budi Santoso mengatakan, penyidik awalnya menjerat tersangka dengan pasal 160 KUHP. Namun, dalam petunjuknya, jaksa meminta pasal yang diterapkan 188 KUHP. Isinya kurang lebih menyatakan, barang siapa karena kesalahan (kealpaan) menyebabkan kebakaran, ledakan atau banjir. Ancaman hukuman penjara pasal ini paling lama lima tahun. ''Terkait petunjuk tersebut, kami akan melengkapi,'' tegas dia.

Kasus yang terjadi di Desa Campurejo, Kecamatan Rengel tersebut dilaporkan keluarga korban ke Mapolres Tuban pada Rabu (2/9). Kasus kebakaran tersebut bermula saat Wiwin, panggilan akrab terlapor bersama korban dan dua teman mereka lainnya, yakni Uut dan Asegaf bermain api. Untuk sarana pembakarnya, Wiwin membawa mangkuk plastik dan bensin dari rumah. Sementara Toyib membawa minyak tanah.

Dua bahan pembakar tersebut kemudian dituangkan dalam mangkuk plastik. Sambil jongkok, Toyib menyulutkan korek api pada mangkuk tersebut. Sementara tiga temannya termasuk Wiwin ikut jongkok mengitari mangkuk tersebut. Begitu disulut, api langsung membesar. Karena kaget, seluruh anak spontan mundur. Setelah mundur, Wiwin secara refleks menendang mangkuk tersebut. Tujuannya, untuk mematikan api tersebut. Namun, akibatnya justru fatal. Bensin dan minyak tanah yang terbakar memerciki tubuh Toyib. Seketika itu juga bagian perut hingga wajah korban terbakar serius. Korban yang mengalami luka bakar di wajah hingga perut bagian bawah tersebut dilarikan ke RSNU Bojonegoro. Setelah selama sepekan lebih dirawat tak kunjung membaik, Toyib dirujuk ke RSUD dr Sosodoro Djatikoesoema setempat. (ds) Sumber : Radar Bojonegoro

Read more...

Setiap Bulan, Pelanggar Lalin Naik 500 Orang

Soko Tuban
TUBAN - Kemarin (12/11) adalah persis bulan ketiga Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan diberlakukan di Tuban. Sejak UU baru tersebut diterapkan per 12 Agustus lalu, pelanggarnya terus meningkat. Peningkatan pelanggar per bulan rata-rata mencapai 500 pelanggar.

Pada bulan pertama undang-undang ini diterapkan pertengahan Agustus lalu, pelanggar yang ditindak korps bersabuk putih ini hanya 1.314 pelanggar. Pada bulan berikutnya (September), meningkat menjadi 1.874 pelanggar dan Oktober 1.959 pelanggar.

Apakah melonjaknya pelanggar lalu lintas tersebut terkait rendahnya tingkat kepatuhan masyarakat? Kasatlantas Polres Tuban Iptu Sugeng Setya Tresna membantah. Berdasar evaluasi satuannya, justru sekarang ini kepatuhan pengguna jalan meningkat. Salah satunya, karena tingginya denda bagi pelanggar undang-undang tersebut. ''Anda tahu sendiri, denda paling rendah saja Rp 50 ribu. Untuk pelanggar berat bisa mencapai Rp 250 ribu,'' tegas dia.

Faktor lainnya, karena gencarnya sosialisasi Satlantas Polres Tuban terhadap undang-undang ini. Kalaupun jumlah pelanggar terus meningkat, terang Sugeng, itu karena satuannya terus mengintensifkan razia di jalan dan bukan karena rendahnya tingkat kepatuhan. Selain razia rutin, kata dia, satuannya juga punya agenda insidental. Tempat razianya pun berpindah-pindah dan tidak terpusat di tengah Kota Tuban. Namun, juga menyebar di seluruh wilayah kecamatan. Selain intensitas razia, hampir semua anggotanya juga ditugaskan turun jalan dan ditarget menindak pelanggar.

Dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009, sanksi yang dijatuhkan terhadap pelanggar jauh lebih berat. Pengendara dan penumpang motor yang tidak mengenakan helm standar nasional Indonesia sebagaimana diatur dalam pasal 291 diancam pidana kurungan paling lama 1 bulan dan denda paling banyak Rp 250 ribu. Pengemudi motor yang tidak menyalakan lampu utama pada siang hari dalam pasal 293 (2) dipidana dengan kurungan paling lama 15 hari atau denda paling banyak 100 ribu. Sementara yang tidak menyalakan lampu pada malam hari, diatur dalam ayat 1 pasal ini, dipidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak 250 ribu.

Pelanggaran lain, seperti pengendara motor yang tidak melengkapi kendaraannya dengan kaca spion, klakson, lampu utama, lampu rem, lampu penunjuk arah, alat pemantul cahaya, alat pengukur kecepatan (spidometer), knalpot, dan kedalaman alur ban, dijerat pasal 285. Ancaman hukumannya pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu. (ds) Radar

Read more...

Minggu, 08 November 2009

Sebagian Anggota DPRD Tuban Putus Asa

Soko Tuban
Buntut Belum Jelasnya Pembentukan Pimpinan Definitif

TUBAN - Upaya enam fraksi di DPRD Tuban untuk menanyakan surat aduan yang disampaikan ke Biro Hukum Pemprov Jatim terkait belum terbentuknya pimpinan DPRD sampai kini belum membuahkan hasil.

''Kami sudah putus asa. Sudah kami tanyakan terus (ke biro hukum, Red) tapi belum ada jawaban pasti,'' kata calon wakil ketua DPRD Tuban, Teguh Prabowo alias Go Tjong Ping kepada Radar Bojonegoro kemarin (6/11).

Politisi PDIP ini menjelaskan, saat sebagian anggota DPRD Tuban berkonsultasi ke biro hukum pemprov beberapa waktu lalu, sebenarnya disarankan jika peraturan pemerintah (PP) yang baru belum turun agar menggunakan PP lama. ''Dan Depdagri juga menyaranakan agar menggunakan PP lama,'' kata Tjong Ping.

Dikatakan Tjong Ping, di seluruh Indonesia kemungkinan tinggal Tuban saja yang pimpinan DPRD-nya belum terbentuk. ''Kalau seperti ini, RAPBD molor dan masyarakat yang dirugikan,'' tegasnya. Kami sampai pegel ngrasakno kondisi ini. Padahal, kami ditanya terus oleh masyarakat,'' ungkapnya.

Untuk itu, dia berharap Partai Golkar semestinya menyadari hal ini dan segera mengirimkan nama calon pimpinan dewan. ''Kalau seperti ini terus kan semunya macet,'' tukas mantan ketua DPC PDIP itu.

Diberitakan sebelumnya, sejak 24 Agustus lalu hingga sekarang, pimpinan DPRD Tuban dan alat kelengkapan lainnya belum terbentuk. Penyebabnya, Partai Golkar yang mendapat jatah ketua dewan belum menyerahkan nama calonnya karena masih menunggu turunnya PP.

Sementara itu, Ketua DPRD Blora Maulana Kusnanto meminta seluruh fraksi segera menyetorkan nama yang diusulkan menjadi ketua komisi maupun anggota alat kelengkapan depan lainnya seperti banmus, banggar, baleg, maupun BK. ''Saya harap semua sudah masuk sehingga minggu depan sudah bisa mengumumkan susunan alat kelangkapan dewan,'' tutur Kusnanto kemarin.

Menurut dia, ketua komisi harus segera ditentukan agar pembahasan perubahan APBD segera bisa dilakukan. Khusus Fraksi Partai Golkar, kata dia, sudah mengusulkan Hanindyo Andri Haskoro menjadi ketua komisi C. ''Sudah resmi kami usulkan,'' kata politisi PG itu.

Saat ini, semua alat kelengkapan dewan sudah tersusun. Seperti Badan Kehormatan misalnya. Dia menentukan partai-partai besar yang akan menempatkan wakilnya di BK. Ada lima anggota BK yang dibutuhkan dan semuanya sudah ditentukan. Yakni, wakil dari Partai Golkar, PDIP, Partai Demokrat, PKB, dan PPP. Anggota dewan yang lain, menurut dia, sudah diakomodasi di alat kelengkapan dewan lainnya. (zak/ono) Radar Bojonegoro

Read more...

Sabtu, 31 Oktober 2009

Sekeluarga Dihantam Mobil Pemabuk

Soko Tuban
Buy Cheap Viagra Online Uk Viagra Rrp Australia Cheap Viagra Tablets Buy Generic Viagra Viagra For Women Buying Viagra Online Viagra Side Effects Viagra Equivalent Viagra For Sale Viagra How Does Viagra Work Women Does Viagra Work Try Viagra For Free Female Viagra Herbal Viagra Free Viagra Sample Natural Viagra Free Viagra In The Uk Female Use Of Viagra Viagra Suppliers In The Uk Viagra Oral Jelly Viagra Prescription Discount Viagra Viagra Canada Viagra Jelly Viagra Dosage Viagra Without Prescription Herbal Viagra Reviews Viagra Online Problems With Viagra Buy Viagra Generic Viagra Viagra 6 Free Samples Online Viagra Buy Cheap Viagra Order Viagra Cheap Viagra Canada Buy Viagra Online Cheap Viagra Viagra Sale Which Is Better Cialis Or Viagra Purchase Viagra Online Non Prescription Viagra Buying Viagra Womens Viagra Guaranteed Cheapest Viagra Free Viagra Cheapest Uk Supplier Viagra Buy Viagra Online At
Tuban - Nahas menimpa keluarga Sunoto, 45, warga Desa Kedungsoko, Kecamatan Soko, Tuban. Sepulang dari berkunjung dari rumah kerabat bersama istri dan dua anaknya, motor yang dikendarainya dihantam Honda CRV yang dikemudikan seorang pemabuk saat melintas di Jl Manunggal, Tuban. Akibatnya, Sunoto sekeluarga menderita luka serius dan harus menjalani perawatan intensif di RSUD dr R Koesma, Tuban.
Sekeluarga yang masih menjalani perawatan serius itu adalah Sunoto sendiri, Ngasri, 40, istrinya, Sari, 9, anak pertama dan Diah, 7, anak terahirnya. Kondisi paling parah dialami Diah yang menderita luka patah tulang kaki dan beberapa luka di sekujur tubuhnya. Dan hingga sore kemarin, kondisinya masih kritis.
Informasi yang dihimpun, kecelakaan ini terjadi saat mobil Honda CRV L 1148 E yang dikemudikan Jefri, 32, warga Kedungpring, Lamongan, bersama empat rekannya melaju kencang dari arah utara dan menyalip barisan truk yang berjalan lambat karena jalan sedikit menanjak. “Pengendara sepeda motor dari arah berlawanan sudah menepi, tapi masih dihantam oleh Honda CRV itu. Setelah itu, CRV menabrak trotoar jalan,” terang Wasis, salah satu warga di lokasi kejadian.
Dikatakan, sebelum tabarakan mobil sempat kelihatan oleng saat akan mendahului truk yang berjejer di depanya. “Karena ada beberapa truk, pengemudi CRV tidak sempat banting setir ke kiri hingga menabrak motor yang ditumpangi empat orang,” sambungnya.. Setelah tertabrak, empat penumpang motor langsung terpental dan mobil nyungsep di trotoar.
Dugaan kuat penyebab terjadinya kecelakaan ini adaah sopir CRV dalam kondisi lepas control lantaran mabuk akibat menenggak minuman keras. Hal itu nampak jelas dari raut wajah Jefri ketika keluar dari mobil dengan muka dan mata memerah. Bahkan saat ditanyai petugas juga nada bicaranya seperti ngelantur kemana-mana. “Saya gugup karena kondisi lalu lintas padat. Dan semakin bingung pas lihat ada sepeda motor dari depan,” kata Jefri.
Petugas kepolisian yang mendapat laporan langsung terjun ke lokasi untuk melakukan evakuasi. “Para korban sudah kita larikan ke rumah sakit dan pengemudi kita bawa ke Mapolres untuk menjalani pemeriksaan. Termasuk kendaraan yang terlibat kecelakaan juga kita amankan ke Polres,” terang Kanit Laka Sat Lantas Polres Tuban Iptu Faqih. st31(Surya)

Read more...

Selasa, 27 Oktober 2009

Dewan Dua Bulan Nganggur

Soko Tuban
TUBAN-Dua bulan sudah anggota DPRD Tuban dilantik menjadi legislatif. Namun, pimpinan DPRD Tubn hingga kemarin belum juga terbentuk. Dampaknya, agenda kerja wakil rakyat yang telah dipilih masyarakat ini pun kian terkatung-katung.

Kemarin (26/10) misalnya, para wakil rakyat ini pun hanya datang, duduk bercengkrama dengan sesama rekan legislatif. Sesekali melobi-lobi lintas fraksi. ''Belum ada agenda Mas,'' ujar ketua FKB Imron Chudlori bersama wakil ketua sementara DPRD Tuban Sa'dun Naim di gedung dewan.

Ketua sementara DPRD Tuban Marwan ketika dikonfirmasi mengatakan, sampai saat ini peraturan pemerintah yang ditunggu-tunggu juga belum turun. ''(PP, red) Belum mas,'' kata dia kemarin. (zak) Radar Bojonegoro

Read more...

Jumat, 23 Oktober 2009

Temukan Dua Penambang Pasir Mekanik

Soko Tuban
TUBAN - Tim gabungan Satpol PP, Dinas Pertambangan dan Energi, Polres, Polisi Militer, dan Kodim 0811 Tuban kemarin (22/10) merazia penambang pasir mekanik yang beroperasi di Kecamatan Soko dan Parengan. Hasilnya, petugas menemukan dua penambang pasir mekanik yang masih nekat beroperasi.

Razia yang dimulai sekitar pukul 08.30 itu dimulai dari Kecamatan Soko. Salah satu sasarannya di Desa Menilo. Ditempat tersebut, petugas masih menjumpai penambang pasir mekanik. Saat kedatangan petugas, para penambang itupun tidak berkutik. Mesin disel yang semula beroperasi, mendadak dimatikan. Petugas langsung menyetop aktivitas penambangan pasir secara mekanik tersebut dan membawa mesil diselnya sebagai barang bukti.

Setelah itu, petugas gabungan melakukan razia di Desa Selogabus Kecamatan Parengan. Ditempat tersebut, petugas menemukan ada satu penambang pasir mekanik yang masih beroperasi. Sama seperti di Menilo, barang bukti berupa mesil disel juga diamankan untuk dibawa ke Kantor Satpol PP Tuban.

Kepala Satpol PP Heri Muharwanto mengatakan, kedua penambang pasir mekanik tersebut akan segera dipanggil untuk dilakukan pembinaan. Dikatakan Heri, selanjutnya akan menertibkan sejumlah penambang pasir yang ditengarai masih beroperasi. Seperti di Kecamatan Grabagan dan Rengel. ''Penambang pasir laut yang ada di Bancar juga akan kami tertibkan,'' tegasnya. (zak)  Radar Bojonegoro

Read more...

PN Tolak Gugatan Mantan Bendahara DPC Barnas

Soko Tuban 
TUBAN - Pengadilan Negeri (PN) Tuban akhirnya memutuskan menolak gugatan yang diajukan Sidik Wiyanto terhadap DPC Partai Barisan Nasional (Barnas) yang telah memberhentikan kepengurusannya di partai tersebut. Penolakan gugatan itu kemarin (22/10) dibacakan Ketua Majelis Hakim Nofa F Bunda.

''Majelis hakim memutuskan menolak gugatan yang diajukan oleh penggugat (Sidik Wiyanto, Red). Sebab, masalah politik diselesaikan secara internal parpol yang bersangkutan,'' kata Nofa.

Selain putusan tersebut, pihak PN juga meminta kepada penggugat mengganti biaya perkara Rp 434 ribu. Mendengar putusan itu, Sidik menyatakan tidak terima. Dia bakal menempuh jalur lain. ''Kami sangat sayangkan dan akan kami teruskan (pra-peradilan),'' kata Sidik ketika ditemui usai mengikuti persidangan di PN Tuban.

Supriyadi, penasihat hukum Sidik, mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan kliennya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Sementara itu, sidang putusan yang berlangsung sekitar satu jam itu sempat diwarnai aksi demo. Sekitar 170 orang yang mengatasnamakan warga peduli hukum menuntut agar PN Tuban memenangkan gugatan yang diajukan Sidik. Sambil membawa poster dan baliho, mereka terus menyuarakan keadilan. Massa juga membubuhkan tanda tangan di atas kain sepanjang 5 meter. ''Kami sangat menyayangkan dengan putusan PN ini,'' kata Waras, koordinator aksi.

Usai dari PN, massa bergerak ke kantor KPUK di Jalan Pramuka. Mereka meminta agar KPUK mengecek ulang SK pemberhentikan Sidik. Di kantor lembaga penyelenggara pemilu itu, massa tidak ditemui pengurus KPUK karena mereka sedang studi banding di Kediri.

''Kami mohon, KPUK mengecek SK pemberhentian pak Sidik,'' pinta Waras.

''Ya, karena ketua KPUK tidak ada, maka ini kami terima dan nanti kami sampaikan ke ketua KPU,'' kata salah satu staf KPUK.

Tak puas hanya mendatangi kantor PN dan KPUK, massa lalu bergerak ke gedung DPRD setempat. Mereka ingin menemui Endrik, anggota DPRD yang juga ketua DPC Partai Barnas Tuban. Lantaran yang dicari tidak ada, massa lalu mengadu ke anggota dewan yang ada.

Mereka diterima Ketua FPDIP Karjo, Ketua F-Gerindra Sunardi S, Aris Dwi Setiawan (Demokrat), dan Fahmi Fikroni (FKB). ''Ya kami sifatnya hanya menerima aspirasi masyarakat,'' kata Karjo.

''Saya menghormati, apapun putusannya. Sebenarnya masalah internal parri sudah selesai. Sebab 1 Juni lalu saya dengan Pak Sidik dipertemukan di DPD Partai Barnas Jawa Timur. Dan dimenangkan saya, karena saya sesuai dengan prosedur,'' kata Endrik ketika dihubungi via ponselnya.

Seperti diberitakan, Sidik Wiyanto yang semoat menjadi bendahara DPC Barnas Tuban dipecat DPP partai tersebut. Akibatnya, pria yang juga caleg dari Dapil III DPC Partai Barnas itu gagal menduduki kursi DPRD. Sebab, atas dasar pemecatan DPP Barnas itu, KPUK Tuban men-delete Sidik sebagai calon tetap. Padahal, saat pilleg lalu, dia mengantongi 1.789 suara. Sidik akhirnya diganti Endrik yang memperoleh suara terbanyak kedua, yakni 1.337 suara. (zak)Radar Bojonegoro

Read more...

Sabtu, 17 Oktober 2009

Soko Tuban
SOKO - Rencana Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB P-PEJ) untuk membuka lapangan baru di South East Mudi, Kecamatan Soko, Tuban tertunda. Penyebabnya, izin dari Pemkab Tuban hingga kini belum turun. ''Rencananya kami memang membuka lapangan baru di Desa Pandanwangi Kecamatan Soko,'' kata Operation Manager JOB P-PEJ Marthen Lotong kepada Radar Bojonegoro.

Dia menuturkan, izin itu telah diajukan ke Pemkab Tuban beberapa bulan lalu. Hingga kemarin Rata Penuh(16/10) izin yang diajukan belum disetujui. Marthen tidak tahu alasan belum turunnya izin membuka lapangan baru di Blok Tuban tersebut. '' Kita berharap segera turun,'' harapnya.

Menurut dia, JOB P-PEJ menargetkan pada 2010 produksi Blok Tuban 45 ribu barel per hari. Setelah sumur 12 A beroperasi, saat ini produksi Blok Tuban sudah mencapai 41 ribu barel per hari. ''Dengan lapangan baru, maka target itu akan kami usahakan terpenuhi,'' imbuhnya.

Tahun depan JOB P-PEJ merencanakan mengebor lagi dua sumur di Pad B Sukowati yang ada di Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Bojonegoro. Yakni, sumur 14 dan 15. ''Sumur itu nanti bukan menambah produksi minyak, tapi mempertahankan produksi minyak di kisaran 45 ribu barel per hari,'' katanya.

Dia menjelaskan, produksi puncak Blok Tuban akan bisa bertahan selama tiga tahun setelah produksi 45 ribu barel per hari. ''Itupun ada beberapa sumur yang akan mengalami penurunan. Sehingga kita butuh sumur baru agar produksi bisa bertahan,'' tuturnya.

Mengenai permasalahan flare pit di CPA Mudi, pria asli Toraja itu menjelaskan, pihaknya saat ini sedang menjajaki untuk memindahkan sebagian flare pit di Sukowati. Untuk menghentikan api di flare pit, ujar dia, tidak mungkin karena hal itu sama saja dengan menghentikan produksi minyak. ''Karena itu kita masih cari solusi terbaik,'' katanya. (ade)Radar Bojonegoro

Read more...

Kamis, 15 Oktober 2009

Dandim Tuban-Kabakorwil II Serahkan Rumah ke Warga

Soko Tuban



Reporter : Abdul Qohar
(beritajatim.com) - Siang tadi, rumah tidak layak huni (RTLH) yang telah selesai di renovasi oleh TNI bersama masyarakat diserahkan kepada pemiliknya lagi.

Penyerahan tersebut ditandai dengan kehadiran Kepala Bakorwil II Bojonegoro, Stiadjid bersama Dandim 0811 Letkol Inf Dadang Sudrajat. Secara simbolis dua pejabat tersebut meninjau langsung beberapa rumah yang telah selesai direhap di Kecamatan Soko dan Rengel, Kabupaten Tuban.

Data yang dihimpun beritajatim.com di lapangan, Kamis (15/10/2009) menyebutkan, kalau se Kabupaten Tuban sebenarnya terdapat 1.000 rumah yang dibantu merehap oleh Pemprov Jatim dan pengerjaannya dilakukan oleh para TNI dimasing-masing koramil.

Dengan begitu, di masing-masing koramil atau kecamatan, terdapat sekitar 50 RTLH yang direnovasi. Sebab, di Kabupaten Tuban terdapat 20 kecamatan yang tersebar diseluruh wilayah bumi Ronggolawe itu.

Kepada beritajatim.com, Kepala Bakorwil II Bojonegoro, Stiadjid mengaku cukup terkesan dengan kegiatan tersebut. Sebab, warga sekitar rumah yang dibantu Pemprov Jatim sangat antusias untuk ikut bersama-sama mengerjakannya.

"Saya berterima kasih kepada para prajurit yang dengan tanpa lelah setiap hari mengerjakan rehap rumah bersama warga. Ini salah satu bentuk TNI manunggal dengan masyarakat," kata Stiadjid disela-sela meninjau langsung lokasi rumah yang dibangun dipelosok desa di Kecamatan Soko, Tuban.

Diterangkan, se Jawa Timur tahun ini ada sekitar 20.000 rumah yang dibantu merehap dengan bantuan dana masing-masing Rp 5 juta. "Kalau terus seperti ini, maka tidak lama RTLH di Jatim akan semakin berkurang banyak," tegasnya.

Terpisah, Dandim 0811 Tuban, Letkol Inf Dadang Sudrajat menegaskan, kalau sejauh ini pengerjaan rehap rumah telah mencapai sekitar 50 persen se Kabupaten Tuban.

"Hampir semua rumah yang dibenahi disemua kecamatan kondisinya sudah luar biasa. Dalam waktu yang tidak lama, semuanya akan selesai," sambungnya.

Sementara itu, empat desa diantaranya yang warganya mendapat bantuan rehap rumah adala Desa Cekalang dan Tluwe, keduanya di Kecamatan Soko, serta Desa Kebonagung dan Pekuwon, keduanya di Kecamatan Rengel.[dul/ted]sumber : beritajatim

Read more...

Rabu, 07 Oktober 2009

Warga Minta JOB P-PEJ - BP Migas Penuhi Tuntutan

Soko Tuban
SOKO-BOJONEGORO - Sekitar 300 warga dari tiga dusun di Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Tuban kemarin (6/10) mendatangi balai desa setempat. Mereka menuntut Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB P-PEJ) dan BP Migas memenuhi keluhan warga terkait pengoperasian tambang minyak di wilayah setempat.

''Warga minta jawaban dari BP Migas dan JOB P-PEJ untuk segera memenuhi tuntutan. Warga mulai mendapat dampak buruk dari pengolahan minyak di pengeboran,'' kata Kepala Desa Rahayu Imam Lughuzali selaku pihak perantara pertemuan antara warga dan BP Migas.

Dia menuturkan, dampak buruk yang ditimbulkan di antaranya suhu terlampau panas, bau tidak sedap, kebisingan, dan gangguan terhadap tanaman. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Balai Lingkungan Hidup (BLH) Tuban beberapa waktu lalu, lanjut Imam, suhu luar di ketiga dusun tersebut mencapai 65 derajat celcius. Sedangkan suhu di dalam ruangan mencapai 35 derajat celcius. Suhu itu melebihi ambang batas di ruangan yang maksimal 28 derajat celcius.

''Khususnya untuk SDN 1 dan 2 Rahayu yang hanya berjarak 150 meter dari lokasi pengeboran. Hal itu sangat mengganggu proses belajar,'' imbuhnya.

Asmui, salah satu perwakilan warga dari Dusun Sarirejo, Gandu, dan Delik mengaku sudah terlalu lama, sejak 2003 warga mendapat dampak buruk adanya penambangan. ''Belum ada solusi yang tepat untuk mengatasi dampak buruk tersebut. Warga terus menerus dirugikan bahkan sekarang ada penambahan flare (titik api) hingga tujuh,'' katanya yang disambut teriakan warga.

Sebelumnya, warga dan JOB P-PEJ bertemu 29 September lalu. Dalam pertemuan itu tercapai lima kesepakatan. Di antaranya, mengembalikan tujuh flare yang telah berdiri di area CPA menjadi dua, meredam suara yang ditimbulkan akibat kegiatan operasional, dan mengurangi bau tidak sedap yang berasal dari CPA, serta memberikan kompensasi kepada warga. Kesepakatan itu ditandatangani Field Manager JOB P-PEJ Sukarnoto Sukimin, Imam Lughuzali, Kapolsek Soko AKP Noor Asyik, dan Danramil Soko Istoha.

Pihak BP Migas yang kemarin diwakili Rusmandani, pengawas pengolahan minyak, menyanggupi untuk memberikan kompensasi kepada warga. Kompensasi itu dicairkan dalam waktu satu minggu ke depan. ''Untuk besarnya, masih menunggu keputusan dari BP Migas Jakarta, tidak bisa lantas diputuskan secara mendadak,'' katanya.

Terkait empat tuntutan lainnya, sekurangnya diupayakan tiga bulan setelah pertemuan, setelah proses koordinasi dengan BP Migas Jakarta.

Sementara itu, eksplorasi sumur 12 A di lapangan Sukowati, Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Bojonegoro yang dikelola JOB P-PEJ mulai memasuki kedalaman 6 ribu feet.

''Sudah mulai ada gas kick namun masih kecil,'' kata Field Admint Superintendent JOB P-PEJ A Rizani.

Dia menjelaskan, pengeboran sumur itu dilakukan sejak 1 September lalu. ''Menggunakan pipa 6 inchi,'' imbuhnya.

Dia menargetkan dalam 14 hari ke depan eksplorasi selesai dengan kedalaman sekitar 7.200 feet. Sehingga, uji coba produksi bisa dilakukan. Rizani menambahkan, saat ini di Sukowati Pad B telah ada lima sumur yang beroperasi. Jika sumur 12 A nanti selesai, maka di Pad B ada enam sumur. ''Sama dengan di Pad A yang ada di Desa Campurejo, Kota Bojonegoro juga ada enam sumur,'' tuturnya.

Mengenai produksi minyak Blok Tuban, Rizani menyatakan, saat ini sudah mencapai 40.400 barel setiap harinya. Dari jumlah itu, 37.800 barel di antaranya dihasilkan dari sumur di Sukowati Pad A dan Pad B. ''Sementara sisanya dari lapangan yang ada di Mudi, Soko,'' ujarnya. (tis/ade) Radar Bojonegoro

Read more...

Mengintip Program Quick Wins bidang transparansi penyidikan Satreskrim Polres Tuban

Soko Tuban-TUBAN
Tak Kenal Pungli dan Suap

Satreskrim Polres Tuban pekan ini me-launching program Quick Wins bidang transparansi penyidikan. Salah satu tujuan program ini adalah membangun kepercayaan publik dalam rangka reformasi birokrasi di lingkungan Polri.

DWI SETIYAWAN, Tuban

---

''KALAU bapak melaporkan sebuah perkara ke Mapolres Tuban, penyidik akan memberitahukan hasil perkembangan penyidikan kasus tersebut dalam surat pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan (SP2HP),'' ujar salah satu anggota Satreskrim Tuban saat membagikan stiker kepada pengendara mobil di Jalan Sunan Kalijaga.

Begitulah salah satu bentuk sosialisasi Satreskrim Polres Tuban terhadap program Quick Wins bidang transparansi penyidikan. Program ini adalah salah satu bentuk layanan prima polisi terhadap masyarakat sebagaimana grand strategi Polri. Transparansi dalam penyidikan tindak pidana ini sejak tahap penerimaan dan penilaian laporan atau pengaduan hingga tahap penyidikan, penindakan dan pemeriksaan, serta tahap penyelesaian dan penyerahan berkas perkara. Dalam semboyannya, Satreskrim Polres Tuban akan melaksanakan tahapan-tahapan tersebut secara cepat, tepat, transparan, dan akuntabel.

Kasatreskrim Polres Tuban Iptu Budi Santoso mengatakan, dalam program ini satuannya ingin menghapus image bahwa pelayanan Polri kepada masyarakat masih rendah. Yang ditandai dengan pelayanan berbelit-belit, adanya biaya tambahan yang tidak semestinya, dan lambat dalam merespon pelaporan atau pengaduan. Juga, kesan polisi kurang transparan dan akuntabel, sulit menghubungi atau menemui petugas, diskriminatif, arogan, dan kurang peduli. ''Melalui program Quick Wins, semua image itu harus kita ubah,'' tegas dia. Dikatakan Budi, dalam menjalankan tugas melindungi dan mengayomi masyarakat, Polri harus ikhlas.

Setelah program ini di-lauching, mantan Kaurbinops Reskrim Polres Tuban ini, berharap semua anggotanya menggunakan pendekatan pragmatis. Seperti melayani dengan kemudahan, cepat, tepat, efisien dengan cara simpatik, ramah, sopan, dan humanis. ''Terpenting, tidak membebankan biaya yang tidak semestinya (pungli), memeras, dan menakut-nakuti,'' tegas Budi.

Untuk bisa melaksanakan program tersebut secara maksimal, lanjut dia, jauh hari sebelumnya, penyidiknya selalu minta nomor telepon atau ponsel terhadap pelapor. Tujuannya, agar penyidik bisa menghubungi untuk menginformasikan terkait langkah-langkah yang telah dilakukan. Juga, kendala yang dihadapi dalam penyidikan. Selain informasi lisan, penyidik juga akan memberitahukan perkembangan penyidikan secara tertulis dalam surat SP2HP.

Untuk penyampaian SP2HP ini, Satreskrim Polres Tuban juga punya standar waktu. Untuk kasus ringan dan sedang, paling lambat hari ke-14 setelah melapor, polisi akan mengirimkan surat tersebut. Sementara untuk kasus sulit dan sangat sulit, pelapor baru menerima SP2HP pada hari ke-15 dan hari ke-30.

Standar waktu juga berlaku untuk tahap penindakan dan pemeriksaan. Kasus ringan hari ke-15 dan hari ke-30. Kasus sedang SP2HP dikirim pada hari ke-15, 30, 45, dan 50. Dan, kasus sulit hari ke-20, 40, 80, 100, dan ke-120. ''SP2HP juga disampaikan kepada pelapor setelah berkas perkara tahap pertama dan kedua dikirim ke kejaksaan,'' tandas Budi.

Tak hanya itu. Untuk memaksimalkan penyidikan, Satreskrim Polres Tuban juga melaksanakan gelar perkara. Tujuannya, untuk mengetahui kendala penyidikan dan transparansi penanganan kasus, serta memberikan upaya pemecahan masalah terkait kasus pidana yang ditangani. (*) Radar Bojonegoro

Read more...

Guntur, Sumbang Medali Emas Pertama Tuban

Soko Tuban
TUBAN-Hari kedua pelaksanaan prorpov menjadi moment penting bagi kabupaten Tuban. Sebab, kemarin (6/10) Guntur Wahyu Arif, menyumbangkan medali emas pertama bagi kontingen Bumi Ronggolawe.

Pengurus KONI Tuban Budi Wiyana kepada Radar Bojonegoro mengatakan, Guntur meraih emas dinomor tolak peluru dengan jauh lemparan 11,05 meter. Dibawahnya ada atletik dari kabupaten Gresik dan Ponororgo. Meski meraih emas, hal ini diakui masih dibawah standart daripada lemparan pada Kejurnas beberapa bulan lalu yang mencapai sekitar 14 meter. ''Meski prestasinya menurun, namun tetap nomor satu,'' tambah ketua pengkab PASI Tuban Mukandar via ponselnya.

Budi menambahkan, selain emas, Tuban kemarin juga meraiah dua perunggu yang diraih cabang olahraga gulat. '' ''Yakni Yaya Yudianto dikelas 84 kg, dan Adi Prasetyo dikelas 96 kg,'' tegasnya.

Sementara itu, harapan tim bulu tangkis beregu putri Tuban untuk lolos disemifinal gagal. Sebab, pada babak 8 besar, anak-anak Bumi Ronggolawe dikalahkan oleh tim tuan rumah kota Malang dengan skor 2-0. Sebelumnya, bulu tangkis beregu putri mengalahkan tim kabupaten Kediri dengan skor 2-1. ''Memang lawan tuan rumah agak berat,'' tandas sekretaris Pengcab PBSI Tuban Bambang. (zak) Radar Bojonegoro

Read more...

Senin, 05 Oktober 2009

Ketika gagal menjaga amanat

Soko Tuban 
Masyarakat Desa Bangunrejo, Kecamatan Soko, Tuban, yang dulunya hidup dalam ketenangan harmoni beraktifitas serta bermasyarakat, terusik pasca desa tersebut dipimpin Sunjani. Itu terjadi karena amanat yang disandangkan di pundaknya oleh warga ternyata kemudian dikhianati.
———————————

Meski sesungguhnya, naiknya Sunjani menjadi kepala desa (kades) tersebut atas dukungan ma-syarakat yang memilihnya dalam pilkades.

“Waktu itu, kami mempercayakan pada Sunjani untuk memimpin Desa Bangunrejo dengan tujuan bisa menyalurkan aspirasi dan berpihak pada rakyat. Eh, tidak tahunya lama-lama dia sendiri sendiri yang mengkhianati ke-percayaan masyarakat,” tutur sejumlah warga mengomentari kepemimpinan Sunjani.

Sunjani sendiri, seperti diungkapkan warga, yang pernah tersandung kasus penggelapan raskin dan mendekam di penjara selama tiga bulan atas putusan PN Tuban, sekeluarnya dari bui bukan membuat simpati warganya. Justru sebaliknya.

Warga yang kecewa dan marah, melalui aspirasinya yang disalurkan lewat Badan Permusyawaratan Desa (BPD) setempat setelah melakukan serangkaian telaah dan rapat sepakat bulat meminta Sunjani mundur dari jabatannya.

Surat keputusan dan berbagai rapat koordinasi telah dilakukan, mulai dari tingkat desa, kecamatan hingga sejumlah pejabat terkait di Pemkab Tuban, hingga kini belum ada kejalasan pasti terkait aspirasi warga Desa Bangunrejo tersebut.

Bahkan, menurut penuturan warga, rapat koordinasi dengan agenda pengusulan pemberhentian kepala desa yang dihadiri oleh Wakil Bupati Tuban, Lilik Su-hardjono, sekitar sebulan lalu pun tak juga kedengaran kabar pastinya. Menurut informasi yang diterima warga, surat usulan pengunduran Sunjani sebagai kades sudah berada di tangan Bupati Tuban Haeny Relawati Rini Widiastuti.

Yang tak habis dimengerti warga, seperti yang terungkap dalam surat penagihan pemberhentian kepala desa kepada Bupati Tuban serta ditembuskan pula kepada Gubernur Jatim, pimpinan DPRD Jatim, DPRD Tuban, wakil bupati dan Sekda Tuban, mekanisme yang ditempuh melalui berbagai tahapan juga atas dasar rekomendasi Bupati Tuban dalam suratnya kepada Camat Soko Nomor: 141/2016/141.106/2009 tanggal 30 Juni 2009, perihal usulan calon pejabat Kepala Desa Bangunrejo.

Dasar terbitnya surat tersebut, seperti yang diungkapkan Kasmuin dari Forum Peduli Keadilan Msyarakat Desa Bangunrejo, usulan masyarakat melalui BPD setempat untuk secepatnya memberhentikan Sunjani.

”Kami menunggu dan menagih janji bupati secepatnya menyangkut persoalan kepemimpinan di desa kami. Api lagai yang ditung-gu oleh bupati, kalau masyarakat sudah kehilangan kepercayaannya pada kepala desa,” tukas se-jumlah warga yang juga tengah menunggu proses hukum atas dugaan penyelewengan dana UPK Gardu Taskin sebesar Rp 14 juta.

Tapi ketika kasus itu mencuat, Sunjani beralasan, seperti yang ditulis dalam surat pernyataan bermeterai tertanggal 20 Pebruari 2008, dana UPK Gardu Taskin, dipinjam dan akan dikembalikan dalam waktu tiga hari setelah dia menekan surat pernyataan tersebut.

Namun, kenyataannya janji sang kades hanya bualan belaka. Hingga berita ini ditulis, Sunjani yang dicoba dihubungi untuk konfirmasi tidak berada di tempat.  DUTA MASYARAKAT

Read more...

Camat Soko Bantah Pungli KTP

Soko Tuban
soko - Camat Soko Kusmindar kemarin (4/10) mengklarifikasi tudingan staf kantornya memungut pemohon kartu tanda penduduk (KTP). Ditegaskan dia, tudingan tersebut sama sekali tidak benar. ''Harus ada bukti. Tunjukkan pada kami,'' tegas dia didampingi Masykuri, Kasi Pemerintahan kecamatan setempat.

Ditegaskan Kusmindar, kalau terbukti pemohon dimintai biaya pengurusan KTP lebih dari Rp 10 ribu, staf yang meminta akan ditindak tegas. Pejabat kelahiran 28 Agustus 1955 ini menegaskan, selama ini pemohon KTP hanya dikenakan biaya pengurusan Rp 10 ribu. Rinciannya, Rp 5 ribu untuk biaya cetak dan Rp 5 ribu untuk pemotretan. Waktu penyelesaiannya, imbuh Kusmindar, tergantung dari kepadatan pemohon. Kalau banyak pemohon, KTP baru selesai paling lama sepekan. Namun, kalau pemohon tidak begitu banyak, sehari pun bisa selesai.

Di bagian lain, pejabat yang beralamat di Jalan Nanas 16 Perum Perbon Permai Tuban ini mengakui, Komisi Pelayanan Publik (KPP) Provinsi Jatim turun ke Soko pada 30 September 2009. Namun, dari berita acara pemeriksaan stafnya, tidak ada satu pun poin yang mempermasalahkan pemohon dimintai biaya pengurusan Rp 50 ribu. Yang ada, terang Kusmindar, KPP menyimpulkan tidak ada biaya pengurusan KTP lebih dari Rp 10 ribu. Temuan lain yang dibahas dalam berita acara pemeriksaan KPP adalah keterlambatan penyelesaian KTP. Itu pun karena masalah teknis, yakni kerusakan komputer.

Terkait pemberitaaan di Radar Bojonegoro pada 1 Oktober lalu, Camat Soko juga meminta LSM membeberkan siapa oknum stafnya yang meminta biaya pengurusan hingga Rp 50 ribu.

Sementara itu, LSM Publik Crisis Center (PCC) Tuban langsung merespon keinginan camat Soko tersebut. Karena camat meminta dibeberkan, Direktur PCC Tuban, Dahkelan menyatakan, dua tiga hari ini dia akan mengumpulkan anggotanya dan aktivitas LSM Format untuk membeberkan oknum staf Kecamatan Soko yang nakal. ''Kalau memang camat meminta, semua kasus pungli ini akan kami beberkan,'' tegas dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, KPP Provinsi Jatim turun ke wilayah Kecamatan Soko untuk menggali keluhan masyarakat setempat terkait dugaan pungli dan buruknya pelayanan permohonan KTP di kecamatan setempat. Selama turun, Wahyu, anggota KPP Jatim didampingi LSM PCC dan Forum Masyarakat Tuban (Format).

Wahid, anggota Format Tuban mengatakan, selama turba, KPP banyak mendapat keluhan masyarakat terkait proses permohonan KTP. Salah satunya, besarnya uang administrasi yang harus diserahkan kepada oknum pegawai Kecamatan Soko agar KTP yang diajukan cepat selesai. ''Kalau bayar Rp 50 ribu, sehari jadi,'' kata dia mengutip keterangan sejumlah pemohon. Sementara yang pengurusannya diserahkan kepada perangkat desa dengan membayar Rp 20-30 ribu, KTP baru selesai sekitar 1 hingga 2 minggu.

Wahid menambahkan, terkait tidak jelasnya waktu penyelesaian KTP, sejumlah pemohon mendapat alasan beragam dari aparat kecamatan setempat. Sekcam Soko, misalnya, beralasan perangkat komputer untuk memproses rusak. Sementara pegawai lainnya beralasan petugas yang mengurusi sedang cuti hamil. (ds) Radar Bojonegoro

Read more...

Minggu, 04 Oktober 2009

Minta Dibuatkan Kopi, Tewas Gantung Diri

Soko Tuban
TUBAN
- Desa Prambon Tergayang, Kecamatan Soko gempar. Manidi, 55, warga desa setempat kemarin (3/9) siang ditemukan tewas tergantung di tampar plastik yang terikat dengan blandar kamarnya.

Jasad korban ditemukan Warpuah, 50, istrinya sekitar pukul 11.30. Sebelum gantung diri, sekitar 30 menit sebelumnya Manidi minta istrinya untuk dibuatkan kopi. Saat kopi hendak disajikan, bapak dua anak tersebut justru menghilang. Warpuah kemudian mencari suaminya di belakang dan depan rumah.

Karena tidak ditemukan, dia kemudian melanjutkan pencarian ke dalam kamarnya. Betapa terkejutnya Warpuah mendapati suaminya yang baru beberapa menit bercengkerama dengannya tergantung di atas blandar kamar. Tali yang digunakan menggantung tampar warna kuning.

Kapolsek Soko AKP Nur Asyik yang memimpin olah tempat kejadian perkara (TKP) mengatakan, korban mengikatkan tampar plastik kuning dengan blandar kamar yang berketinggian sekitar 270 cm dengan cara naik ke dipan bambu. Setelah itu, ujung lain tampar tersebut diikatkan ke lehernya. ''Setelah itu, dia menjatuhkan diri,'' kata dia.

Diterangkan Nur Asyik, dari hasil pemeriksaan keluarganya, diketahui selama setahun terakhir Manidi sakit ingatan atau stres. ''Bisa jadi, ini yang menjadi pemicu dia bunuh diri,'' tandas dia.

Mantan Kapolsek Widang ini lebih lanjut mengatakan, dari hasil visum et repertum terhadap jasad korban dipastikan tidak ada tanda-tanda penganiayaan. Indikasi kematian Wanidi akibat bunuh diri diperkuat dengan keluarnya sperma dan tinja dari kemaluan dan anusnya. Juga, lidah sedikit terjulur. (ds) Radar Bojonegoro

Read more...

Tabung Elpiji Terlambat Datang, Distribusi Molor

Soko Tuban
TUBAN
- Pendistribusian program konversi mitan ke elpiji 3 kilogram (kg) di Tuban molor dari jadwal. Hingga kemarin (3/10), tabung elpiji 3 kg belum dikirim ke Tuban. Padahal, pemkab bersama pihak Pertamina menyepakati pendistribusian konversi mitan ke elpiji 3 kg tuntas sebelum lebaran lalu.

Kabid Perdagangan Dinas Perekonomian dan Pariwisata Tuban Budi Wiyana mengakui sampai saat ini belum 100 persen pendistribusian elpiji 3 kg tuntas. ''Sekarang tinggal dua kecamatan. Yakni, Kecamatan Tuban dan Jenu,'' kata dia.

Penyebab keterlambatan pendistribusian ini, lanjut Budi, lantaran tabung elpiji belum juga dikirim. Keterlambatan tabung gas itu, menurut dia, dikarenakan waktu program konversi bersamaan dengan kabupaten lain. ''Untuk kompor dan regulator sudah siap,'' tuturnya.

Meski demikian, pihaknya berjanji akhir Oktober ini dua kecamatan tersebut sudah terdistribusi elpiji tersebut. Budi menjelaskan, sampai saat ini sudah 264.942 lebih paket elpiji yang terdistribusikan dari kuota 292.000 paket elpiji 3 kg.

Pengurus KONI Tuban ini menambahkan, program konversi itu berdampak pada pengurangan pasokan mitan bersubsidi. Pasokan mitan bersubsidi itu terus berkurang hingga pendistribusian elpiji 3 kg tuntas. ''Diperkirakan pertengahan Desember pasokan mitan bersubsidi sudah close,'' katanya. (zak)Radar Bojonegoro

Read more...

Jumat, 02 Oktober 2009

FPDIP Bakal Turun Kelapangan Ikut Telusuri Dugaan Pungli KTP

Soko Tuban
- Turunya komisi pelayanan publik (KPP ) Jatim di kecamatan Soko untuk menelusuri dugaan pungutan liar pembuatan KTP mendapat tanggapan dari kalangan anggota DPRD Tuban.

Ketua Fraksi PDIP Tuban, Karjo kepada Radar Bojonegoro mengatakan, pihaknya mengagendakan turun kebawah untuk mengecek jika memang ada dugaan pungli KTP dikecamatan tersebut. Sebab, sesuai dengan ketentuan yang ada, pembuatan KTP tidak boleh melebihi ketentuan perda nomor 1 tahun 2009. Yakni biaya adminsitrasi hanya Rp 7 ribu. Apalagi, mulai kemarin hingga awal November ini ada pembuatan KTP dan KSK masal, maka pihaknya akan tetap mengawal program tersebut. ''Kami akan mengawal, biar tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan,'' tegasnya. Namun, Karjo belum bisa memastikan kapan pihaknya akan turun kebawah. ''Yang jelas akan kita kawal,''terangnya.
Rata Penuh
Seperti diberitakan, KPP mendapat keluhan masyarakat terkait proses pemohonan KTP. Salah satunya besar uang administrasi yang harus diserahkan kepada oknum pegawai agar KTP yang diajukan cepat selesai. Yakni kalau membayar Rp 50 ribu sehari jadi, dan membayar Rp 20-25 ribu sepekan jadi.

''Kalau seperti ini jelas menunjukkan pelayanan publik yang kurang beres,'' tegas politisi asal Singgahan ini. Dikatakan Karjo, semestinya pemerintah dan juga petugas yang ada didaerah lebih akomidatif dalam pengurusan KTP sesuai dengan peraturan yang ada. (zak) Radar Bojonegoro

Read more...

259 Terdaftar UNPK Gelombang II

Soko Tuban
TUBAN
- Sejumlah peserta yang akan mengikuti ujian nasional pendidikan kesetaraan (UNPK) harus bersabar. Sebab, Dinas pendidikan, pemuda dan olahraga masih memproses nama-nama yang akan mengikuti UNPK tahap II ini.

Kabid pordikmas, sejarah dan nilai tradisi Disdikpora Tuban Gembong Sispriyanto ketika dikonfirmasi mengatakan, sampai kemarin pihaknya baru menyampaikan berkas nominatif peserta yang akan mengikuti UNPK gelombang II. 'Ada 259 orang kami sampaikan ke Jakarta,''terangnya kemarin. Rincianya, kata Gembong, 11 orang peserta UNPK paket S setara SD, sedangkan 248 orang peserta UNPK paket C setara SMA. ''Untuk paket B setara SMP tidak ada,'' tegasnya.

Dia menambahkan, setelah berkas itu disampaikan ke Jakarta, maka akan langsung diferifikasi sejumlah persyaratan yang ada. Baik itu ijazah sebelum dan juga identitas para peserta.

Gembong menjelaskan, sesuai dengan jadwal yang ada, pelaksanaan UNPK gelombang II akan dilangsung November mendatang. ''Yakni untuk UNPK paket A pada 18-20 November. Dan UNPK paket pada 10-13 November,'' tegasnya. Untuk tempat pelaksanaan, terang Gembong, saat ini masih menjadi pembahasan. Apakah dimasing-masing kecamatan atau disatu tempat. ''Jadi, untuk tempat ujian kondisional,'' tuturnya. (zak) Radar Bojonegoro

Read more...

Kamis, 01 Oktober 2009

Pemohon KTP di Soko Dipungli


Biaya Rp 50 Ribu Sehari Jadi, Rp 30 Ribu Dua Pekan
Soko Tuban-Komisi Pelayanan Publik (KPP) Provinsi Jatim kemarin (30/9) turun ke wilayah Kecamatan Soko untuk menggali keluhan masyarakat setempat terkait dugaan pungutan liar (pungli) dan buruknya pelayanan permohonan kartu tanda penduduk (KTP) di kecamatan setempat.

Selama turun, Wahyu anggota KPP Jatim didampingi LSM Public Crisis Center (PCC) dan Forum Masyarakat Tuban (Format).

Wahid, anggota Format Tuban mengatakan, selama turba, KPP banyak mendapat keluhan masyarakat terkait proses permohonan KTP. Salah satunya, besarnya uang administrasi yang harus diserahkan kepada oknum pegawai Kecamatan Soko agar KTP yang diajukan cepat selesai. ''Kalau bayar Rp 50 ribu, sehari jadi,''' kata dia mengutip keterangan sejumlah pemohon. Sementara yang pengurusannya diserahkan kepada perangkat desa dengan membayar Rp 20-30 ribu, KTP baru selesai sekitar 1 hingga 2 minggu. Wahid menambahkan, terkait tidak jelasnya waktu penyelesaian KTP, sejumlah pemohon mendapat alasan beragam dari aparat kecamatan setempat. Sekcam Soko, misalnya, beralasan perangkat komputer untuk memproses rusak. Sementara Darmin, pegawai lainnya beralasan petugas yang mengurusi sedang cuti hamil.

Direktur PCC Tuban, Dahkelan yang dihubungi terpisah menyayangkan buruknya pelayanan KTP di kecamatan ini. Menurut dia, mentalitas aparat di kecamatan ini masih ingin dilayani, bukan sebaliknya melayani. Dikatakan Dakelan, hasil temuan KPP Jatim ini akan dikaji dan dijadikan bahan masukan untuk institusi yang bersangkutan. Camat Soko Kusmindar sampai berita ini belum berhasil dihubungi. Salah satu staf di kantornya yang menerima telepon wartawan koran ini kemarin sekitar pukul 17.20, mengaku camat dan sejumlah stafnya masih rapat terkait penggalian pasir di Bengawan Solo yang berada di wilayah. Sementara itu, Kadin Sosial Tenaga Kerja Kependudukan dan Catatan Sipil (Sosnakerdukcapil) Mudiono mengatakan, berdasar Perda Nomor 1 Tahun 2009, biaya pengurusan KTP hanya Rp 7 ribu dan kartu susunan keluarga (KSK) Rp 5.500. ''Di luar ketentuan tersebut, tentu tidak benar,'' kata dia yang dihubungi melalui telepon rumahnya. Mudijono mengatakan, pembuatan KTP massal yang berlakunya lima tahun berlaku hari ini dan dimulai dari Kecamatan Kenduruan.(ds) Sumber : RADAR BOJONEGORO

Read more...

Rabu, 30 September 2009

Warga Geruduk Pertamina Mudi. Desak Tutup CPA.

Soko Tuban
- Central processing area (CPA) di Mudi, Kecamatan Soko, Tuban yang dikelola oleh Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB P-PEJ) kembali dikeluhkan warga. Kemarin (29/9) belasan warga Dusun Sarirejo, Desa Rahayu, Kecamatan Soko demo disekitar CPA tersebut . Rata Penuh

Mereka menuntut pihak Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB P-PEJ) selaku pengelola untuk memberhentikan operasional CPA lantaran warga setempat menghirup bau yang menyengat dan udara disekitara rumah warga semakin panas.

Aksi tanpa pengawalan aparat kepolisian itu berlangsung sekitar pukul 11.00. Sejumlah warga mulai berbondong-bondong disekitar CPA setempat. Awalnya, warga menduduki sebelah utara CPA Mudi. Sebab, tempat tersebut hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumah penduduk. Ditempat tersebut, sejumlah warga beteriak agar CPA ditutup. Untuk melampiaskan kekesalan, warga sempat membakar ban bekas dan melimpari kawasan CPA dengna benda yang ada disekitar.

Lantaran tak satupun pihak JOB- P-PEJ menemui, maka warga berjalan kaki menuju pintu masuk CPA yang berada disebelah selatan CPA. Saat tiba dipintu masuk, warga sempat masuk diarea CPA. Namun, petugas keamanan berpakaian satpam mengahadangnya. ''Tolong diluar saja, nanti pimpinan akan menemui,'' tegas salah satu Satpam. Lantaran tak kunjung ditemui, akhirnya warga kembali ke Balai Desa setempat

Dibalai desa setempat, pihak JOB P-PEJ bersama warga menggelar pertemuan untuk memecahkan dampak lingkungan tersebut. Saat pertemuan berlangsung sempat terjadi adu mulut antara warga dengan pihak JOB P-PEJ. Namun, beberapa saat kemudian dapat dilerai.

Trisno, perwakilan warga setempat kepada wartawan mengatakan, pihaknya mengeluhkan plant CPA lantaran selama sebulan ini semburan apinya semakin panas. Selain itu suara yang berasal dari CPA sangat bising sekali. Sehingga mengganggu warga. ''Baunya juga menyengat. Maka kami menginginkan agar CPA ini ditutup. Atau rumah kami yang dipindah dengan difasilitasi pihak pertamina,''pintanya.

Field Administration Superintendent Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB P-PEJ) Rizani ketika dikonfirmasi mengakui memang dampak lingkungan di CPA ada. ''Baik itu panas, maupun bising dan lainya,'' tutur dia via ponselnya kemarin sore. Namun, ketika CPA tersebut ditutup tidak bisa, sebab bisa terjadi penurunan produksi.

''Kami akan menyampaikan temuan-temuan ini ke pihak BP Migas. Sebab BP Migas yang mempunyai kewenangan. Dan kami akan mengundang BP Migas pada 6 Oktober mendatang untuk mengecek kelapangan. (zak) Sumber: RADAR BOJONEGORO

Read more...

Selasa, 15 September 2009

Pemkab Tuban Tolak Izin Pengeboran Minyak JOB-PPEJ ?

Soko Tuban
SOKO-Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB-PPEJ) mengaku izin pengeboran minyak di Desa Pandanwangi, Kecamatan Soko Tuban ditolak Pemkab setempat. Padahal rekomendasi dari badan Lingkungan Hidup pusat, Dirjen Migas, dan BP Migas telah keluar. Bahkan, Negara juga telah menyetujui anggaran untuk pengeboran minyak di Pandanwangi tersebut

Field Manager JOB-PPEJ, Sukarnoto Sukimin mengatakan sejumlah riset dan pengurusan izin terkait rencana pengeboran di Pandanwangi telah dilakukan. Bahkan akunya pengajuan izin ke Pemkab Tuban sebenarnya sudah dilakukan jauh-jauh hari. Terkait dengan semua persyaratan juga telah dilakukan, mulai dari tata ruang, izin usaha dan sebagainya.

"Izin Kontrak Kerja Sama (K2S) ini kita lakukan langsung dengan pemerintah pusat. Dalam kata lain, kegiatan pengeboran ini kita lakukan dengan jaminan dari pemerintah pusat," kata Sukarnoto Kamis (24/9).

Yang menjadi persoalan, saat persyaratan sudah dipenuhi, ada saja kekurangan persyaratan yang diungkapkan oleh Pemkab Tuban, hingga pihaknya belum bisa melakukan kegiatan seperti yang telah direkomendasikan oleh Dirjen Migas."Kalau dari pusat sudah kelar. Persoalannya, izin ke Pemkab Tuban telah kita urus, namun sampai saat ini belum bisa keluar," keluhnya.

Terkait dengan mandegnya ijin JOB-PPEJ Kepala Bakorwil II Bojonegoro Setiadjid telah telah melapor masalah tersebut ke Gubernur Jatim Soekarwo, baik melalui lesan maupun tulisan. Semua persoalan mengenai izin JOB-PPEJ yang masih belum selesai di Pemkab Tuban, termasuk izin pipanisasi JOB-PPEJ dari Central Processing Area (CPA) Mudi di Desa Rahayu Kecamatan Soko ke Kecamatan Palang, telah dilaporkan ke Gubernur Jatim."Pemprov Jatim adalah perwakilan pemerintah pusat. Sehingga, akan berusaha semaksimal mungkin memfasilitasinya," cetus Setiadjid dengan nada kesal.

Ditegaskan, setelah lebaran ini kemungkinan besar Gubernur Soekarwo akan mengundang JOB-PPEJ, Pemkab Tuban dan BP Migas untuk mencari solusi terkait dengan persoalan tersebut. "Pada intinya Gubernur Soekarwo ingin masalah di Kabupaten Tuban tidak berlarut-larut dan jelas solusinya. Dalam waktu dekat ini akan segera dibahasa secara detail," lanjutnya.

Menurut Setiadjid, sebenarnya persoalan cukup jelas dan juga bisa dimengerti jika semua pihak sama-sama legowo maupun saling menghormati. "Aturan dana shearing 3 persen untuk provinsi, 6 persen untuk daerah setempat dan 3 persen untuk wilayah sekitar sudah sangat jelas," sambungnya.

Kepentingan migas lanjut Setiajid, bukan milik pribadi atau lembaga. Tetapi lebih luas ini adalah kepentingan minyak skala nasional dan masyarakat luas. "Surat ke Gubernur Soekarwo sudah kami kirimkan pertengahan puasa lalu dan kesetelah jadwal beliau sedikit luang, akan segera diagendakan pertemuan," terangnya.

Pihaknya juga berharap, masalah izin di Tuban tidak tersendat dan bias secepatnya selesai. Karena, saat ini diperlukan solusi yang tepat, agar perizinan tidak lama terhenti di pemkab. "Dari pusat sebenarnya telah memberikan rekomendasi, namun ada persoalan yang belum selesai," lanjutnya.

Salah satunya mengenai izin lokasi di Pandanwangi tidak turun, karena alasannya harus ada persetujuan melalui mekanisme rapat di Kepala Desa dan Badan Perwakilan Desa (BPD) desa setempat. uki/kpo./sumber : Republika Newsroom

Read more...

Sabtu, 05 September 2009

Mau Ngajar, Guru Bunuh Diri di Sekolah

Soko Tuban
Ini adalah berita tentang pak Guru dari sumber lain
- Surya
- Seorang guru ditemukan tewas di lingkungan sekolahan, Kamis (3/9). Adalah Sri Cahyono Efendi, 58, guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bangunrejo I, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban yang ditemukan sudah tidak bernyawa dengan kondisi lehernya menggantung di kantin sekolahan sekitar pukul 06.30 WIB. Saat ditemukan, Efendi masih dalam kondisi berseragam dinas PNS (pegawai negeri sipil) lengkap.

Dugaan sementara, guru yang tinggal di Dusun Keplak, Desa Sukosari, Kecamatan Soko, Tuban ini nekat mengahiri hidupnya karena tekanan ekonomi keluarga. Lantaran tidak kuat menahan beban yang dialaminya, bapak empat anak ini nekat mengahiri hidupnya dengan cara mengaitkan tali rafia warna abu-abu di puntu kantin yang berada di pojok utara sekolahan tersebut dengan lehernya sampai ia tewas.

Orang pertama yang mengetahui kejadian ini adalah Kaswafi, 34, penjaga
sekolah. Saat itu, ia sedang membersihkan lingkungan sekolah seperti kebiasaan sehari-hari yang dilakoninya. Saat akan membersihkan kantin, ia tercengang ketika melihat tubuh Efendi tergantung di pintu kantin dan sudah tidak bernyawa. “Saat pertama saya temukan, pak Efendi sudah meninggal dunia,” katanya.

Ketika itu, menurutnya, korban masih dalam keadaan berseragam dinas warna coklat lengkap. Termasuk ponselnya yang berada di saku celana juga masih aktif. Termasuk sepeda motor korban juga masih utuh terparkir dengan rapi di salah satu ruang
kelas di gedung sekolah yang menghadap ke selatan tersebut. “Saya sempat tertegun karena kaget. Setelah itu saya langsung melaporkan kejadian ini ke kepala sekolah dan guru-guru yang lain,” sambungnya.

Dikisahkanya, ketika pertama kali ditemukan itu posisi jenazah memang mengantung di pintu kantin menghadap ke arah utara dengan tergantung di pintu kantin sekolah. Tapi, saat itu diketahui lutut korban menyentuh tanah. Padahal, tali yang menjerat lehernya kecil, dan tidak putus.

Mendapat laporan tentang kejadian ini, petugas Polsek Soko langsung mendatangi lokasi. Setelah dilakukan evakuasi, korban dilarikan ke Puskesmas Soko untuk dilakukan outopsi. Selanjutnya, korban dibawa ke rumah duka untuk selanjutnya dimakamkan. “Jenazah korban diturunkan berjarak setengah jam setelah ditemukan,” terang Kanit Reskrim Polsek Soko, Bripka Syukri.

Sementara dari hasil pemeriksaan dan keterangan para saksi, diduga kuat korban memang tewas karena bunuh diri. “Sejauh ini kami tidak menemukan adanya tanda penaiayaan. Jadi dugaan kuat korban meninggal bunuh diri,” tegasnya. “Mengenai penyebab utama bunuh diri tersebut diduga kuat karena himpitan ekonomi keluarga,” sambungnya.

Dasarnya, korban selama ini tinggal bersama tiga keluarga di rumahnya. Termasuk empat orang anak dan semua keluarganya itu, dia sendiri yang menanggung beban hidup keluarga. Sampai-sampai setiap kali menerima gaji langsung habis untuk kebutuhan keluarga besar tersebut.

Dari infoemasi yang digali, korban beberapa hari sebelumnya juga telah meminjam uang kepada koperasi. Namun, karena gajinya minus hingga pengajuan pinjaman
tersebut diperhitungkan. Sedangkan anak-anaknya juga belum ada yang bekerja segingga tidak bisa membantu menyukupi kebutuhan itu. Apalagi, saat ini mendekati musim lebaran yang tentunya butuh uang lebih banyak lagi.

Akibat kejadian ini, sehari kemarin kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut diliburkan mendadak. Para murid dan guru yang sudah datang ke sekolahpun kembali pulang lagi. Namun, para guru semuanya mengganti kesibukan hari kemarin dengan melayat ke rumah korban.

Dimata para guru dan para pegawai di lingkungan sekolahan itu, Efendi dikenal sebagai seorang guru senior yang memiliki kebiasan baik. Termasuk kedisiplinanya mengajar juga terbilang bagus karena jarang sekali Efendi telat dating ke sekolah. Tak hanya itu, selama ini juga tidak ada masalah serius yang terjadi dengan Efendi di lingkungan sekolah.

Sri Erni, kepala sekolah SDN Bangunrejo I mengatakan, selama ini Efendi tidak pernah ada masalah, dia juga dianggap guru yang baik selama bertahun-tahun mengabdikan ilmunya di sekolahan tersebut. “Pak Efendi itu orangnya baik. Dia juga termasuk guru senior di sekolahan ini,” katanya.

Diyakininya, penyebab bunuh diri yang dilakukan Efendi tidak ada sangkut pautnya dengan masalah sekolahan. Pasalnya, selama ini tidak ada masalah apapun yang melibatkan Efendi di sekolah. “Saya yakin penyebab utamanya adalah masalah keluarga. Sebab korban adalah guru yang baik, dan tinggal tiga tahun lagi dia pension,” lanjutnya.

Hal senada juga diungkapkan Mustomo, rekan sesama guru dengan korban. “Saya benar-benar kaget saat mendengar masalah ini. Pagi tadi (kemarin) saat akan berangkat mengajar saya mendapat SMS dari teman yang mengabarkan bahwa pak Efendi ditemukan meninggal dalam keadaan menggantung di kantin sekolahan. Mendengar itu, saya langsung menuju sekolah untuk memastikannya,” ungkap guru asal Soko ini.

Sesampai di sekolahan, ia mengaku langsung terperangah saat melihat rekanya tewas dalam keadaan mengenaskan tersebut. “Ini jelas merupakan kejadian yang menyedihkan bagi kami. Pak Efendi itu orang sangat baik. Selama ini dia juga tidak pernah telat setiap kali mengajar di sekolah,” kisahnya. “Dan saya juga yakin penyebabnya bukan masalah di sekolahan. Sebab selama ini dia tidak punya masalah apa-apa di sekolah,” tambahnya. st31

Kronologi
pukul 06.30 WIB korban ditemukan oleh penjaga sekolah sudah meninggal dunia dalam keadaan menggantung di pintu kantin dengan tali adan masih mengenakan seragam dinas warna coklat lengkap. Termasuk HP yang disimpan di sakunya juga masih aktif.
saat ditemukan, korban dalam kondisi menghadap ke utara di kantin yang terletak di sebelah pojok utara gedung sekolah
selang 30 menit, korban dievakuasi dari posisinya yang menggantung kemudian dilarikan ke Puskesmas Soko, Tuban untuk dilakukan pemeriksaan.
selain melakukan pemeriksaan terhadap jenazah korban, polisi yang sudah tiba di lokasi juga memintai keterangan kepada sejumlah saksi yang ada di TKP (tempat kejadian perkara)
usai menjalani pemeriksaan di puskesmas, korban dibawa ke rumah duka untuk selanjutnya di makamkan di pemakaman umum desa setempat
dari hasil pemeriksaan sementara, korban diduga bunuh diri karena himpitan ekonomi yang dialaminya. surya.co.id

Read more...

Guru kendat di sekolahan

Soko Tuban
WARGA RAGUKAN MATI BUNUH DIRI
Entah bunuh diri atau dibunuh, semuanya masih diselidiki polisi. Tapi yang jelas Sri Cahyo Efendi, guru SDN Bangunrejo, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, berusia 55 tahun ini Rata Penuhditemukan tewas kendat dengan lilitan tali rafia pada lehernya di sekolah tempat dia mengajar, kemarin pagi.

Saat pertama ditemukan guru berstatus PNS asal Dusun Keplak, Desa Sokosari, Kecamatan Soko itu, masih mengenakan seragam dinas warna krem. Tali rafia yang melilit lehernya terhubung dengan kayu di atasnya.

Darah kental ke luar dari mulutnya, matanya tidak melotot dan lidahnya pun tidak menjulur.
Bapak lima putri berpostur sedang itu kakinya nyaris menempel dengan tanah.

Lokasi tempat sang guru tergantung ini merupakan sela bangunan dua lokal kelas. Biasanya dipakai jualan jajan, untuk melayani murid. Di sekitar jasad yang tergantung ditemukan ceceran darah yang sudah mengering.

Keterangan yang dihimpun Duta. Menyebutkan kejadian yang menimpa guru sarat pengalaman itu pertama diketahui sejumlah warga yang melintas di depan sekolah.

Mereka melihat ada orang tergantung di antara sela bangunan kelas. Setelah didatangi ternyata guru SD setempat.

Warga dengan sejumlah perangkat desa kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Soko. Polisi langsung mendatangi empat kejadian, sesaat berikut sejumlah staf Puskesmas Soko datang ke lokasi.

Setelah dilakukan olah TKP, akhirnya jasad guru tersebut diturunkan dan dibawa ke Puskesmas Soko, sebelum dibawa pulang keluarganya ke Dusun Keplak, Desa Sokosari.

“Kalau melihat kondisi jenasah Pak Efendi, sepertinya telah meninggal tadi malam. Saya tidak tahu apa penyebabnya kok sampai Pak efendi meninggal dengan cara begitu,” kata Muhammad Zaenuri (45), warga Desa Bangunrejo.

Sementara sejumlah warga Dusun Keplak, Desa Sokosari, Kecamatan Soko, yang ditemui menyatakan, tak tahu menahu penyebab tragedi kematian Efendi.
Meski begitu, warga menyatakan tidak percaya jika Efendi mengakhiri hidup seperti itu.
“Ini tanggung jawab polisi untuk mengungkapnya,” kata sejumlah warga saat ditemui takziyah di rumah duka. Sumber : dutamasyarakat

Read more...

Senin, 31 Agustus 2009

Instalasi Comdev Dijual Perangkat Desa

Soko Tuban
TUBAN - Instalasi pengairan senilai Rp 500 juta bantuan Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB P-PEJ) untuk Desa Rahayu, Kecamatan Soko

diduga dijual sekretaris desa (Sekdes) setempat, Dasim. Kasus dugaan penggelapan itu sekarang ditangani Unit I Satreskrim Polres Tuban.
Rata Penuh
Instalasi pengairan yang dijual, antara lain, empat unit pompa kecil merek Dompeng, dua unit jetset merek Mitsubishi, dua unit pompa Mitsubishi tipe FM 6D 15, dan pipa paralon ukuran 10 inch sepanjang 3.400 meter. Bantuan disalurkan perusahaan operator minyak itu selama dua tahap pada 23 Oktober 2003 dan 3 Oktober 2006 melalui program comdev (community development). Tujuannya, meningkatkan produksi pertanian desa setempat.

Kasus yang memicu protes dari sejumlah petani itu dilaporkan Sukisno, 44, tokoh masyarakat setempat dan lima warga lainnya pada 18 Juli lalu. Namun, baru kemarin (30/8) Satreskrim Polres Tuban mengeksposnya usai memeriksa saksi pelapor, perangkat desa, dan JOB P-PEJ.

Dalam keterangan pelapor, lelang instalasi pengairan itu berlangsung pada 24 Juni 2009 di balai desa. Dari lelang tersebut, Dasim selaku ketua panitia lelang yang juga ketua himpunan petani pemakai air (HIPPA) mendapat uang Rp 49.380.000. Berbagai jenis instalasi pengairan tersebut dilelang menurut item jenis barang.

Sunjani, salah satu peserta lelang, misalnya membeli pipa 10 inch sepanjang 761 meter dengan harga Rp 23.040.000. Kabarnya, pelelangan aset HIPPA berdasar rapat di balai desa setempat pada 15 Juni 2009. Rapat tersebut dihadiri dan disetujui perangkat desa, BPD, dan RT/RW. Salah satu pertimbangan menjual instalasi pengairan karena selama tiga tahun piranti tersebut mangkrak dan tidak dioperasikan.

Kasatreskrim Polres Tuban Iptu Budi Santoso mengatakan, satuannya masih mempelajari unsur pidana dalam kasus itu. Untuk mengupas materi perkara tersebut, rencananya hari ini satreskrim gelar perkara dengan mengundang kejaksaan dan sejumlah pelapor. (ds)Radar Bojonegoro

Read more...

Minggu, 23 Agustus 2009

BPR Mentari Terang Dibobol Nasabah Fiktif

Soko Tuban
TUBAN - Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Mentari Terang Tuban kebobolan. Seorang debitur fiktif mampu mendapatkan kredit dari bank ini Rp 8,5 juta. Debitur fiktif yang akhirnya diketahui bernama Ari Irawan, 35, warga RT 01/IX Dusun Jalin, Desa Prambon, Kecamatan Soko, itu ditetapkan Unit IV Satreskrim Polres Tuban sebagai tersangka.

Kasus adanya debitur fiktif tersebut terungkap setelah BPR Mentari Terang menagih kepada orang yang identitasnya dicatut untuk kredit. Dia adalah Yuli Wanto, 23, warga RT 05/II Desa Minohorejo, Kecamatan Widang.

Menurut keterangan petugas, sebelumnya Ari menjadi perantara Yuli saat membeli tunai motor Vixion S 3824 E di Rajawali Motor Tuban, Jalan Basuki Rahmat pada Mei lalu. Karena ikut mengurus pembelian motor, saat BPKB kendaraan roda dua itu keluar pada Juni lalu, Ari yang mengambil surat berharga tersebut.

BPKB inilah yang dijadikan agunan Ari untuk mengajukan kredit di BPR Mentari Terang. Pengajuan atas nama Yuli, sesuai nama pada BPKB. Diduga, saat memroses pengajuan kredit Ari, pihak perbankan tidak mensurvei dan mengecek persyaratan administrasinya.

Kasus ini terungkap saat pembayaran angsuran pada bulan ketiga (Agustus) macet atau tidak dibayar. Yuli yang ditagih pembayaran angsuran kredit terkejut karena dirinya tidak merasa mengajukan. Dia tambah terkejut setelah mengetahui agunan yang diajukan BPKB motor miliknya.

Kasatreskrim Polres Tuban Iptu Budi Santoso mengatakan, setelah memintai keterangan saksi korban dan tersangka, pihaknya melanjutkan pemeriksaan kepada petugas bank. ''Perbuatan tersangka memenuhi unsur kuat menipu sebagaimana diatur dalam pasal 378 KUHP,'' kata dia. (ds)Radar Bojonegoro

Read more...

Rabu, 29 Juli 2009

Dalami Kasus Jerat Leher Pelajar SD

Soko Tuban
TUBAN
-Polsek Tuban masih mendalami penyelidikan kasus penjeratan leher terhadap Jihan Nur Rahayu, 10, pelajar salah satu SDN di Tuban. Dari hasil penyelidikan, untuk sementara polisi baru mendapatkan petunjuk terkait alat yang digunakan pelaku saat menganiaya korban di rumah dinas rumah potong hewan (RPH) Sumur Srumbung, Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban pada Jumat (17/7) lalu. Kapolsek Tuban AKP Yani Susilo mengatakan, piranti tersebut sejenis senar yang kedua ujungnya diikat kayu.

Dikatakan dia, piranti tersebut diduga dijeratkan pelaku ke leher korban yang tengah tidur di lantai ruang tengah. Akibat jeratan tali tersebut, leher korban mengalami luka terbuka sekitar 5cm dengan kedalaman sekitar 0,5cm. Saat dijerat lehernya, korban merintih kesakitan. Rintihan tersebut kemudian didengar Narti, bibinya yang tidur di sebelah korban. Begitu Narti bangun, pelaku yang identitasnya sampai sekarang masih gelap, kabur melalui pintu belakang. Saat kejadian, korban di rumah bersama bibi dan kakak perempuannya. Sementara, Basuki Rahmat, 54, pegawai Dinas Pertanian Bidang Peternakan menunggui ibunya di RSUD dr R. Koesma Tuban.

Dikatakan Yani, selain mendalami identitas pelaku, polisi juga masih menyelidiki motif penjeratan tersebut. Ditandaskan mantan Kanit Laka Satlantas Polres Tuban ini, latarbelakang penjeratan tersebut bisa bermotif macam-macam. ''Ini yang masih kami dalami,'' tegas dia.(ds) Radar Bojonegoro

Read more...

About This Blog

Cek Tagihan PLN

blog tutorial

Gabung Yuk...!

Test Form

Name:
Email Address:
Alamat Web
Berapa usia anda...? Dibawah 17 th
Antara 17 s/d 30th
Diatas 30 th
Apa jenis kelamin anda Pria
Wanita
Baina huma
Apa pendapat anda tentang blog ini..? Sangat kami harapkan, saran, kritik, maupun pendapat anda. silahkan ketik pada kolom disamping ini

free forms

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP