Kamis, 10 Juli 2008

Tanggapan dari Pihak PT. Gasuma Federal Indonesia

Soko Tuban

beberapa waktu lalu diblog ini termuat berita mengenai kegiatan PT Gasuma dikecamatan Sokoyang saya kutip dari sebuah situs online, yang kemudian mendapat klarifikasi dari pihak PT Gasuma Federal Indonesia sebagai berikut :

Tanggapan dari Pihak PT. Gasuma Federal Indonesia

Jumat, 4 Juli, 2008 15:25
Dari:
Kepada:
kangrus@yahoo.co.id

Dear Kangrus

Sehubungan dengan tulisan di Blog saudara mengenai kegiatan PT. Gasuma di kecamatan Soko kabupaten Tuban, dengan ini kami akan mengklarifikasi hal tersebut:

1. Bahwa pada saat ini PT. Gasuma Federal Indonesia belum melakukan aktifitas fisik di wilayah tersebut. Pada saat ini kami masih mengurus ijin lokasi.

2. Bahwa tidak ada hubungannya antara pembangunan mini LPG plant PT. Gasuma Federal Indonesia dengan kegiatan PT. Geolink dan prusahaan lainya perihal pembangunan tanki minyak dan pembangunan pipa.

3. Tidak ada oknum pejabat yang membekingi kegiatan kami tersebut।

Demikian kami sampaikan, mohon apabila ada berita miring mengenai PT। Gasuma Federal Indonesia dapat di klarifikasi terlebih dahulu kepada kami। Karena sesungguhnya proyek PT. Gasuma Federal Indonesia adalah proyek penyelamatan lingkungan yang disebabkan pembakaran Flare Gas JOB Pertamina – Petrochina East Java, karena pemberitaan miring tersebut dapat menghabat kami dalam pembangunan proyek tersebut dan kami berharap dengan terlaksananya proyek kami ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat Soko dan sekitarnya.

Terimakasih

Adhitya Nusa Perdana

lantas yang sebenarnya bagai mana...?

sebab ketika saya terima klarifikasi tersebut sumber berita दीsitus asalnya sudah दीdelet

dengan dimuatnya klarifikasi ini supaya menjadi pelajaran bagi masyarakat bila tersiar berita yang memprovokasi supaya masyarakat lebih jeli mengklaim kebenaran sebuah berita।

Yang sebenarnya...? hanya masyarakat yang Faham & mengerti serta fihak yang terkait masalah tersebut yang tahu..!!! Semoga masyarakat kita menjadi lebih cerdas...!!!

Dibawah ini adalah berita yang saya maksud.


Tak Ada Izin dan Abaikan Kesehatan Warga
Keresahan warga di lima RT 1-5 RW VI, Dusun Losari, Dukuh Badegan, Desa Sokosari, KecamatanSoko, Kabupaten Tuban, sedikit plong (lega). Pasalnya, PT Gasuma diminta paksa untuk menghentikan jalan menuju lokasi bakal dibangunnya tangki minyak dan pabrik LPG.

Rabu siang (11/6/08) kemarin, 12 anggota Komisi A DPRD Tuban meninjau langsung ke lokasi. Dengan ditemani
beberapa warga Dukuh Badegan, Desa Sokosari, para wakil rakyat itu terkejut ketika menyaksikan lamgsung adanya aktivitas pengurukan jalan yang dilakukan PT Gasuma.
“Kami minta dengan paksa agar aktivitas pengurukan ini dihentikan sekarang juga (Rabu (11/6) siang, red),” kata Sekretaris Komisi A, Agung Supriyanto, SH, yang ikut dalam rombongan ke lokasi Dukuh Badegan kemarin.

Pasalnya, setelah ditelusuri ke Bappedal maupun LH Tuban bahwa izin lokasi maupun HO dari konsorsium beberapa perusahaan – terdiri dari PT Gasuma, PT Geo Link Nusantara, PT Petrogas Jatim Utama, dan PT Barata Indonesia – belum ada. Tapi yang terjadi, di lokasi sudah ada aktivitas pengurukan jalan. “Ini merupakan langkah nekat dan kesembronoan,” ujar politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) Tuban ini.

Karenanya, ia berjanji akan melakukan pengawalan dalam soal ini. Sebab, ia mengkhawatirkan langkah nekat dan kesembronoan yang dilakukan beberapa perusahaan tersebut ada oknum pejabat yang membekengi. Sehingga mereka berani melakukan aktivitas, meskipun belum mengantongi izin lokasi maupun HO. “Saya bersama teman-teman di Komisi A akan mengawal langsung tindakan yang dilakukan perusahaan di Dukuh Badegan, Desa Sokosari, Kecamatan Soko tersebut,” kata Agung. ibu

Terkait Rencana Pembangunan Kilang Minyak
TUBAN – Keresahan warga di lima RT I-VI, Dusun Losari, Dukuh Badegan, Desa Sokosari, Kecamatan Soko, Tuban, bukannya merasa iri dengan keempat warganya (Muriadi, Kasan, Tamuzi dan Kusnan) yang tanahnya telah disewa untuk pembangunan kilang minyak dan pabrik LPG. Namun lebih disebabkan keberadaan pabrik yang dekat dengan pemukiman pendudukan itulah yang diresahkan sekitar 300 Kepala Keluarga (KK) di lokasi itu.

“Kami mengumpulkan tandatangan warga yang kemudian kami adukan ke DPRD Tuban, bukannya kami menolak adanya pembangunan pabrik di desa ini. Yang kami resahkan karena dekat dengan lokasi pemukiman penduduk. Silahkan dibangun, tapi yang jauh dengan pemukiman penduduk. Toh, tanah kas desa ada yang lokasinya jauh dari pemukiman penduduk,” kata Supartono sambil menunjuk peta lokasi rencana dibangunnya kilang minyak dan pabrik LPG di Dukuh Badegan.

Alih-alih resahnya warga Dukuh Badegan itu, ternyata sebagian warga dan perangkat desa (setidaknya) telah menikmati uang sewa dari sekitar Rp 3,6 miliar. Angka ini merupakan asumsi harga sewa tanah sebesar Rp 9.000/meter dari luas lahan 8 hektare yang akan dijadikan lahan tanki dan pabrik LPG itu.

Sebagaimana disampaikan Kepala Desa Sokosari H. Sutikno kepada Surabaya Pagi beberapa hari lalu, bahwa lahan inti pabrik seluas 3 hektare merupakan tanah penduduk, kemudian ditambah 5 hektare sebagai lahan penyangga yang merupakan sebagian tanah penduduk dan sebagian lagi tanah kas desa.

“Saya sempat mendengar langsung dari pemilik tanah, bahwa harga sewa tanah Rp 9.000/meter dengan masa sewa selama 5 tahun. Artinya, kalau lahan yang dipakai seluas 8 hektar, maka akan ditemukan angka Rp 3,6 miliar,” kata Sukadi. “Saya tidak memasalahkan duit yang didapat, tapi kok lokasinya dengan pemukiman penduduk,” tambah Sukadi yang rumahnya sekitar 50 meter dari rencana lokasi kilank minyak dan pabrik LPG itu.
Sukadi yang mengaku pernah bekerja bertahun-tahun di penampungan minyak milik Petro China di Desa Rahayu ini, kemudian menjelaskan bahayanya limbah pabrik tersebut bagi kesehatan manusia. Dari hasil detektor Hidrogen Sulfit (H2S) yang dirangkum “Pertamina – Santa Fe Konsorsium Natindo Sendiko,” kata Sukadi, disitu sudah dijelaskan dengan rinci mengenai pengaruh fisik manusia dari limbah minyak yang dihasilkan milik Petro China (lihat data).

Menurut Sukadi, pengalaman pahit yang menimpa istrinya, Siti Aminah (35), yang pernah pingsan karena akibat bau yang dikeluarkan penampungan minyak milik Petro China – yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumahnya – bisajadi yang dikeluarkan sudah mencapai PPM 500.0 persentase 0.005. “Istri saya waktu itu langsung pingsan, untung saja segera mendapatkan perawatan,” aku Sukadi menceritakan pengalaman pahit keluarganya dua tahun lalu. “Saya tidak bisa berbuat banyak atau protes, karena lokasi Petro China bukan di luar desa saya,” tambahnya.
Sebab itulah, lanjut Sukadi, kalau sekarang di desanya sendiri mau dibangun kilang minyak dan pabrik LPG yang tidak lain merupakan proses lanjutan dari pengelolaan limbah minyak milik Petro China sekarang, Sukadi dan 300 warga di Dukuh Badegan merasa sangat keberatan.

Sementara itu, PT Gasuma maupun PT Petro China belum bisa dikonfirmasi terkait soal limbah maupun bakal dibangunnya kilank minyak dan pabrik LPG di Dukuh Badegan, Desa Sokosari, Kecamatan Soko tersebut. ibu
sumber : surabaya pagi

About This Blog

Cek Tagihan PLN

blog tutorial

Gabung Yuk...!

Test Form

Name:
Email Address:
Alamat Web
Berapa usia anda...? Dibawah 17 th
Antara 17 s/d 30th
Diatas 30 th
Apa jenis kelamin anda Pria
Wanita
Baina huma
Apa pendapat anda tentang blog ini..? Sangat kami harapkan, saran, kritik, maupun pendapat anda. silahkan ketik pada kolom disamping ini

free forms

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP