Jumat, 30 November 2007

BERITA SAIN'S

Tawon Pengendus Bom dan Narkoba

Suatu saat tawon yang terlatih dapat digunakan sebagai pelacak menggantikan anjing untuk mengendus obat-obatan terlarang, bom, atau tubuh pelaku kriminal. Dan ini tidak main-main.
Para ilmuwan menyatakan, salah satu spesies tawon yang tidak menyengat dapat dilatih mengenali bau tertentu dalam lima menit, setajam kemampuan seekor anjing pelacak.
Menggunakan peralatan jinjing yang mengandung beberapa tawon, para peneliti dapat menggunakan serangga tersebut untuk mendeteksi sumber bau, misalnya racun yang terkandung dalam jagung atau kacang, dan zat kimia yang dipakai sebagai bahan peledak.
“Detektor kimia yang sangat fleksibel dan leluasa bergerak semakin banyak dibutuhkan,” kata ahli ilmu serangga di Departemen Pertanian AS Joe Lewis. Padahal, pelacak terbaik yang ada sekarang sangat rumit, mahal, atau tidak praktis.
Seekor anjing pelacak saja membutuhkan latihan enam bulan dan menghabiskan biaya 15 ribu dollar AS agar dapat melacak bau dengan baik. Menggunakan tawon, biaya untuk menyediakan pelacak bau dapat diturunkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Lewis dan insinyur pertanian dari University of Georgia Glen Rains adalah bagian dari proyek pemerintah yang mempelajari kemungkinan manfaat serangga, binatang melata, atau udang-udangan dalam bidang pertahanan. Melalui proyek yang sama, para ilmuwan telah berhasil memanfaatkan lebah untuk mendeteksi ranjau darat.
Selama bertahun-tahun, Lewis dan koleganya di USDA, J.H. Tumlinson menemukan spesies tawon Microplitis croceipes yang berukuran kecil, bersifat predator, dan mengandalkan bau untuk menentukan lokasi madu dan tempat bertelurnya, yaitu tubuh ulat yang merusak tanaman.
Selain tidak menyengat manusia, tawon jantan menggunakan alat penyengatnya untuk memasukkan telurnya ke dalam tubuh ulat. Telur tersebut kemudian berkembang menjadi larva parasit dalam tubuh ulat.
Para ilmuwan menemukan bahwa tanaman yang dirusak oleh ulat tersebut mengeluarkan bau khas sebagai tanda terancam. Bau inilah yang menarik perhatian tawon-tawon berwarna hitam itu dan melatih serangga berukuran panjang sekitar 0,6 centimeter ini memilih sumber makanan dan tempat bertelur. “Mereka menjadi pelacak yang baik karena memang begitulah caranya bertahan hidup,” kata Lewis.
Latihan singkat
Menurut Rains, tawon-tawon ini dapat dilatih untuk mendeteksi bau tertentu dengan cepat. Para peneliti melepaskan bau yang unik kepada tawon-tawon lapar. Kemudian mereka memberikannya air gula selama 10 menit dan waktu istirahat semenit. Setelah bau dan sumber makanan tersebut diberikan selama tiga kali, tawon mampu memilih bau yang berhubungan dengan sumber makanannya ini.
Karena para ilmuwan tidak dapat mengikat tawon-tawon yang terlatih, mereka harus mengurungnya sambil memantau reaksinya terhadap bau tertentu. Alat tersebut terbuat dari silinder berbahan PVC berukuran 25 centimeter dengan lubang di salah satu ujungnya dan sebuah kipas di ujung lainnya. Di dalamnya terdapat kamera web yang terkoneksi ke laptop sehingga perilaku lima ekor tawon dalam kapsul plastik transparan yang berventilasi dapat dipantau secara langsung.
Ketika tawon-tawon tersebut mendeteksi bau yang dicari, mereka akan mengumpul di sekitar ventilasi dan menghasilkan citra yang gelap di layar komputer. Jika belum ada bau yang dicari, mereka akan bebas terbang di dalam kapsul. Tawon-tawon ini dapat dipekerjakan selama 48 jam kemudian dilepas untuk melanjutkan sisa hidupnya, yang hanya berlangsung dua hingga tiga minggu.
“Yang kami miliki adalah teknologi cuma-cuma yang dapat diprogram dengan cepat dan leluasa dipindahkan ke mana-mana,” kata Lewis. Ia yakin ’tawon pelacak’ ini dapat digunakan untuk mendeteksi bahan peledak di pintu gerbang bandara, memeriksa tubuh penumpang, memantau racun yang mungkin tercampur pada bahan makanan, atau mendeteksi penyakit seperti kanker dari bau napas seseorang.
“Alat ini sangat murah dan sangat peka,” kata Rains. “Anjing harus dilatih berbulan-bulan dan harus diawasi seseorang, sedangkan tawon dapat dilatih dalam waktu singkat,” lanjutnya.
Raind yakin Tawon Pelacak akan tersedia di pasaran dalam tiga hingga lima tahun lagi. Ia dan Lewis masih mencoba berbagai cara meningkatkan perkembangbiakan tawon dan cara melatih ratusan tawon bersama-sama.
“Kami telah memastikan bahwa secara teknis hal tersebut dapat dilakukan,” kata Lewis, “Hanya butuh sedikit penyempurnaan dan perbaikan metodologi.” Menurut Lewis, lebah, berbagai jenis serangga lainnya, bahkan kutu air, mungkin juga dapat dilatih untuk mengendus barang berbahaya. Dengan demikian, berbagai jenis hewan sangat berpotensi menjadi sumber sensor biologi.
Ilmuwan lain juga berusaha memanfaatkan kemampuan serangga dalam mengendus bau. Para 2002, Pentagon mempertimbangkan untuk memasang alat pemancar gelombang seukuran kristal garam pada tubuh lebah pengendus untuk melacak bahan peledak dan mengirimkan informasinya secara nirkabel ke laptop atau komputer.
Sebuah perusahaan Inggris Inscentinel Inc. menjual lebah terlatih dan kandangnya tempat lebah-lebah tersebut memantau bau alami atau zat kimia buatan manusia. Sistem ini dapat digunakan untuk mengetahui adanya bahan peledak, senjata kimia, ranjau darat, dan mengontrol kualitas makanan.
Jerry Bromenshenk, seorang profesor peneliti di Montana State University menggunakan lebah untuk mendeteksi ranjau. Lebah akan berkumpul di atas ranjau atau bahan peledak lainnya kemudian ia memetakan lokasi keberadaannya menggunakan teknologi pengindera laser.
“Serangga dan antenanya memiliki sistem penciuman yang sangat baik seperti anjing,” kata Bromenshenk. “Jumlahnya sangat melimpah dan relatif jauh lebih murah,” lanjutnya.
Selain itu, lanjut Bromenshenk, lebah mungkin lebih cocok untuk di tempat terbuka, sedangkan tawon lebih cocok di dalam ruangan. “Hanya saja, kami melepaskan lebah tersebut sehingga tidak cocok untuk area terbatas seperti bandara,” katanya.
(sumber erik.)

Read more...

Jumat, 16 November 2007

Kabare wong soko V

Panen Raya di Sekitar Flare PetroChina, Hasilkan 12 Ton Padi .
Reporter: Agus Sighro Budiono
Anggapan bahwa lahan pertanian di sekitar sumur migas menjadi tandus dan tak produktif, ternyata tak selamanya benar. Sebab lahan pertanian di kawasan buffer zone (daerah penyangga) khususnya yang berdekatan dengan flare (cerobong api) pengeboran minyak pun bisa ditanami padi. Bahkan hasil panennya bisa mencapai dua kali lipat dari lahan pertanian normal.Flare yang selama ini dianggap sebagai penyebab merosotnya produktifitas tanaman dan memicu munculnya konflik antara JOB PPEJ dengan petani di area pengeboran minyak, dapat ditepis melalui hasil uji coba dari kerjasama antara Joint Operating Body Peraminan-PetroChina East Java (JOB PPEJ) dengan tim terpadu yang terdiri dari Kodim 0811 Tuban, Dinas Pertanian Tuban dan salah satu produk nutrisi tanaman. Program yang digagas PetroChina tersebut, kemarin berhasil melakukan panen raya padi di sekitar buffer zone Central Processing Area (CPA). Tepatnya di Desa Rahayu kecamatan Soko, Tuban yan berbatasan dengan Desa Banjarsari, Bojonegoro.Subakir, salah satu petani penggarap mengatakan bahwa penggarapan lahan di sekitar sumur migas pada prinsipnya hampir sama dengan lahan peranian pada umumnya. Namun, karena penanaman padi di kawasan buffer zone dikelola dengan teknis dan budi daya yang baik, maka hasil panennya pun bagus.Hal senada dikatakan oleh Dandim 0811 Tuban, Letkol Arh Nurruddin. Menurutnya, flare tak berpengaruh pada areal pertanian padi. “Hasil uji coba ini sangat menggembirakan dan akan kita kembangkan di musim tanam yang akan datang,” katanya.Sementara itu, Victory S Kirana, field manager JOB PPEJ, mengaku gembira atas pembuktian hasil uji coba tersebut. “Dulu area buffer zone jadi lahan tandus, sekarang sudah bisa menghasilkan. Kami berharap manajemen pendampingan bisa dikembangkan kepada petani sekitar pengeboran dengan areal lebih luas. Sehingga kesejahteraan petani bisa meningkat,” kata Victory. Dari hasil uji coba tersebut, menurut Bambang Silasakti, Humas PetroCina, saat ini sudah ada 30 hektare lahan petani yang siap mengikuti program ini.Acara panen raya di areal buffer zone itu diikuti oleh Victory S Kirana, field manajer JOB PPEJ dan jajaran muspida II Tuban dan para pejabat pemkab Tuban. Bupati Tuban sendiri diwakli oleh Asisten bidang pembangunan Bambang Sumantri.(asb)JatimNews.Com

Read more...

Tuban & sekitarnya

Puting Beliung Landa Tuban dan Bojonegoro
Sebanyak 20 rumah roboh di sejumlah Desa di Kecamatan Kepohbaru dan Tambakrejo, Bojonegoro dan di Kecamatan Widang dan Parengan, Tuban, Jatim, Minggu (11/11), setelah diterjang angin puting
beliung.
Kepala Badan KB dan Kesejateraan Sosial Pemkab Bojonegoro, Maftuh, Senin (12/11), menyatakan di Desa Sidonganti Kecamatan Kepohbaru tercatat 10 rumah yang roboh , diantaranya empat rumah rata dengan tanah dan puluhan lainnya rusak akibat diterjang angin putting beliung yang berlangsung sekitar 20
menit.
Sedangkan di Desa Mejuwet juga di Kec. Kepohbaru ada dua rumah yang roboh milik Surpiyanto, 30, dan Bokir, 20.
Sementara itu di Desa Desa Gambongan Kecamatan Tambakrejo, tercatat satu rumah roboh dan 42 unit rumah rusak.
"Mereka sudah mendapatkan bantuan Sembako juga uang dengan total Rp10 juta untuk memperbaiki rumahnya yang roboh dan rusak," katanya.
Menurut Maftuh, pihaknya belum bisa memperkirakan jumlah kerugian akibat rusaknya rumah warga yang terkena musibah angin puting beliung itu.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. "Yang jelas seluruh Posko Satlak di seluruh kecamatan di Bojonegoro sudah diminta waspada dan bersiaga menghadapi adanya angin puting beliung susulan,"katanya.
Di Tuban, di laporkan angin putting beliung juga melanda Desa Ngadipuro, Patihan di Kecamatan Widang, dan Desa Brangkal Kecamatan Soko.
Di sejumlah desa tersebut, tercatat ada 11 rumah roboh, puluhan lainnya rusak berat dan ringan selain sebuah gedung SDN di Desa Ngadipuro rusak. (Ant/OL-03)

Read more...

Kabare wong soko IV

Tubuh Putus Dilindas Tronton
Diduga akibat kurang berhati-hati saat berusaha menyalip truk tronton, Mariyono, 35, yang memboncengkan Bajuri, 30,
asal Desa Prambon, Soko, Kabupaten Tuban, jatuh di Jalan Raya Talun, Sukodadi, Kabupaten Lamongan, Selasa
(6/11). Bajuri tewas seketika.


Kecelakaan bermula tatkala sepeda motor Maryono melaju dari arah timur, dan berusaha mendahului truk tronton di
Jalan Raya Talun. Ternyata, setang sepeda motor membentur badan truk tronton nopol AG 7338 KU yang dikemudikan
Daro'is, 45. Akibatnya sepeda motor nopol L l 4145 GN tersebut oleng, dan jatuh.

Maryono pun jatuh ke kanan jalan, sedangkan Bajuri jatuh ke kiri jalan, dan tewas seketika terlindas ban truk tronton.
Tubuh korban terbelah menjadi dua. Mariyono, warga Desa Rejo Agung, Kedung Waru, Kabupaten Tulung Agung, kini
diperiksa di Mapolsek Sukodadi. ery

Read more...

Jumat, 09 November 2007

Trasyuwono, 39, dan Warno, 18, akhirnya ditahan pihak Polres Tuban. Guru dan murid SMAN Tambakboyo itu dijerat pasal penistaan terhadap agama krena me

TULUS W.-DWI S., Tuban ------
Trasyuwono, 39, dan Warno, 18, akhirnya ditahan pihak Polres Tuban. Guru dan murid SMAN Tambakboyo itu dijerat pasal penistaan terhadap agama krena mengikuti aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah.TULUS W.-DWI S., TubanRuang tahanan Mapolres Tuban kini bertambah dua penghuni. Tepatnya, sejak Kamis malam lalu. Dua penghuni baru ituTrasyuwono dan Warno. Keduanya pengikut aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah."Mulai tadi malam (Kamis malam, Red) mereka resmi kami tahan," ungkap Kasatreskrim AKP Effendy Lubis didampingi Kaur Bin Ops Ipda Budi Santoso kemarin (2/11).Guru dan muridnya di SMAN Tambakboyo itu memang tidak ditahan terpisah dengan tahanan lain. Keduanya juga diperlakukan sama dengan tahanan lain. "Makan juga sama. Tidak ada perlakuan istimewa," tandas Budi Santoso.Sebelum ditahan, keduanya menjalani pemeriksaan maraton Kamis lalu (1/11). Saat pemeriksaan kedua hari itu, Trasyuono berusaha menyamarkan diri setelah media cetak dan elektronik meng-close up-nya dalam pemberitaan. Saat itu dia mengenakan kaus biru berkerah dan topi hitam bertuliskan proshop.Guru yang membuat heboh ini juga mengenakan kacamata putih dengan frame hitam. Bercelana kain hitam dan bersandal plastik warna gelap. Hingga masuk ruang Kaur Binops Reskrim Polres Tuban Ipda Budi Santoso, tak satu pun polisi maupun wartawan yang menyanggongnya di lobi, mengenalinya.Wartawan koran ini berhasil membongkar penyamaran Trasyuwono saat yang bersangkutan keluar ruang Kaur Bin Ops untuk meminjam korek kepada tamu lainnya --untuk menyalakan rokoknya. Karena dianggap bisa menggagalkan penyamarannya, wartawan koran ini mendapat kesempatan dari Trasyuono untuk wawancara khusus di salah satu sudut lobi. Pendidik jebolan D3 Unair Surabaya ini bersedia wawancara karena agenda pemeriksaan masih lama.Selama wawancara berlangsung, sejumlah kontributor televisi belum juga mengenali. Mereka mencueki begitu saja pimpinan Al-Qiyadah Al-Islamiyah Tuban yang sejak pagi ditunggu kedatangannya tersebut. Begitu juga polisi yang sehari sebelumnya sudah mengenal Trasyuwono. Tak satu pun di antara mereka yang menyapa pria itu.Mereka baru mengerubungi pria kelahiran Surabaya 11 Januari 1968 ini setelah wawancara berlangsung lebih dari 30 menit. Tanpa ditunggui penyidik dan anggota Intelkam seperti pada pemeriksaan Rabu (31/10) lalu, Trasyuwono lebih leluasa menyampaikan terapan aliran yang dianutnya."Saya meyakini aliran ini paling benar daripada ajaran yang saya ikuti sebelumnya," tandas pegawai negeri sipil (PNS) berpangkat III-d itu.Keyakinannya itu menurut Trasyuwono seperti dirinya meyakini Achmad Moshaddeq alias Almasih Al-Maw’ud adalah rasul (utusan Allah) pada zaman ini. Setelah melepas kaca matanya, dia menyampaikan argumentasi atas keyakinannya tersebut. Achmad Moshaddeq menurut pendidik yang tinggal di Desa Sobontoro, Kecamatan Tambakboyo, itu mendapat wahyu dari Allah."Wahyu itu tidak berupa ayat, tapi penerapan ajaran Islam yang sesungguhnya dalam kalbu sang rasul," katanya.Sebelum wahyu itu turun, terang dia, Achmad Moshaddeq mendapat perlambang dalam tiga kali mimpi. Dalam mimpinya, Mosaddeq melihat perahu yang miring dan dipenuhi penumpang. Mimpi lain yang jadi perlambang kerasulan adalah melihat sebuah kota yang indah.Selama wawancara, ponsel Trasyuwono sempat beberapa kali berdering. Salah satu yang mengontaknya adalah kepala SMAN Tambakboyo Yos Sudarto. Dalam pembicaraan tersebut, guru SMAN Tambakboyo ini sempat menyampaikan argumentasi terkait keyakinan ajaran yang diikutinya."Silahkan, saya dipecat dari PNS. Sekarang pun, saya siap, Pak!" tegas Trasyuono kemudian menutup pembicaraan lewat ponselnya. Sambil memasukkan ponselnya di saku celana, dia bergumam bahwa Allah akan memberinya makan kalau dirinya tetap menjalankan syariah yang diyakininya.Dia mengaku, sebelum mengikuti aliran sesat Al-Qiyadah, saat kuliah dia pernah menjadi jamaah tabligh. Saat menjadi jamaah itu dirinya memelihara jenggot panjang. Pakaian yang dikenakan jubah putih."Saat mengikuti jamaah ini, saya tidur dari masjid satu ke masjid lainnya," tuturnya.Setelah setahun menjadi pengikut jamaah tersebut, dia memutuskan keluar karena merasa tidak sepaham.Pria asal Gubeng Kertajaya, Surabaya, itu juga mengaku saat kuliah pernah mendalami ilmu agama dan menjadi santri Kiai Ja’far di Jalan Brawijaya Surabaya. Ulama Surabaya lain yang diakui pernah menjadi gurunya adalah Kiai Rowi. Saat ditempatkan dan diangkat sebagai guru negeri di Timor-Timor pada 1992 (kini Timor Leste), Trasyuwono juga aktif dalam kegiatan di sebuah masjid di Same, tempatnya bermukim. Bahkan, karena penguasaan agamanya dianggap mumpuni, dia dipercaya menjadi imam di masjid setempat.Setelah Bumi Loro Sae lepas dari Republik Indonesia, dia dimutasi ke SMAN Tambakboyo.Sementara itu, terkait penanganan kasus Trasyuono dan muridnya, Warno, polisi kini juga telah mengamankan beberapa barang bukti terkait aliran yang dianut guru dan muridnya tersebut. Di antaranya buku-buku, selebaran, dan daftar anggota Al-Qiyadah. Polisi juga terus mengembangkan penyidikan kasus itu. Termasuk, mendalami aktivitas dan jaringan aliran tersebut menyusul disitanya sebuah buku dokumen kegiatan dari aliran tersebut. (*)
ZEN /(C.P)

Read more...

Minggu, 04 November 2007

BERITA DARI JAKARTA


SEKOLAH GRATIS (TOLONG DISEBARKAN !!!)Jika tidak berkeberatan forward di milis2 di mana anda bergabung.Kalau kenal atau mengetahui ada anak miskin atau dari golongan kurang mampu, lulus SD (berijasah) tetapi tidak dapat meneruskan ke SMP, umur max 18 tahun, tinggal di Jakarta Selatan, dapat menghubungi Ibu Ade, Pancoran Timur VIII no. 4B Jakarta 12770 telp. 7990412 HP. 085691500258,Untuk selanjutnya akan disurvei. Jika tidak ada halangan tahun ini akan dibuka sekolah rakyat (SMP terbuka) gratis di Jakarta Selatan khusus untuk anak miskin dan dari golongan tidak mampu ..Best Regards,Ade AndriaOutreachSampoerna FoundationSampoerna Strategic SquareTower A, 27th FloorJl. Jendral Sudirman Kav. 45 Jakarta 12930, INDONESIAPhone: 62 21 577 2340 ext.7399
NB : Semoga berguna (hanya nerusin aja)thanks

Read more...

Rabu, 24 Oktober 2007

Kabare wong Soko III

Sehari, Dua Gantung Diri
RADAR BOJONEGORO

TUBAN - Dalam sehari, dua kepala rumah tangga di wilayah Kecamatan Soko ditemukan tewas gantung diri di atas pohon kemarin (21/10). Ngardi, 43, warga Desa Gununganyar yang tergantung di atas pohon nangka diduga frustasi karena tak mampu membiayai nikah anaknya. Sedangkan Kastur, 45, warga Desa Klumpit tergantung di atas pohon asam setelah tiga hari menghilang.

Jasad Ngardi lebih dulu ditemukan sekitar pukul 04.30 dengan leher terjerat tali plastik. Ujungtali tersebut diikatkan pada salah satu dahan pohon. Sementara ujung lainnya menjeratlehernya.Diperkirakan, pria ini telah lama tergantung di atas pohon. Sehingga, saat ditemukan ujung kakinya sudah menyentuh tanah karena tali yang dipakai menggantung molor.

Sebelum gantung diri, korban sempat mengeluh kepada sejumlah kerabatnya karena uang yang dimilikinya tak cukup untuk membiayai nikah putranya. Diduga, karena tidak menemukan solusi untuk menutup biaya nikah, korban memutuskan mengakhiri hidup dengan cara gantung diri.

Sedangkan Kastur, yang ditemukan tergantung setelah tiga hari menghilang dari rumah, sebelum meninggal sempat bercerita kepada kerabatnya jika dalam mimpinya dirinya diajak temannya mencari jerami. Sejak Oktober lalu, korban stres tanpa sebab yang jelas. Jasad korban kali pertama ditemukan Sarlan, tetangganya.

Kasatreskrim Polres Tuban AKP Efendi Lubis menyatakan, dalam visum luar terhadap jasad kedua korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik. "Tanda-tanda kematian korban karena bunuh diri juga ditemukan, yakni kemaluan dan anus masing-masing mengeluarkan sperma dan kotoran," tandasnya. (ds)

Read more...

Minggu, 21 Oktober 2007

KABARE WONG SOKO II

dutamasyarakat.com Warung bakso dan mie ayam milik Kasan, di Desa Sokosari, Kecamatan Soko, ludes terbakar di saat perayaan Idul Fitri 1428 H. Harta benda Kasan pun musnah dilalap si jago merah. “Saya pasrah dengan musibah ini,” katanya. (van,mu)

Read more...

Jumat, 19 Oktober 2007

Bertahan di Tengah Gelisah Zaman

Dutamasyarakat.com Sekalipun harga jual daun tembakau basah belakangan jatuh hingga Rp 900/Kg, namun petani di sentra tembakau di Kabupaten Tuban masih bertahan. Mereka masih nekad berspekulasi disaat panen sekitar sebulan mendatang, harga tembakau merangkak naik. Sementara itu, sejumlah wilayah sentra tembakau di Tuban semacam Plumpang, Rengel, Soko, Montong, Semanding dan Merakurak, masih bertahan dengan tanamannya. Padahal risiko menanam komoditas bahan utama rokok ini sangat berat di saat kemarau terik. Terlebih bersamaan puasa Ramadhan. Sejumlah petani di sentra tembakau yang ditemui Duta menyatakan, mereka tetap bertahan dengan menanam tembakau karena pangsa pasarnya jelas. Jika harga tembakau jatuh seperti musim panen lalu, dianggap petani sebagai hal lumrah. “Petani seperti kita ini kan hanya berikhtiar dengan menanam, kalau saat panen harganya jeblok ya mungkin belum rejekinya. Kalau kita tidak menanam tembakau harus menanam apa, tanah disini kalau kemarau paling cocok ditanami tembakau,” kata Ramsono di samping sejumlah petani asal Desa Jegulo, Kecamatan Soko, Tuban, kemarin siang. Dia katakan, idealnya agar petani tidak merugi harga tembakau basah sebesar Rp 1.500 - 2.000/Kg. Sedangkan untuk daun kering minimal sebesar Rp 24.000 - 25.000/Kg. Harga tembakau kering musim panen kemarin jatuh hingga Rp Rp 13.000/Kg. “Kalau harga tembakau di bawah itu, kami berani memastikan petani bakal rugi. Semoga saja saat panen nanti, permintaan dari pabrik rokok banyak dan harganya baik,” timpal Zaeni petani tembakau lainnya. Menurut Ramsono, bertani tembakau musim ini relatif sangat berat. Karena disaat kemarau terik kali ini petani menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Yang paling berat, petani harus mengambil air untuk menyiram tanaman tembakaunya dari sungai kecil sekitar lahan. “Terus terang Pak, yang berat itu memikul air dari sungai ke sawah untuk menyiram. Ini setiap hari kita lakukan dua kali, dan seperti ini sudah kita lakukan tiap musim kemarau. Bedanya sekarang sedang puasa ramadhan, jadi ya lumayan berat,” kata Sukarni petani lain asal Mentoro, Soko. Derita petani tembakau ternyata belum berujung. Jatuhnya harga di saat panen raya kemarin, masih berdampak serius di kalangan kaum pinggiran tersebut. Setidaknya menjelang menyambut datangnya hari lebaran nanti, mereka tak memiliki kesiapan uang untuk pesta kemenangan. (teguh budi utomo)

Read more...

Selasa, 09 Oktober 2007

TUBAN SEKILAS

TEMPO Interaktif, Tuban:Menjelang Lebaran, sedikitnya 16 titik rawan tindak kriminalitas, seperti pencurian dengan kekerasan (curas) dan bajing loncat di jalur pantai utara sepanjang 45 kilometer di Kabupaten Tuban. Pihak aparat keamanan membangun posko-posko di titik rawan itu, dengan menurunkan tim lapis dari pelbagai keahlian.Menurut Kepala Polres Tuban, Ajun Komisaris Besar Bambang Priyambada, kawasan titik rawan itu mulai dari Kecamatan Jenu, Tambak Jati hingga ke Peteng. Di kawasan tersebut rawan terjadi tindak kriminalitas, curas, curat seperti bajing loncat, hingga tempat pembuangan orang. "Daerah tersebut menjadi prioritas pengamanan di pantai utara antara Tuban dengan Kabupaten Rembang," tegasnya yang dihubungi Tempo, Kamis (4/10) pagi.Bambang mengatakan selama kurun waktu satu tahun ini setidaknya terjadi lima kasus kriminalitas di kawasan tersebut. Rata-rata kasusnya masuk kategori berat, seperti curas. Modusnya, biasanya para pelaku ini membawa kendaraan dan memburu pemilik kendaraan yang membawa barang-barang. Seperti truk yang dipreteli satu-persatu dengan cara menurunkan barangnya di tengah jalan atau yang disebut dengan bajing loncat. Modus lain, yaitu terang-terangan menyerang pengguna jalan, sepertisepeda motor dan sejenisnya.Apalagi, di beberapa ruas jalan di kawasan Jenu dan Tambak Jati, ada beberapa jalan yang rusak dan kini sedang dalam perbaikan. Pihak keamanan meminta agar sebelum Hari Raya perbaikan jalan di jalur Pantura ini bisa cepat selesai sehingga bisa melancarkan arus pemudik dari arah Semarang dan sebaliknya dari Surabaya.Untuk mengantisipasi tindak kejahatan itu, pihak Polres Tuban menurunkan sedikitnya 600 personel. Itu belum termasuk dari bantuan TNI AD, Dinas Perhubungan, Unit Gawat Darurat dari Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit serta dari Satuan Polisi Pamong Praja. Total yang turun lebih dari 1.200 personel yang nantinya akan menempati 16 posko yang dipusatkan di bekas terminallama Kota Tuban.Posko Simpati Lebaran 2007 ini, nantinya juga memberikan layanan seperti bantuan kesehatan, khususnya bagi pemudik yang menggunakan jalur Pantura, dan jalur tengah yang menghubungkan antara Tuban dengan Bojonegoro lewat Kecamatan Rengel dan Kecamatan Soko.Pihak Pemkab Tuban sendiri juga sudah menurunkan tim, yaitu Polisi Pamong Praja, Dinas Kesehatan dan Dinas Perhubungan yang nanti akan bergabung dengan Polres Tuban dan Kodim Tuban.Sujatmiko

Read more...

Senin, 20 Agustus 2007

KABARE WONG SOKO


Motor vs Motor,Dua Orang Tewas Seketika
Selasa, 28/08/2007
Tabrakan maut antara dua sepeda motor terjadi di Desa Simo, Kec Soko, Tuban (jurusan Bojonegoro- Tuban), Minggu (26/8) malam. Dua korban di antaranya langsung tewas di tempat kejadian.
Sedang tiga orang lainnya luka berat dalam kecelakaan tersebut. Kejadian itu berawal saat motor Honda Grand nopol S 5576 AS dari arah selatan yang dikendarai Ali Mahfud, 27, berboncengan dengan dua temannya, yakni Arif, 22, dan Anam, 16, keduanya warga Desa Simo,Kec Soko. Sementara dari arah berlawanan muncul motor nopol S 6766 HS yang dikendarai Yasrip, 16, bersama Imam Sugianto, 18, bernopol S 6766 HS warga Desa Menturo, Kec Soko. Beberapa saksi mata mengaku tidak mengetahui persis kejadian tersebut. Mereka hanya mendengar suara benturan motor.
Menurut penuturan Munif, 45, salah satu saksi, bunyi tabrakan terdengar sampai ke rumahnya yang berjarak 50 meter lebih.“Mendengar suara tabrakan saya langsung keluar rumah,” terangnya. Akibat tabrakan itu,Yasrip dan Ali Mahfud meninggal dunia lantaran mengalami luka serius serta pendarahan hebat. Sedang tiga korban lainnya mengalami luka berat dan langsung dibawa ke RSUD Sosodoro Djatikusumo Bojonegoro. Kanit Lalu Lintas Polsek Rengel Aiptu Ali Masud yang menangani kasus itu mengatakan ada dugaan salah satu pengendara motor dalam keadaan mabuk setelah mengonsumsi minuman beralkohol. “Saat ini, kasus itu sudah ditangani Lantas Polres Bojonegoro dan masih dilakukan penyelidikan,” terangnya. (nanang fahrudin)
TUBAN (SINDO)
*******************************************************************
SekolahImpian

Wednesday, 01 August 2007
Tuban Gambaran sekolah impian menurut persepsi siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Tuban sangat sederhana. Yakni sebuah sekolah yang terdiri dari satu atau dua buah bangunan, dengan barisan kelas di setiap bangunan, tiang bendera di halaman sekolah, sebuah perpustakaan, kamar kecil bagi siswa dan siswi, serta satu mushala atau masjid kecil dalam lingkungan sekolah. Itulah yang muncul saat LAPIS (Learning Assistance Program for Islamic Schools) mengadakan lomba menggambar dan mengarang dengan tema Sekolah Idaman untuk siswa tingkat MI di Tuban beberapa waktu lalu. Lomba yang melibatkan 10 MI di Tuban itu dipusatkan di MI Hidayatul Khasanah, Desa Cekalang, Kecamatan Soko.Dari puluhan peserta lomba, tersaring dua finalis yang disebut Duta Anak Madrasah. Mereka kemudian diundang ke Jakarta untuk mempresentasikan karya di depan para peserta Simposium Regional LAPIS pada 24-25 Juli lalu.LAPIS adalah sebuah proyek yang didanai Pemerintah Australia dan diadakan bekerja sama dengan Departemen Agama Indonesia. Tujuan program LAPIS adalah untuk membantu meningkatkan kapasitas guru dan mutu standar sistem pendidikan Islam di Indonesia serta memperkecil kesenjangannya dengan pendidikan umum.*/sko
Berita dikutip dari : surya.co.id
************************************************************************************
PNS Pemkab Tuban, menjadi korban penjahat jalanan dengan menggunakan sepeda motor.
Puji Asmorohadi (50), Korban bersama Sriyati (43), tetangga desanya, awalnya mengambil uang tabungan di Bnak BRI sebesar Rp 15,4 juta. Kemudian korban yang naik mobil Mitsubishi Station B-249-HW mengisi bahan bakr di SPBU di Jl Sawunggaling. Usai mengisi bahan bakar, salah satu ban mobilnya bocor. Ia menuju tukang tambal ban di Jl. Jaksa Agug Suprapto, Kamis (9/8) petang. Beberapa menit kemudian, ia mendengar pintu mobil ditutup orang tak dikenal. Bersamaan dengan bunyi pintu mobil yang ditutup itu, terdengar sepeda motor melaju kencang. ”Saya kembali ke mobil, tas berisi uang Rp 15,4 juta yang baru saya ambil dari bank dan HP lenyap,” kata korban yang warga Des Mojo, Kec. Soko, Kab Tuban.
Puji sebelumnya mengaku tidak tahu kalau setelah mengambil uang di Bank BRI, dibuntuti orang yang mau berbuat jahat kepada dirinya. Kabagbinamitra Polres Bojonegoro, Kompol Hadi Surya mengatakan, jajarannya sedang mengejar pelaku perampasan tas milik wanita asal Tuban tersebut.
berita dicopet dari : surabaya post.info
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Berita suntingan dari media lain
Dikerjai Bandit Jalanan, Puji Rugi Uang Rp15 Juta


BOJONEGORO - Puji Asmorohadi (50), PNS Pemkab Tuban yang menjadi nasabah bank BRI mengalami nasib apes. Uang dalam tas Rp15 juta yang baru diambil dari ATM BRI Jalan Panjaitan, Bojonegoro raib dibawa kabur dua orang perampas yang mengendarai motor.
Selain uang, pelaku juga membawa kabur dompet berisi uang Rp400 ribu dan telepon selular (HP).
Kejadian itu berawal saat korban berniat belanja di Bojonegoro. Ia berangkat dengan mobil Mitsubishi Station B 249 HW ditemani Dari Sriyati (43) tetangganya Desa Mojomalang Kec Soko Tuban. Namun, sebelumnya ia bermaksud mengambil uang di ATM bank BRI di Bojonegoro.
Usai mengambil uang Rp15 juta, korban bermaksud jalan-jalan. Setelah itu, keduanya berencana pulang. Sialnya, usai mengisi bensin di SPBU Jalan Sawunggaling ban kiri belakangnya kempes.
Ketika berhenti di Bengkel, korban turun dari mobil menuju belakang mobil untuk memberitahukan ban mobil yang perlu ditambal. Sedang tas berisi uang Rp15 juta dibiarkan tergeletak di atas jok depan.
Saat itulah dua pria berboncangan sepeda motor Honda Megapro tak diketahui plat nomornya menambar tas berisi uang, dompet dan HP. Pelaku langsung kabur ke arah timur. Diperkirakan kerugian yang dialami korbana mencapai Rp16 juta.
“Kita sudah mendapat laporan dan melakukan pengejaran,” kata Kabagbinamitra Polres Bojonegoro Kompol Hadi surya.

Read more...

Minggu, 19 Agustus 2007

BERITA NASIONAL


Subsidi Raskin Turun, Harga Dinaikkan
Jakarta-Pemerintah mengurangi subsidi raskin atau beras untuk rakyat miskin dari Rp 6,4 triliun pada 2007 menjadi Rp 5,5 triliun pada RAPBN 2008. Pengurangan subsidi raskin tersebut terkait dengan rencana pemerintah menaikkan harga raskin di tahun 2008.”Ada rencana, kalau disetujui DPR,harga raskin akan dinaikkan,sehingga jangkauan raskin bisa lebih banyak dengan anggaranRp 5,5 triliun,”kata Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Jumat (17/8).Dalam RAPBN 2008 ditetapkan sebanyak 12,1 juta keluarga sasaran raskin yang akan memperoleh masing-masing 10 kilogram selama 11 bulan. Dia mengatakanbesaran kenaikan raskin belum ditentukan.Namun, harga beras untuk rakyat miskin tersebut bisa mencapai Rp 1.500, Rp 1.800, atau mungkin Rp 2.000 per kilogram.Menurut Mentan yang dikutip Antara, harga raskin Rp 1.000 sudah begitu lama diterapkan, dan ditetapkan saat harga beras masih mencapai Rp 2.000. Jika harga tersebut tetap digunakan maka jangkauan raskin akan menjadi lebih terbatas, dengan anggaran Rp 5,5 triliun. Pada APBN 2007 lalu, anggaran raskin ditetapkan sebesar Rp 6,4 triliun, dengan asumsi dapat digunakan hingga 11 bulan, setara dengan 1,76 juta ton beras.Dia mengatakan menaikan harga raskin tidak akan memberatkan masyarakat karena harga beras yang tadinya hanya Rp 2.000 kini telah mencapai Rp 4.000 lebih.Selain itu, menurut Mentan, soal stok raskin sendiri untuk saat ini tidak ada masalah. Dia mengatakan sebagian besar kebutuhan beras raskin akan dipenuhi dari dalam negeri, dan impor hanya dilakukan jika dari dalam negeri tidak mencukupi.”Kita selalu mengupayakan kebutuhan sebagian besar atau sepenuhnya dari dalam negeri,” katanya.”Tahun ini, Bulog ada impor karena ada masalah kekeringan di tahun 2006 sampai awal tahun 2007,” katanya. Tetapi melihat ramalan produksi tahun ini, Mentan mengatakan, stoknya relatif cukup, apalagi jika ditambah dengan beras impor tahun ini. (mis)
Copyright © Sinar Harapan 2003

DIKUTIP DARI : http://www.plasa.com/

Read more...

Rabu, 08 Agustus 2007

Kembali Pertemukan Pihak Terkait

Dalam Polemik Pilkades KedungharjoTUBAN - Pihak Kecamatan Widang ingin segera mengakhiri polemik Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Kedungharjo. Rencananya hari ini Camat Widang Bambang Dwiyono bakal mempertemukan pihak-pihak yang terkait polemik Pilkades Kedungharjo di kantor kecamatan. "Besok (hari ini, Red) semua akan kami pertemukan," ungkap Bambang melalui ponselnya, kemarin. Pihak-pihak terkait itu adalah BPD, panitia pilkades, Pj Kades Kedungharjo Sun Septemi, kedua calon (Achmad Fauzi dan Kasmiyono), dan Muspika Widang. Menurut Bambang, agenda pertemuan tersebut untuk mencari solusi terkait polemik yang terjadi di Desa Kedungharjo. "Kami akan menjelaskan biar panitia mengerti dan tidak memaksakan kehendaknya. Yang jelas semua harus tetap mematuhi ketentuan peraturan perundangan yang ada," jelas mantan Kasubag TU Kantor Infokom itu. Bambang tetap minta panitia menganulir keputusannya yang menetapkan Kasmiyono sebagai salah satu calon. Sebab, keputusan tersebut cacat hukum. "Ibaratnya anak sekolah itu lho, masak kalau nggak memenuhi persyaratan kok dipaksakan masuk. Kan nggak bisa. Jadi calon yang nggak penuhi persyaratan ya harus dianulir dulu," ujarnya. Hingga kemarin pihak panitia Pilkades Kedungharjo sendiri tetap bersikukuh tak bakal menganulir keputusannya yang menetapkan Kasmiyono sebagai salah satu calon kepala desa (Kades) setempat. "Perkembangannya tetap. Dua orang masih tetap sebagai calon Kades yang berhak dipilih," tegas Ketua Panitia Pilkades Simanjaya, kemarin.Ada dua calon yang berebut kursi Kades Kedungharjo, yakni Kasmiyono dan Achmad Fauzi. Proses pilkades di desa itu masih memicu kontroversi. Ini terkait keputusan panitia yang nekat menetapkan keduanya sebagai calon Kades. Keputusan itu direaksi pemkab. Melalui Camat Widang Bambang Dwiyono, pemkab meminta panitia meninjau ulang keputusannya. Sebab Kasmiyono dianggap tak memenuhi persyaratan. Ini terkait status kependudukannya. Namun panitia, berdasarkan bukti-bukti yang dimiliki, menyatakan Kasmiyono masih penduduk setempat. Sementara itu, enam desa di Tuban kemarin serempak menggelar pilkades putaran terakhir. Yakni, Desa Prunggahan Wetan, Prunggahan Kulon (Semanding), Siding (Bancar), Glagahsari (Soko), Sumberarum, dan Kedungrejo (Kerek). Di antara enam desa tersebut, hak pilih di Desa Prunggahan Kulon paling banyak, yakni 10.791 pemilih. Kabag Pemerintahan Pemkab Tuban A. Mufid Budiono bersama beberapa stafnya kemarin memantau langsung pelaksanaan pilkades di enam desa tersebut. "Secara umum pelaksanaan pilkades putaran terakhir ini lancar," ujar Mufid. (wid)

Read more...

Minggu, 05 Agustus 2007

Kenangan masa lalu

Pada tahun 2001 : Kebocoran sektor migas di kecamatan Soko, Tuban, milik Devon Canada dan Petrochina. Dimana kadar hidro sulfidanya waktu itu cukup tinggi, sehingga menyebabkan 26 petani dirawat di rumah sakit. Kejadian tersebut memicu masyarakat satu kampung untuk datang melihat ke tambang, tetapi yang didapat masyarakat adalah ditembaki polisi Bojonegoro, 14 orang tertembak.
Berita di copet dari situs WALHI
***

Gas Berbahaya Itu Tetap Mengancam Penduduk
(WISNU NUGROHO)
.

USAI shalat isya di Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Tuban,Jawa Timur (Jatim). Rumah warga yang umumnya berdinding anyaman bambutertutup rapat. Tidak terlihat aktivitas penduduk di luar rumah yang redup kekuning-kuningan karena nyala bola lampu berdaya rendah. Meskipun malam itu langit cerah, warga memilih mengurung diri di dalam rumah.
Tidak ada keceriaan anak-anak menyambut terangnya bulan dan bertaburannya bintang di langit seperti digambarkan dalam lagu-lagu dolanan. "Warga memilih berada di dalam rumah karena tidak tahan dengan bisingnya suara dari dua sumur minyak itu dan bau gas H2S (hidrogen sulfat-Red), gas berbahaya yang menyengat hidung," papar warga sambil bergegas pergi dengan sepeda kumbangnya, Jumat (3/5) malam.
Alasan senada mengenai sepinya desa berpenduduk sekitar 2.000 jiwa itu diungkapkan juga oleh belasan pemuda yang malam itu berkumpul di balai bambu di sekitar lokasi dua sumur minyak. Kondisi ini menurut mereka sudah berlangsung sejak tahun 1998, saat eksploitasi minyak mentah oleh Joint Operating Body (JOB) Per-tamina-Devon dimulai di desa tersebut.
Berbagai upaya telah dilakukan warga untuk menyampaikan keluhan tersebut kepada pihak JOB yang dalam beberapa kesempatan sering ingkar janji. Puncak keluhan disuarakan dalam lima tuntutan dan disampaikan dua hari berturut-turut tanggal 1-2 Mei 2002 yang berujung pada pembubaran dengan kekerasan oleh aparat Kepolisian Wilayah (Polwil) Bojonegoro dan Kepolisian Resor (Polres) Tuban, persis seusai negosiasi yang tidak menghasilkan kesepakatan apa pun.
Selain mengakibatkan puluhan warga luka-luka, pembubaran dengan berondongan peluru karet aparat, Kamis malam itu membuat lima warga luka tembak serius. Mereka adalah Karnoto Paetam (40), Suparji (23), Bayan Sauri (35), Rahmat (30), dan Kanan (39). Sampai sekarang, tidak jelas bagaimana penyelesaian kasus penembakan ini.
Lima warga yang menjadi korban ini menandai lima tuntutan mereka yang tidak dikabulkan JOB dalam negosiasi, yaitu pemberian kompensasi Rp 20.000 per warga per hari, pembangunan poliklinik, kontribusi untuk desa Rp 100 juta per bulan, sewa tanah sampai radius 500 meter, dan pemberian kesempatan bekerja sebagai tenaga kasar di perusahaan yang memproduksi sekitar 12.000 barrel minyak mentah per hari.
***
JEDA tiga hari setelah negosiasi tanpa hasil dan pembubaran aksi warga Rahayu dengan kekerasan oleh polisi, dilakukan negosiasi lanjutan antara wakil warga dengan JOB, Senin lalu. Karena sudah diwanti-wanti baik oleh aparat Pemerintah Kabupaten Tuban dan aparat kepolisian sejak sehari sebelumnya agar tidak menggelar aksi di sekitar lokasi negosiasi di Mudi PAD B, warga hanya berkumpul di pertigaan pasar desa dan di balai desa. Kumpulnya warga yang menunggu hasil negosiasi ini pun mendapat penjagaan polisi.
Penjagaan jauh lebih ketat di lokasi negosiasi. Puluhan aparat Polsek Soko, Polsek Rengel, Polres Tuban, dan Koramil Soko, bersiaga dengan menegur dan mendekati setiap orang yang mencurigakan di sekitar lokasi. Sementara di dalam ruangan, 13 wakil warga selama lebih dari enam jam bernegosiasi dengan pihak JOB yang diwakili Field Manajer Harun Siregar. Bertindak sebagai moderator yang memosisikan diri di pihak JOB adalah Kepala Satuan Reserse Polres Tuban Ajun Komisaris Kartono.
Meskipun berjalan alot, akhirnya Field Manajer JOB Harun Siregar sebagai pihak pertama dan Kepala Desa Rahayu M Solikhin sebagai pihak kedua bersedia menandatangani nota kesepakatan yang berisi kesediaan pihak pertama memberikan bantuan pengembangan masyarakat (community development), diadakan penelitian oleh pihak independen dengan memperhatikan saran-saran dari Dinas Lingkungan Hidup Tuban, dan apa pun hasil penelitian tersebut akan menjadi tanggung jawab pihak pertama. Rekrutmen tenaga kerja akan memperhatikan sumber daya manusia yang ada di sekitar lokasi operasi JOB, dan penyampaian aspirasi masyarakat di waktu mendatang tidak dalam bentuk demonstrasi.
Khusus untuk poin pertama nota kesepakatan tersebut, JOB pada tahun 2002 bersedia memberi kontribusi ke Desa Rahayu berupa 300 ekor kambing, program pompanisasi/irigasi seluas sekitar 40 hektar sawah petani di sekitar Flare CPA, dan klinik keliling untuk kesehatan warga yang dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan Tuban. Alokasi dana untuk kontribusi ini mencapai Rp 583 juta, dan JOB yang akan ditinggal hengkang Devon-digantikan oleh Petro China sebagai operator-berjanji akan melanjutkan kontribusi serupa tahun 2003.
***
HASIL kesepakatan yang sebenarnya masih jauh dari harapan dan tuntutan warga ini setidaknya untuk sementara waktu mampu meredam kemarahan mereka. Meskipun belum tahu kapan realisasi kontribusi JOB tersebut, warga Rahayu kini lebih tenang. "Kami menunggu pelaksanaan program tersebut dan semua tergantung Devon," ujar Solikhin.
Lebih lanjut Kepala Desa Rahayu ini mengatakan, meskipun telah ada kesepakatan dalam negosiasi lanjutan tersebut, tuntutan warga berkaitan dengan buangan gas H2S dan kebisingan mesin yang menjadi pokok utama tuntutan tidak terbatalkan dan meminta pihak independen segera bekerja dan menyerahkan hasilnya kepada JOB yang bersedia bertanggung jawab apa pun hasilnya.
Seperti pengakuan sejumlah warga yang umumnya petani, buangan gas H2S telah menimbulkan banyak korban mulai dari pusing, mual, muntah, dan bahkan pingsan. Warga mengalami hal itu tidak hanya ketika sedang menggarap sawah, tetapi juga ketika sedang berada di dalam rumah.
"Dalam hari-hari terahir seusai demonstrasi, kami merasakan adanya pengurangan buangan gas H2S dari dua sumur tersebut. Kami enggak tahu, mungkin Devon sudah mulai sadar. Tetapi, bagaimanapun penelitian oleh pihak independen harus tetap dilakukan dan segera ditindaklanjuti hasilnya, karena gas tersebut masih tetap mengancam kami yang tinggal dekat lokasi," tegas Solikhin. (M06)
.
Berita di copet dari situs kompas
****
Kamis, 21 Des 2006
Istri Prajurit Ajari Warga Desa Ring I Pengeboran Minyak Buat Kerajinan Tangan

Berharap Ibu-Ibu Bisa Ciptakan Sumber Penghasilan AlternatifBertempat di Makoramil Soko, istri para anggota Kodim 0811 Tuban memberikan pelatihan membuat pernak-pernik kepada ibu-ibu dan remaja putri dari dua desa yang masuk ring I pengeboran minyak di Kecamatan Soko.B. FEBRIANTO, TubanSuasana di Markas Komando Rayon Militer (Makoramil) Soko kemarin berbeda dengan hari biasanya. Markas yang biasanya diwarnai lalu lalang para prajurit berpakaian doreng itu, kemarin dipenuhi kaum ibu. Ada 50 wanita dari Desa Rahayu, Kecamatan Soko, dan Desa Bulurejo, Kecamatan Rengel, bersama istri para prajurit TNI yang tergabung dalam Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXVI Kodim 0811 Tuban membaur jadi satu.Keberadaan ibu-ibu itu terkait dengan digelarnya pelatihan membuat kerajinan tangan berupa pernak-pernik kebutuhan rumah tangga. Pelatihan itu digelar istri para prajurit TNI-AD di Tuban yang dipimpin langsung Ny I’in Nuruddin, istri Komandan Kodim (Dandim) 0811 Tuban Letkol (Art) Nuruddin T. Sedangkan sekitar 50 ibu lainnya, peserta pelatihan yang berasal dari dua desa yang masuk ring I pengeboran minyak yang dikelola oleh JOB P-PEJ (Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java).Para ibu dan remaja putri yang mengikuti pelatihan itu tampak antusias memperhatikan dan praktik membuat pernak-pernik rumah tangga yang disampaikan instruktur dari istri para prajurit itu sendiri. Kerajinan itu dalam berbagai bentuk, antara lain tutup gelas, sarung bantal, dan tudung saji."Saya jelas sangat senang diajari membuat kerajinan pernak-pernik ini, karena kerajinan seperti ini hanya bisa dijumpai di kota-kota," kata seorang peserta.Warga laki-laki di dua desa tersebut kebanyakan bermatapencaharian sebagai petani dan buruh tani. Sedangkan kaum ibu umumnya tidak mempunyai kegiatan alternatif yang produktif untuk menunjang ekonomi keluarga."Kami ingin ikut membantu memberdayakan masyarakat Tuban dengan memberikan keterampilan yang kami miliki kepada para ibu-ibu di dua desa tersebut," kata I’in Nuruddin kemarin.Menurut istri Dandim Tuban yang pintar membuat pernak-pernik itu, setelah ibu-ibu dan remaja putri di dua desa tersebut mendapatkan keterampilan, diharapkan bisa memanfaatkan keterampilannya untuk menciptakan sumber-sumber penghasilan bagi keluarganya, yang akhirnya bisa berkembang menjadi home industri."Karena berada di ring I pengeboran minyak, kami menggandeng JOB P-PEJ sebagai penyandang dana pelatihan tersebut. Dengan begitu, masyarakat juga bisa merasakan nilai positif dari keberadaan pengeboran minyak tersebut, khususnya yang berada di ring I," tambah I’in.Sementara itu, menurut Dandim Tuban Letkol (Art) Nuruddin T., kegiatan istri para prajurit tersebut sebagai bukti perannya dalam pemberdayaan masyarakat. "Saya bangga, karena kegiatan ibu-ibu Persit tersebut selain berdampak positif bagi masyarakat juga mendapat penilaian positif dari kodam (Kodam V/Brawijaya). Bahkan, setelah berkembang, ibu-ibu tersebut bisa bergabung dalam suatu KUB (kelompok usaha bersama) yang mendapat permodalan dari dana CD (community development) JOB P-PEJ," tutur dia yang kemarin hadir dalam pelatihan yang akan digelar hingga 27 Desember mendatang tersebut.Tampak hadir juga dalam kegiatan kemarin tim dari Kodanm V/Brawijaya, dan Field Admin Superitendent JOB P-PEJ Ahmad Rinjani, serta para tokoh masyarakat setempat.

Read more...

Senin, 30 Juli 2007

Tak Dijatah Raskin Bulan Juli

Karena Tuban Nunggak Rp 162 JutaTUBAN - Tunggakan beras operasi pasar khusus beras untuk keluarga miskin (OPK Raskin) lima bulan terakhir menembus Rp 162,729 juta. Persisnya, terhitung Februari hingga Juni 2007. Tunggakan yang berbuntut dihentikannya jatah OPK Raskin pada bulan berikutnya tersebut mendapat perhatian khusus Sekkab Tuban Parastuti. Dia pun tanpa segan mengabsen camat yang desanya memiliki tunggakan raskin itu. Tunggakan tertinggi ditempati enam kecamatan. Yakni, Bangilan Rp 42,4 juta, Bancar Rp 21,4 juta, Merakurak Rp 25 juta, Plumpang Rp 15,6 juta, Palang Rp 13,6 juta, dan Senori Rp 10,5 juta. Tunggakan terbesar berikutnya Kecamatan Kenduruan Rp 9,9 juta, Soko Rp 7,5 juta, Kerek Rp 5,1 juta, Jenu Rp 4 juta, Jatirogo Rp 3,2 juta, Bangilan Rp 1,9 juta, Tambakboyo Rp 1,2 juta, Semanding Rp 1,1 juta, dan Montong Rp 350 ribu. Sedangkan kecamatan yang dipastikan sudah tidak memiliki tunggakan hanya Tuban Kota, Widang, dan Rengel. Parastuti menegaskan, kalau pelaksanaan pemilihan kepala desa (Pilkades) dianggap menghambat penyaluran raskin, maka usai pelaksanaan pesta demokrasi di tingkat desa tersebut, camat harus memberesi pelunasan OPK Raskin. Apa penyebab macetnya pembayaran beras subsidi pemerintah tersebut? Parastuti menyatakan, salah satu penyebabnya karena beras OPK Raskin datang pada saat yang tidak tepat. "Beras yang datang tidak bisa langsung dibagikan karena warga penerimanya tidak tinggal di sekitar kantor desa. Karena itu butuh waktu," tandas dia yang tidak sepenuhnya sependapat dengan asumsi bahwa tunggakan tersebut karena uangnya dipakai perangkat desa. Desa, lanjut mantan Ketua Bappeda Tuban tersebut, belum bisa memberlakukan sistem cash and carry (langsung bayar di tempat) begitu beras datang. Sebab, kebanyakan warga belum mengumpulkan uang pembelian. (ds)

Read more...

Melacak Akar Kecurangan Pilkades di Tuban (1)--‘Panen‘ Uang di Pesta Demokrasi Akar Rumput

dutamasyarakat.com

Pilkades massal di Tuban telah usai dihelat. Ancaman konflik horisontal antarpendukung kandidat Kades masih lekat di tengah warga. Rekayasa demi kemenangan calon, menjadi pemantik tak murninya Pilkades.Termasuk beredarnya politik uang. Siapa yang diuntungkan?

BOLEH jadi secara umum Pilkades massal yang diprogram Pemkab Tuban telah usai. Pesta kaum pedesaaan di 287 dari 295 desa telah rampung dihelat. Gegap gempita warga desa pun, akrab mewarnai pelaksanaan demokrasi kerakyatan yang dibiayai Rp 1,5 miliar dari APBD Tuban 2007.
Tebaran duit untuk sekadar membeli dukungan masih kental di kalangan mereka. Termasuk juga campur tangan bandar judi turut menyertai perjalanan demokrasi di desa. Yang pasti beragam rekayasa tumplek blek terlihat di dalamnya. Semuanya dimanfaatkan untuk sebuah kemenangan dan meraih jabatan sakral yang dikultuskan sementara orang di desa.
Fenomena rekayasa dalam Pilkades, menurut aktivis Ansor Tuban, Fatchur Rozi, sudah terasa sejak pembentukan panitia Pilkades. Hampir setiap calon yang melek politik, bakal menyiapkan ‘orangnya’ bisa duduk di kepengurusan Panitia Pilkades. Teknis ini menjadi sentra bagi dimulainya sebuah rekayasa.
“Sesuai temuan sejak awal memang seperti itu. Pertimbangannya berawal dari panitia, sebuah rekayasa pelaksanaan Pilkades bisa dilakkan,” kata Rozi di satu kesempatan.
Kepalsuan itu memang terbukti. Panitia yang sudah terkontaminasi oleh kepentingan salah satu kandidat, menjadi tidak netral. Itu terasa di saat coblosan. Ditemukan di Desa Sumur Jalak, Kedungsoko (keduanya di Kecamatan Plumpang), Desa Tasikmadu (Palang) dan Desa Simo (Soko) terjadi praktik itu.
“Di Desa Kedungsoko, ada hak pilih mencoblos sampai tiga kali. Ini mestinya tidak terjadi kalau panitia fair dan tidak memihak salah satu calon,” kata Toni pemuda desa setempat.
Tak hanya itu, di Desa Tasikmadu helat Pilkades yang diikuti delapan calon, juga terjadi hal serupa. Panitia meloloskan pemegang hak pilih mencoblos lebih dari sekali.
Tragisnya di desa sentra penghasil buah belimbing madu ini, terjadi kelebihan sembilan suara. Dari 3.472 orang Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang menggunakan haknya menghadiri undangan sebanyak 2.792 orang. Sedangkan kartu suara yang dipakai untuk coblosan sebanyak 2.801, sehingga jika dikalkulasi terdapat kelebihan sembilan suara. Hitungannya 2.801 suara dikurangi pengguna hak pilih 2.792 orang.
“Ini kan membuktikan bahwa panitia membuat rekayasa, sehingga mencemari proses demokrasi,” kata sejumlah warga Desa Tasikmadu. Oleh karena itu, menurut warga, sudah sepantasnya dikaji ulang hasil Pilkades di Tasikmadu. (bersambung)

Read more...

Pemkab Tetap Sahkan Kades Simo

RADAR BOJONEGORO
Senin, 30 Juli 2007

Akan Dilantik 10 Agustus Mendatang
TUBAN - Anggota DPRD Tuban angkat bicara terkait polemik hasil Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Simo, Kecamatan Soko. Sekretaris Komisi A Agung Supriyanto menyatakan akan mempelajari bukti-bukti dugaan kecurangan yang dilaporkan warga.

Agung juga mendesak panitia pilkades dan camat Soko segera memfasilitasi persoalan-persoalan yang diprotes warga. "Bila ditemukan ada unsur pidana, kepolisian bakal mengambilalih persoalan ini," tandas politisi PAN itu.

Jum’at lalu ratusan pendukung Achmad Hadi, calon yang dikalahkan Tasmo, ngluruk ke DPRD Tuban. Mereka mengadukan dugaan ketidakberesan yang terjadi dalam Pilkades Simo. Antara lain dugaan money politics yang dilakukan tim sukses calon terpilih. Warga menuntut hasil pilkades dibatalkan. Warga juga menyegel balai desa, memajang carang (ranting bambu) di pagar kantor desa itu, dan memasang beberapa poster yang berisi hujatan kepada panitia pilkades.

Namun, sikap DPRD berbeda dengan pemkab. Kabag Pemerintahan A. Mufid Budiono menyatakan, meski sebagian warga memprotes, calon terpilih tetap dilantik 10 Agustus nanti karena sudah ada penetapan dari panitia. "Kalau ada yang kurang puas dengan hasil (pilkades), ya silahkan. Tapi yang jelas jadwal (pelantikannya) tetap," tandasnya.

Sementara itu, 7 desa di 5 kecamatan yang ada di Tuban kemarin menggelar pilkades tahap II. Tujuh desa itu, Banjar (Kecamatan Widang); Nguluhan (Montong); Mojomalang (Parengan); Tambakboyo (Tambakboyo); serta Tengger, Padasan, dan Kasiman (Kerek).

Mufid menambahkan, bila ditambah dengan pilkades tahap I (268 desa), hingga kemarin telah 277 desa menggelar pesta demokrasi tingkat desa tersebut. Kini, tinggal 6 desa yang belum menggelar pilkades. Yakni, Glagahsari (Soko), Siding (Bancar), Prunggahan Wetan, Prunggahan Kulon (Semanding), Sumberarum, dan Kedungrejo (Kerek). Pilkades enam desa itu dijadwalkan 5 Agustus nanti. Sedangkan satu desa lainnya, Kedungharjo (Widang), belum bisa melaksanakan pilkades karena masih bermasalah.

Sementara itu, Pemkab Blora hanya memberikan waktu sehari kepada setiap calon Kades untuk menggelar kampanye. Sesuai jadwal yang disusun pemkab, kampanye berlangsung 4 September atau sehari sebelum pilkades yang rencananya digelar serentak 5 September di 246 desa. "Bagaimana format kampanyenya, kami serahkan kepada panitia pilkades untuk mengaturnya," kata Kabag Pemdes Pemkab Blora Winarno. (wid/ono)

Read more...

Jumat, 13 Juli 2007

KLOTER 73, SATU JAMAAH DIAMPUTASI TELAPAK KAKI KIRINYA

Kasto Bin Kasmijan (58), jamaah haji dari kelompok terbang (kloter) 73 asal Kendalrejo Rt 01/Rw 02 Soko Tuban, pulang ke tanah air tanpa telapak kaki kiri , karena harus diamputasi setelah menjalani rawat inap di Rumah Sakit Ashir King Abdul Aziz Madina.
Menurut dokter kloter 73, dr Indraswari saat ditemui di Poliklinik Asrama Haji Sukolilo (AHS) Surabaya, Selasa (30/1) mengatakan, sejak di Tanah Air, Kasto mempunyai penyakit diabet, dan setelah tiba di Tanah Suci, karena mereka banyak melakukan kegiatan dengan jalan kaki, ini menyebabkan telapak kaki kirinya luka, kemudian membesar, lalu mengeluarkan bau tak sedap (membusuk), setelah menjalani pemeriksaan dan sempat rawat inap, dokter di RS Ashir King Abdul Aziz Madina memutuskan harus diamputasi.Setelah beberapa kali dirawat dokter kloter tidak juga membaik, akhirnya dengan kesepakatan keluarga, Kasto dirujuk ke RS Ashir King Abdul Aziz, dan dokter di RS Madina itu memutuskan telapak kaki kiri Kasto harus diamputasi,ujarnya.Dikatakan Indraswari, setelah menjalani pemotongan telapak kaki kirinya pada 20 Januari 2007 lalu, Kasto tinggal sementara di RS Ashir King Abdul Aziz selama 5 hari, selanjutnya diterbangkan ke tanah air bersama rombongan kloter 73. Mengenai biaya perawatan, Humas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) debarkasi Surabaya, Sugianto mengatakan, semua biaya perawatan dan operasi ditanggung sepenuhnya oleh PPIH Madinah.Sementara itu, saat ditemui di ruang istirahat Poliklinik Asrama haji, Kasto tampak sedikit lega tiba di tanah air dan bisa ketemu keluarga, meskipun sedikit sedih karena kehilangan kaki kirinya.Saya merasakan pelayanan kesehatan PPIH di Madinah sangat baik dan cepat, bahkan tindakan yang diambil juga sangat tepat. Seandainya tidak segera mengambil keputusan operasi pemotongan kaki kiri saya, maka kondisi saya makin mengkhawatirkan. Bahkan kemungkin saya tidak bisa pulang bersama kloter 73, ujar Kasto.Dia berharap, pelayanan yang diberikan RS Ashir King Abdul Aziz Madina bisa dicontoh di RS Indonesia, mengenai kecepatan dalam pengambilan tindakan.Untuk diketahui, kloter 73 berjumlah 445 jamaah, meninggal 5 jamaah, mutasi masuk 2 jamaah, dan sakit 7 jamaah. Nama-nama jamaah yang meninggal yaitu, M.Mahdun Bin Mat Sujak (42), Dusun Taraan RT 05 RW 01 Tegalrejo Merakurak Tuban, Karsini Binit Madak (71), Dusun Nyaman RT.03 RW.04 Perbon Tuban, M.Yakub Efandi Bin Efendi (60), Jl. Gresik 393 RT 03 RW 03 Glodok Palang Tuban, Suhadi Bin Badrun (68), Dusun Glondongan RT 03 RW 01 Tambakboyo Tuban, Misrih Binti Kadam (65), Gendongombo Rt 03 Rw 02 Semanding Tuban, Sedangkan 2 jamaah mutasi masuk dari Nusa Tenggara Barat (NTB) yaitu, Abu Bakar Alwi dan Yasin Yakib.

Read more...

Sabtu, 07 Juli 2007

Sabtu, 07 Juli 2007

RADAR BOJONEGORO

Sabtu, 23 Juni 2007 Siswa Tak Lulus 262 Anak

TUBAN - Pelajar SLTP di Tuban yang tahun ini tidak lulus ujian nasional (unas) 262 anak atau sekitar 1,85 persen dari total peserta unas SLTP di Kota Tuak itu.
Data dari dinas pendidikan setempat menyebutkan, peserta unas SMP/MTs 14.138 siswa. Dari jumlah tersebut, yang lulus 13.
876 siswa atau 98,15 persen.
Sedangkan 262 siswa yang tak lulus, yakni, 84 siswa SMP negeri, 34 anak SMP swasta, 74 siswa SMP Terbuka, 20 siswa MTs negeri, 50 siswa MTs swasta.
Khusus kelompok SMP, sekolah yang siswanya terbanyak tak lulus adalah SMPN 1 Kerek, yakni 14 anak.
Berikutnya, disusul SMP Islam 45 Tambakboyo (12 anak), SMPN 2 Plumpang (11 anak), SMP Islam Jenu (7 anak), SMPN 2 Soko (7 anak), dan SMP PGRI 3 Tuban (7 anak).
Selain itu, ada lima sekolah yang masing-masing 5 siswanya tak lulus unas.
Yakni, SMPN 2 Tuban, SMPN 4 Tuban, SMPN 1 Semanding, SMPN Merakurak, SMPN 2 Rengel, dan SMP Islam Bangilan.
"Mereka masih diberi kesempatan mengikuti ujian nasional kesetaraan," kata Kadinas Pendidikan Tuban Karmani kepada wartawan koran ini kemarin.
Ujian kesetaraan atau paket B tersebut bakal diselenggarakan pada 26-28 Juni mendatang.
Sementara itu, SMPN 1 Tuban dipastikan gagal mempertahankan posisinya sebagai peraih rata-rata NUN tertinggi se-Jatim.
Posisinya diambil alih SMPN 1 Lamongan dengan nilai rata-rata 28,26.
SMPN 1 Tuban kini melorot ke peringkat 5 dengan nilai rata-rata 27,71.
"Iya, tahun ini kami peringkat lima," kata kepala SMPN 1 Tuban Bedjo Mulyono.
Sementara itu, Dinas Pendidikan Tuban kemarin membagikan ijazah SMA ke masing-masing sekolah.
"Hari ini (kemarin, Red) resmi kami bagikan ke sekolah," kata Kasubdin SLTP/SLTA Dinas Pendidikan Tuban Sutrisno. (wid)

Read more...

SOKO TUBAN
Sabtu, 07 Juli 2007


RADAR BOJONEGORO
Selasa, 03 Juli 2007

Buron Polresta Surabaya Utara Didor

TUBAN - Kumaidi, 35, buron Polresta Surabaya Utara dalam kasus penipuan dan penggelapan, Minggu petang lalu didor anggota Resintel Polsek Soko.
Sebelum ditangkap, tersangka sempat melarikan tiga motor warga kecamatan setempat. Versi petugas, timah panas tersebut terpaksa disarangkan pada betis kanan tersangka.
Alasannya, tersangka berusaha kabur menuju sawah saat petugas menggerebek rumahnya di Desa Jegulo, kecamatan setempat.
Di rumah tersebut, polisi menyita 3 buah STNK.
Kapolres Tuban AKBP Bambang Priyambadha melalui Kapolsek Soko AKP Ahmad Kusrin menyatakan, penyergapan terhadap tersangka itu sebenarnya bukan kali pertama.
Sebelumnya, upaya yang sama beberapa kali dilakukan.
Namun, Kumaidi yang merasa jadi incaran petugas berhasil melarikan diri.
Kusrin menjelaskan, selama diburu Polresta Surabaya Utara dalam sejumlah kasus penipuan/penggelapan, tersangka melarikan tiga motor milik warga di wilayah hukumnya.
Motor pertama yang dilarikan tersangka adalah milik Sukur Subagio, warga Desa Klumpit, pada 13 Desember 2006.
Motor lainnya, milik Kasdari, warga Desa Segulo, pada 27 Januari lalu dan motor Hartik dengan TKP di Pasar Sukosari pada 31 Januari lalu.
"Jumlah motor yang dilarikan bisa jadi lebih banyak karena tidak semua korban melapor," ujar Kusrin.Mantan perwira staf Polwil Bojonegoro tersebut menambahkan, modus operasi tersangka hampir sama.
Dia berdalih pinjam motor orang yang dikenalnya untuk sebuah keperluan.
Setelah motor berhasil dibawa, kendaraan itu dilarikan untuk dijual ke penadah di Kamal, Madura.
Motor-motor hasil kejahatan itu dijual tersangka dengan harga Rp 1 juta hingga 1,5 juta. Menurut Kusrin, setelah disidik anggotanya, tidak tertutup kemungkinan tersangka diseret ke Polresta Surabaya Utara.
Sebab, tersangka juga melakukan tindak pidana di wilayah hukum tersebut. (ds)

http://www.jawapos.com/

Read more...

Minggu, 01 Juli 2007

Terhimpit Masalah Ekonomi Suami Istri Bunuh Diri Bersama

Soko Tuban - Tak kuat menahan himpitan persoalan ekonomi yang dideritanya, pasangan suami istri yang baru nikah 3 bulan warga Desa Klumpit Kabupaten Tuban, Jawa Timur nekad mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri bersama. Sang suami mengergaji kepala istrinya sampai tewas. Sementara sang suami membenturkan kepala ke tembok, beruntung dia selamat.
Hanya karena tak kuat terhimpit sulitnya mencukupi kebutuhan ekonomi pasangan suami istri warga Desa Klumpit, Kecamatan Suko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Rabu (20/06/07) kemarin, nekad mencoba mengakhiri hidupnya. Sang suami Jumintro (30), yang tiap hari hanyalah sebagai buruh tani nekad memukul istrinya Lasmi (25), dengan sebuah gergaji di leher bagian belakang. Kemudian membenturkannya ke tembok dinding rumahnya, hingga si istri akhirnya tewas.
Usai memukul istrinya hingga tewas, sang suami akhirnya berniat juga mengakhiri hidupnya dengan membenturkan kepalanya ke tembok rumah hingga terluka parah dibagian kepala. Namun perbuatan nekad sang suami dipergoki mertuanya sendiri. Melihat anak perempuannya tewas bersimbah darah serta menantunya terluka parah dibagian belakang, lelaki ini berteriak minta tolong.
Menurut Matrais, seharian anak menantunya tidak keluar rumah. Jumintro sendiri gagal bunuh diri dan harus melakukan perawatan karena menderita luka yang cukup serius di kepalanya akibat dibenturkan ke tembok.
Didepan petugas, Jumintro nekad melakukan perbuatan ini karena merasa putus asa tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Kemudian sepakat mengajak istrinya bunuh diri dengan terlebih dulu mengakhiri hidup istrinya.
Petugas dari Polres Tuban langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara. Setelah selesai mengambil sidik jari Lasmi, jenazahnya langsung dilarikan ke RSU Dokter Kusma Tuban guna dilakukan otopsi. Kini polisi melakukan penjagaan ketat terhadap Jumintro dan nantinya akan dilakukan pemeriksaan intensif terkait motif apa yang membuat mereka nekad bunuh diri. (Tim Liputan/Sup)
Sumber: http://news.indosiar.com/news_read.htm?id=62308
© Copyright 2005 PT. INDOSIAR VISUAL MANDIRIwww.indosiar.com
window.print()

Read more...

Minggu, 03 Juni 2007

Kasning Mentoro, Nekat Habisi Tetanganya Sendiri

MENIINI SEMPAT MENGHEBOHKAN WARGA SELURUH KECAMATAN SOKO
ANDA TAHU CERITA YANG SESUNGGUHNYA ?
MANAKAH BERITA YANG PALING MENDEKATI KEBENARAN ?
SILAHKAN KIRIM KOMENTAR !!!
Kasning Nekat Habisi Tetanganya Sendiri
Gara-gara akan pinjam perhiasan tidak boleh, Ny. Kasning (55), warga Dusun Sumberdadi, Desa Mentoro, Kec. Soko, Tuban, nekat menghabisi Ny. Dasuki (70), tetangganya sendiri.Pelaku, Senin (11/6) pagi, diamankan di Mapolsek Soko, karena tertangkap basah warga sedang membawa mayat korban yang dimasukkan ke dalam karung.Kapolsek Soko, AKP Kusrin, didampingi Kanit Reskrimnya, Aiptu Sujono, menyatakan, korban dibunuh pelaku dengan cara dipukul dengan linggis sebanyak tiga kali di kediaman pelaku di Desa Mentoro, Kec. Soko, Sabtu (9/6) lalu.Motifnya, karena pelaku terlilit hutang akan pinjam perhiasan yang dikenakan korban, tetapi tidak boleh. Kemudian dihabisi --dibunuh--, ungkap Kusrin.Sementara ini, pelaku yang diamankan di Mapolsek masih menjalani pemeriksaan, sedangkan korban dibawa ke RS Dr Koesma Tuban untuk menjalani autopsi.Berdasarkan pengusutan polisi, korban Ny. Dasuki yang sehari-harinya berprofesi sebagai tukang pijat, ketika itu diajak ke rumah Kasning di Desa Mentoro dengan maksud diminta untuk memijat.Sebelum memijat, mereka berdua memasak. Pengakuan Kasning, dirinya bermaksud meminjam perhiasan gelang dan kalung yang dikenakan Ny. Dasuki dengan maksud untuk membayar hutang.Tetapi, korban tidak bersedia meminjamkan barang perhiasan yang dikenakan itu, sehingga ketika itu dari belakang pelaku memukulkan linggis ke leher korban sebanyak tiga kali hingga akhirnya korban tewas.Melihat korban tewas, Kasning menyembunyikan mayat korban di bawah tempat tidurnya, sedangkan barang perhiasan emas berupa gelang dan kalung langsung diamankan."Tetapi, pagi tadi (11/6) sekitar pukul 02.30 WIB, mayat Ny. Dasuki yang akan dibuang dengan cara dimasukkan ke dalam karung dan dinaikkan sepeda pancal. Ketika dalam perjalanan kepergok warga, sehingga kejadian itu dilaporkan ke Polsek Soko," paparnya. (*/cax)
RADAR BOJONEGORO Selasa, 12 Juni 2007
Tukang Pijat Dibunuh Kliennya
Terungkap setelah Dua Hari Jasadnya Disimpan
TUBAN - Desa Mentoro, Kecamatan Soko, gempar. Dasuki, 70, tukang pijat warga desa setempat dibunuh pengguna jasanya yang juga tetangganya sendiri. Pembunuhan tersebut terjadi Sabtu pagi lalu, namun baru kemarin terungkap saat pelaku pembunuhan tersebut mengangkut jasad korban yang terbungkus terpal dengan sepeda pancal untuk dibuang.Tersangka pembunuhan itu, Kasning, 45, kini ditahan di Mapolsek Soko. Sebagai barang bukti, polisi menyita sejumlah peranti yang dipakai untuk membunuh korban. Antara lain, sebuah linggis, beberapa utas tali rafia, sebuah tali dari karet ban, sebuah sepeda pancal, dan selembar terpal.Pembunuhan tersebut diduga dilatarbelakangi keinginan tersangka memiliki perhiasan yang dikenakan korban. Perhiasan itu berat totalnya 1 ons 5 gram, berupa seuntai kalung, 3 buah gelang, dan 1 buah cincin. Tersangka diduga juga mengambil uang korban dalam dompet. Namun, jumlahnya hingga kini belum diketahui pasti.Keterangan yang diterima Radar Bojonegoro menyebutkan, Kasning menjemput korban yang rumahnya berjarak sekitar 150 meter untuk dimintai tolong memijat pada Sabtu lalu sekitar pukul 08.00. Dari rumah inilah, keduanya jalan bareng menuju rumah Kasning. Sejumlah warga setempat yang jadi saksi melihat keduanya berjalan.Kasning menyatakan, saat melihat Dasuki mengenakan banyak perhiasan timbul keinginan dirinya untuk meminjam. "Keinginan meminjam saya sampaikan setelah dipijat," kata dia kepada petugas.Namun, keinginan itu ditolak oleh janda beranak satu dan bercucu tiga tersebut. Karena inginannya tak terpenuhi Kasning gelap mata. Dia kemudian masuk kamar untuk mengambil sebuah linggis. Linggis inilah yang kemudian tiga kali dihantamkan ke tengkuk korban.Pukulan linggis itu membuat kepala bagian belakang korban remuk. Darah yang mengalir deras dari kepala belakang inilah yang membasahi jarit dan kebaya kuning korban. Darah juga tercecer di lantai dan dipan.Tersangka dengan leluasa membantai korban karena rumahnya pagi itu sepi. Suaminya berada di sawah dan tiga anaknya keluar.Setelah menghabisi korban, dia menggotong jasad korban ke salah satu kamar di rumah tersebut yang tidak terpakai. Dia kemudian memereteli perhiasan korban, lantas menaruh jasadnya di kolong dipan kamar.Untuk menyamarkan penyimpanannya, jasad tukang pijat itu digulung dengan terpal (gelaran) biru. Agar tidak lepas, kedua ujung dan bagian tengah diikat dengan tali rafia. Korban yang hingga waktu luhur tidak pulang dicari keluarganya. Karena sebelum menghilang sejumlah warga setempat melihat korban berjalan bersama Kasning, maka kelurga korban pun mendatangi Kasning.Yang menanyakan kali pertama adalah Yuniati, cucu terkecil korban. Berikutnya, Tami, anak menantu korban, dan Dasim, 40, anak kandungnya. Setiap ditanya keberadaan Dasuki, tersangka mengaku tidak tahu.Jawaban tersebut tidak dipercaya keluarga korban. "Dari gelagatnya, saya curiga kalau Kasning menyembunyikan sesuatu," kata Dasim.Untuk membuktikan kecurigaannya itu, diam-diam Dasim memantau rumah tersangka. Kecurigaan keluarga korban pun jadi kenyataan. Dini hari kemarin, sekitar pukul 00.30, Kasning menuntun sepeda kumbangnya. Di boncengan sepeda tersebut teronggok sebuah barang yang dibungkus terpal.Dasim yang menguntit kemudian menghadang tersangka di tengah jalan menuju persawahan. Kepada tersangka, dia langsung memastikan bahwa isi gulungan terpal tersebut adalah jasad korban, karena pada ujung terpal terlihat dua telapak kaki.Ditegur seperti itu, tersangka kemudian merobohkan sepedanya. Jasad Dasuki yang sudah membengkak dan bau pun ikut ambruk. Dasuki bermaksud lari, namun Dasim kemudian meringkusnya.Kapolres Tuban AKBP Bambang Priyambadha melalui Kasatreskrim AKP Efendy Lubis menyatakan, dari hasil penyidikan sementara pembunuhan tersebut bermotif keinginan tersangka untuk menguasai perhiasan yang dikenakan korban. "Untuk sementara itulah yang berhasil kita korek. Latar belakang lainnya masih kita kembangkan," kata Bambang. (ds)
----------------------------------------------
Best View : 1024 x 768 with IE 5.5 or above
©Copyright 2006, Jawa Pos dotcom colo'RADNET.
http://jawapos.com/index.php?act=detail_radar&id=164105&c=87
Tidak Dipinjami Perhiasan, Seorang Ibu Bunuh Tetangganya

TUBAN—MIOL: Gara-gara tidak diperbolehkan pinjam perhiasan, Ny Kasning (55), warga Dusun Sumberdadi, Desa Mentoro, Kecamatan Soko, Tuban, Jawa Timur, nekat menghabisi Ny Dasuki (70), tetangganya sendiri.Pelaku, Senin (11/6) pagi, diamankan di kantor Polsek Soko, karena tertangkap basah warga sedang membawa mayat korban yang dimasukkan ke dalam karung.Kapolsek Soko AK Kusrin, didampingi Kanit Reskrim Aiptu Sujono, menyatakan, korban dibunuh pelaku dengan cara dipukul dengan linggis sebanyak tiga kali di kediaman pelaku di Desa Mentoro, Kecamatan Soko, Sabtu (9/6) lalu.Motifnya, karena pelaku terlilit utang akan pinjam perhiasan yang dikenakan korban, tetapi tidak boleh. Kemudian dihabisi (dibunuh) ungkap Kusrin.Sementara ini, pelaku yang diamankan di Mapolsek masih menjalani pemeriksaan, sedangkan korban dibawa ke RS Dr Koesma Tuban untuk menjalani autopsi.Berdasarkan pengusutan polisi, korban Ny Dasuki yang sehari-harinya berprofesi sebagai tukang pijat, ketika itu diajak ke rumah Kasning di Desa Mentoro dengan maksud diminta untuk memijat.Sebelum memijat, mereka berdua memasak. Pengakuan Kasning, dirinya bermaksud meminjam perhiasan gelang dan kalung yang dikenakan Ny Dasuki dengan maksud untuk membayar utang.Tetapi, korban tidak bersedia meminjamkan barang perhiasan yang dikenakan itu, sehingga ketika itu dari belakang pelaku memukulkan linggis ke leher korban sebanyak tiga kali hingga akhirnya korban tewas.Melihat korban tewas, Kasning menyembunyikan mayat korban di bawah tempat tidurnya, sedangkan barang perhiasan emas berupa gelang dan kalung langsung diamankan."Tetapi, dini hari tadi (11/6) sekitar pukul 02.30 WIB, mayat Ny Dasuki yang akan dibuang dengan cara dimasukkan ke dalam karung dan dinaikkan sepeda pancal. Ketika dalam perjalanan kepergok warga, sehingga kejadian itu dilaporkan ke Polsek Soko," paparnya. (Ant/OL-03)
PATROLI
Tak Diberi PinjamanTukang Pijat Tewas Dipukul Linggis
indosiar.com, Tuban - Seorang perempuan tukang pijat panggilan Mbok Dasuki tewas secara mengenaskan. Korban mengalami luka yang cukup serius di kepala bagian belakang setelah dipukul dengan linggis oleh tetangganya sendiri. Pasalnya pelaku yang sudah terlilit banyak hutang merasa kesal kepada korban karena pinjam duit tidak diberikan.Mbok Dasuki (70), warga Dusun Mengadi, Desa Mentoro, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Senin (11/06/07) kemarin, ditemukan tewas mengenaskan. Korban tewas akibat luka yang cukup serius di leher bagian belakang karena dipukul dengan linggis oleh Kasning yang masih tetangga dekat korban.Perbuatan sadis pelaku terjadi ketika Kasning, warga Dusun Mengadi, Kecamatan Sukosari, Kabupaten Tuban, Jawa Timur berusaha menghilangkan jejak dengan cara membuang mayat korban ke sawah. Mayat korban yang hampir membusuk dan terbungkus plastik diangkut pelaku menggunakan sepeda. Warga yang curiga melihat hal ini langsung menghadang dan melaporkan kejadian tersebut ke aparat setempat.Perempuan tiga anak ini nekad melakukan perbuatan sadis tersebut karena merasa binggung dililit hutang, berniat meminjam duit kepada Mbok Dasuki namun tidak dikasih. Padahal korban terlihat mempunyai perhiasan gelang yang dipakai.Kejadian sadis ini dilakukan tersangka di rumahnya sendiri Sabtu lalu. Pelaku berpura-pura meminta korban datang ke rumahnya. Sesampai di rumah pelaku, korban dimintai tolong untuk mengaduk sayur, saat itulah pelaku mengayunkan linggis tepat di leher korban bagian belakang hingga korban tewas.Kini Kasning diamankan di Mapolsekta Soka, Kabupaten Tuban, Jawa Timur untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. (Tim Liputan/Sup)

Senin, 11/06/2007 18:01 WIB
Ingin Dapat Perhiasan, Tukang Pijat Dibunuh Tetangganya

');document.write('');document.write('');document.write('');document.write('');//-->TUBAN – Diduga ingin merampas perhiasan, Kasning (45), warga Desa Mentoro, Kec Soko, Tuban tega membunuh Dasuki (70), tukang pijat yang masih tetangganya, pemilik perhiasan 105 gram tersebut. Dia dibunuh dengan cara sangat sadis sehingga saat ditemukan kondisinya sudah mengenaskan.Kasus pembunuhan itu baru diketahui warga setempat Senin 11 Juni 2207 pagi. Saat itu tersangka membuang korban yang jenazahnya sudah sejak Sabtu, 9 Juni 2007 lalu disimpan di dalam rumahnya. Tersangka terlihat kebingungan saat akan membawa jenazah korban yang diboncengkan di sepeda pancalnya. Jenazah dibungkus terpal untuk menghindari kecurigaan.Saat tersangka mengayuh sepedanya, tak jauh dari rumah tersangka, beberapa warga yang curiga meminta tersangka untuk berhenti. Saat membuka bungkusan itu, warga kaget karena ternyata di dalamnya terdapat mayat Dasuki yang lama dicari-cari warga. “Warga langsung melaporkan peristiwa itu ke perangkat desa,” kata Sarmidi, Kaur Kesra desa setempat.Polisi yang mendapat laporan langsung mengamankan tersangka. Dari hasil keterangannya kepada petugas mengatakan, saat itu seperti sudah direncanakan, korban dipanggil ke rumah tersangka untuk diajak masak di ruang dapur. Saat itulah tersangka memukul kepala belakang korban dengan Linggis. Tersangka juga mencekik leher korban hingga tewas.Pengakuan tersangka, ia nekat membunuh Dasuki lantaran ingin memiliki perhiasan yang dikenakan korban. Dari emas itu, ia bermaksud melunasi hutangnya kepada orang lain sebesar Rp1.350.000. Sebelum dibawa keluar rumah, jenazah korban disembunyikan di bawah tempat tidur dan pura-pura tidak terjadi apa-apa.Kapolsek Soko, AKP Ahmad Kusrin saat dikonfirmasi membenarkan adanya pembunuhan sadis tersebut. Dari keterangan tersangka dan para saksi, sebagian perhiasan berupa gelang sudah di jual ke pasar Soko Rp 1,2 juta. “Sisa perhiasan yang masih ada sudah kami amankan,” tegasnya.(nanang fahrudin/sindo/sjn)');document.write('Tutup');document.write('');//-->
© 2007 okezone.com, All Rights Reserved


Read more...

Senin, 23 April 2007

SIMPANAN

KLIK DIFOTO it's my

Read more...

About This Blog

Cek Tagihan PLN

blog tutorial

Gabung Yuk...!

Test Form

Name:
Email Address:
Alamat Web
Berapa usia anda...? Dibawah 17 th
Antara 17 s/d 30th
Diatas 30 th
Apa jenis kelamin anda Pria
Wanita
Baina huma
Apa pendapat anda tentang blog ini..? Sangat kami harapkan, saran, kritik, maupun pendapat anda. silahkan ketik pada kolom disamping ini

free forms

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP