Rabu, 27 Januari 2010

Belum Semua Terima Bantuan

Soko Tuban
Radar Bojonegoro - Warga di Kecamatan Soko yang menjadi korban puting beliung pada Sabtu (23/1) lalu harus bersabar. Sebab, sampai kini Pemkab Tuban belum memberikan bantuan untuk perbaikan rumah yang rusak.

''Sekarang baru dilakukan pendataan berapa jumlah rumah yang rusak. Setelah dilakukan pendataan, akan segera mengajukan usulan ke Sekkab,'' ujar Kasi Linmas Kesbangpolinmas Tuban Saefiudin kepada Radar Bojonegoro kemarin.

Bencana puting beliung Sabtu (23/1) lalu menerjang empat desa di Kecamatan Soko. Yakni, Desa Pandanwangi, Rahayu, Sokosari, dan Bangunrejo. Akibatnya belasan atap rumah rusak dan pohon tumbang.

Sementara itu, korban puting beliung yang terjadi pada 5 Januari di Kecamatan Soko, Widang, dan Kenduruan, hari ini (26/1) bakal mendapatkan bantuan dari Pemkab Tuban. Asep, sapaan akrab Saefiudin menuturkan, anggaran yang disiapkan sebesar Rp 16 juta. Rinciannya, untuk Kecamatan Soko Rp 9 Juta, Kenduruan Rp 4 juta, dan Widang Rp 3 juta.

Dari jumlah itu, kata dia, masing-masing korban tidak menerima dalam jumlah yang sama. Namun ada klasifikasinya. Menurut Asep, untuk rumah yang mengalami kerusakan ringan menerima bantuan Rp 250 ribu. Sedangkan kerusakan sedang Rp 500-700 ribu dan kerusakan berat menerima Rp 1 juta. Sementara untuk korban putting beliung di Kecamatan Semanding tidak mendapat bantuan. ''Karena kerusakannya ringan dan sudah teratasi,'' kata dia. (zak)

Read more...

Selasa, 12 Januari 2010

DPC Barnas Tuban Melawan! Minta DPP Tinjau Ulang SK Penganuliran Pemecatan Sidik Wiyanto

Soko Tuban
TUBAN - DPC Partai Barnas Tuban akhirnya mengambil sikap atas SK DPP terkait penganuliran pemecatan Sidik Wiyanto dari kepengurusan partai. Diam-diam, pada Senin (4/1) lalu, pengurus harian DPC Partai Barnas telah melakukan koordinasi. ''Hasilnya, kami telah mengajukan surat ke DPP agar SK tersebut dilakukan peninjauan ulang,'' tegas ketua DPC Partai Barnas Tuban, Endrik kemarin (11/1) siang.

Pengajuan peninjauan ulang itu disampaikan ke DPP pada Rabu (6/1) lalu, dimaksudkan agar pengambilan kebijakan dari DPC Barnas nantinya tidak salah. Sebab, sebelum turunnya SK itu, DPC belum ada koordinasi dari DPP. Sampai kemarin, Endrik mengaku belum mendapat jawaban dari DPP Partai Barnas. ''Ini masih kami tunggu,'' ujar anggota DPRD Tuban itu.

Selain itu, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan DPD Partai Barnas Jatim terkait keanggotaan Sidik Wiyanto. ''Hasil klarifikasi itu, kalaupun Pak Sidik (Sidik Wiyanto, Red) ingin kembali ke partai, tidak masalah. Namun tidak menjadi pengurus harian,'' tuturnya. Kenapa demikian? ''Karena yang bersangkutan telah mencemarkan nama baik partai,'' tegas politisi asal Soko itu.

Diberitakan sebelumnya, DPP Partai Barnas mengeluarkan surat keputusan bernomor 010/SKI/DPP-P.BARNAS/XII/2009. Surat yang ditembuskan kepada DPD Partai Barnas Jatim dan DPC Partai Barnas Tuban itu berisi penganuliran SK pemecatan Sidik Wiyanto dari partainya. Sebelumnya, Sidik dipecat oleh DPP. Akibatnya, caleg yang mengantongi 1.789 suara itu gagal menjadi anggota DPRD Tuban. Dia diganti Endrik, ketua partainya yang memperoleh suara terbanyak kedua yakni 1.337 suara. (zak)Radar Bojonegoro

Read more...

Sabtu, 09 Januari 2010

Pemkab Belum Berikan Bantuan

Soko Tuban 
TUBAN - Korban angin puting beliung di sejumlah wilayah di Tuban masih harus bersabar. Sebab, pemkab setempat sampai sekarang belum memberikan bantuan untuk mereka.

''Sudah kami ajukan ke Sekkab. Dan kami masih menunggu anggarannya,'' kata Kasi Linmas Kesbangpolinmas Tuban Saefiudin ketika dikonfirmasi Radar Bojonegoro, kemarin.

Namun, dia enggan menyebutkan jumlah anggaran yang diajukan untuk bantuan kepada warga yang menjadi korban puting beliung tersebut. ''Untuk nominalnya nanti kalau sudah turun saja,'' terang mantan ajudan Wabup Tuban itu.

Asep, sapaan akrabnya mengatakan, puting beliung pada Selasa (5/1) sore lalu tidak hanya menerjang wilayah Kecamatan Soko dan Kenduruan. Namun, angin kencang disertai hujan itu juga menerjang Kecamatan Widang dan Semanding. Di Kecamatan Soko tercatat ada 40 rumah yang rusak akibat diterjang puting beliung. Rinciannya, satu rumah roboh dan 39 rumah gentengnya rusak. Sedangkan di Kecamatan Kenduruan ada enam rumah rusak. Sementara di Kecamatan Semanding ada 51 rumah yang mengalami kerusakan.

Asep menjelaskan, rumah warga yang gentengnya rusak sudah mulai diperbaiki. Mereka rata-rata menggunakan sisa genteng untuk menambal genteng yang pecah. (zak) Radar Bojonegoro

Read more...

Puluhan Rumah Rusak Diterjang Angin Puting Beliung

Soko Tuban

Tuban - Sekitar 40 rumah, lima di antaranya ambruk diterjang angin puting beliung di sejumlah desa di Kecamatan Soko dan Kenduruhan, Tuban, Selasa (5/1) malam. Pemerintah Tuban membantah jika tidak memberikan bantuan.
Desa-desa tersebut, yaitu Mentoro dan Mojoagung, Prambon, Tluwih, dan Bangunrejo, Kecamatan Soko. Kemudian di Dusun Krajan Desa Tawaran, Kecamatan Kenduruhan. Tim dari Pemerintah Tuban masih mendata jumlah rumah rusak, berikut fasilitas umum.
Angin puting beliung juga membuat dua orang yaitu Supiah,36 tahun dan Zainal,13 tahun, keduanya warga Desa Tawaran, terluka, akibat terimpa reruntuhan. Kondisi yang hampir sama juga dialami warga Desa Mentoro. Bahkan tiga rumah ambruk akibat angin yang menyasar perkampungan sekitar pukul 18.30 itu.
Data di lapangan menyebutkan, bermula saat hujan sekitar pukul 17.30 waktu setempat.
Di sela-sela hujan tiba-tiba diiringi angin yang berputar-putar di perumahan warga. Kerasnya angin membuat sejumlah bangunan roboh. Sebagian besar rumah roboh terutama yang semi permanen. Angin juga merobohkan pagar setinggi tiga meter milik H Ali, warga Mentoro. Pohon-pohon juga roboh akibat kerasnya angin.
Buruknya cuaca pada Selasa malam itu, membuat pihak Perusahaan Listrik Negara Tuban, memadamkan saluran listrik. Sebab, sejumlah kabel jaringan rusak tertimpa pohon roboh. “Angin kerasnya sekali,” tegas Dahlan, warga Mentoro.
Sementara itu juru bicara Pemerintah Kabupaten Tuban, Gatot S, membantah Pemerintah tidak ada perhatian terhadap warga yang terkena bencana angin puting beliung. Pemerintah Tuban masih menunggu laporan dari Kecamatan Soko dan Kenduruhan. Sebab, data jumlah rumah yang rusak masih dalam tahap pendataan. Jika, data sudah diterima, akan ditindaklanjuti dengan bantuan. “Salah jika Pemerintah Tuban tidak memberikan santunan,” tegas Gatot. Dia tidak merincikan berapa bantuan yang akan diterima warga.
SUJATMIKO TEMPO Interaktif

Read more...

Rabu, 06 Januari 2010

Guru Dominasi Kasus Perselingkuhan

Soko Tuban
TUBAN - Pelanggaran disiplin yang dilakukan aparat pemerintah di Tuban paling banyak karena skandal perselingkuhan. Dari sekitar 40 kasus pelanggaran disiplin yang ditangani Inspektorat (dulu Badan Pengawas) Tuban selama 2009, 50 persen di antaranya kasus hubungan gelap.

Kasus tersebut paling banyak menimpa guru, yang profesinya dituntut mengedepankan moralitas. Kasus moralitas aparat pemerintah tersebut kemarin (4/1) dibeber Kepala Inspektorat Tuban Agus Priyono Hadi.

Secara spesifik, terbanyak perselingkuhan tersebut menimpa guru SD. Jumlahnya 10 kasus. Selebihnya, pendidik SMP hingga SMA dan tenaga administrasi sekolah.

Mengapa kasus perselingkuhan banyak terjadi di kalangan pendidik? Dia menyatakan, hal tersebut karena secara kuantitas jumlah guru di Tuban jauh lebih besar. Diperkirakan jumlahnya mencapai 7 ribu orang.

Agus menuturkan, perselingkuhan guru SD dilatarbelakangi berbagai hal. Terbanyak, karena mereka satu tempat kerja atau sering nunut dan berboncengan motor. Karena itulah, setiap kali memberikan pembinaan kepada guru SD, mantan kepala Satibtranmas Pemkab Tuban ini selalu berpesan agar guru tidak hanya beli helm, juga beli motor. Pesan tersebut terkandung maksud agar setiap guru memiliki motor sendiri. Sehingga, mereka tidak nunut temannya dan berboncengan. ''Dari boncengan motor inilah perselingkuhan berawal,'' kata Agus.

Mantan sekretaris Komisi Pemilihan Umum Kabupaten (KPUK) Tuban ini menambahkan, dalam menangani perkara perselingkuhan, inspektorat memberikan sanksi tegas terhadap para guru. Salah satu pertimbangannya, karena mereka tidak hanya mengajarkan keilmuan (akademik) kepada para muridnya. Moralitasnya juga jadi panutan. ''Kalau sudah terlibat ini, tidak ada lagi toleransi,'' tutur Agus.

Dia kemudian mencontohkan salah satu calon pegawai negeri sipil (CPNS) guru yang tengah proses pemberkasan untuk diangkat menjadi PNS. Karena tertangkap basah selingkuh di sebuah hotel di Tuban, pemberkasan CPNS-nya dibatalkan. ''Bahkan, nomor induk pegawainya (NIP) yang sudah keluar langsung dianulir,'' tegas pria kelahiran Lamongan 51 tahun lalu tersebut.

Kasus lain yang dijadikan contoh Agus adalah perselingkuhan dua guru di wilayah Kecamatan Parengan. Setelah diperiksa inspektorat, dua pendidik itu diturunkan pangkatnya satu tingkat. Setelah itu, keduanya dimutasi ke luar Kecamatan Parengan. Satu dipindah ke wilayah Kecamatan Jatirogo dan pasangannya dipindah ke Soko.

Menurut Agus, kedua guru yang selingkuh tersebut juga masih dipantau absensi masuk kerja dan kegiatan di luar tempat mengajar. ''Kalau masih selingkuh, sanksinya lebih berat,'' tutur pejabat yang baru pulang dari menjalankan ibadah haji ini.

Agus mengisyaratkan kalau mereka masih tetap melakukan hubungan gelap dengan pasangan selingkuhnya, maka tidak tertutup kemungkinan bakal diberhentikan. Setelah selingkuh, pelanggaran displin terbanyak lainnya adalah meninggalkan tugas tanpa pemberitahuan. Untuk jenis pelanggaran ini, dia tidak menyebut persentasenya.(ds) Radar Bojonegoro

Read more...

About This Blog

Cek Tagihan PLN

blog tutorial

Gabung Yuk...!

Test Form

Name:
Email Address:
Alamat Web
Berapa usia anda...? Dibawah 17 th
Antara 17 s/d 30th
Diatas 30 th
Apa jenis kelamin anda Pria
Wanita
Baina huma
Apa pendapat anda tentang blog ini..? Sangat kami harapkan, saran, kritik, maupun pendapat anda. silahkan ketik pada kolom disamping ini

free forms

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP