bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online
Tampilkan postingan dengan label soko dan sekitarnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label soko dan sekitarnya. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 September 2010

Maling Motor yang Ditangkap Massa di Widang - Curanmor Lintas Tuban-Bojonegoro

Soko Tuban - Dua pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang ditangkap massa di sawah Dusun Temas, Desa Compreng, Kecamatan Widang pada Jumat (3/9) lalu langsung menjalani sejumlah rangkaian interogasi.

Hasilnya, untuk sementara kedua pelaku, M. Thokol, 42, dan Sulaeman, 35, keduanya warga Bojonegoro juga terungkap mencuri di lima tempat kejadian perkara (TKP) lainnya. Lima TKP tersebut, Vega warna silver di jalan dekat pabrik Petrochina, Desa Rahayu, Kecamatan Soko (2006); Honda Supra 125 warna merah di SPBU Rengel (2008); dan Yamaha Jupiter biru di wilayah Kecamatan Kapas, Bojonegoro (2007). Berikutnya, Supra 125 di Sumberejo, Bojonegoro serta Supra di jembatan Glendeng, Bojonegoro.

Kasatreskrim Polres Tuban Iptu Budi Santoso mengatakan, selain menjalani sejumlah rangkaian pemeriksaan untuk mengungkap tempat kejadian perkara (TKP) lainnya, dua tersangka juga diinterogasi untuk mengungkap penadah motor hasil kejahatannya.

Dikatakan Budi, sangat mungkin TKP yang diakui dua pelaku curanmor ini lebih sedikit dibanding dengan tindak pidana yang dilakukan. ''Ini yang terus kami dalami. Sangat mungkin, banyak TKP yang disembunyikan. Petunjuk inilah yang masih kami gali,'' tegas dia.
Dua maling motor ini ditangkap setelah tepergok saat beraksi di jalan sawah Dusun Temas, Desa Compreng, Kecamatan Widang. Kejadian tersebut berawal saat motor Supra 125 milik Pardam, 38, warga desa setempat diparkir di pematang sawah. Saat itu, kedua pelaku yang tengah melintas dengan motor Smash yang belum diketahui identitasnya langsung menyatroni. Sulaeman menjadi eksekutor pencurian tersebut. Dia turun dan merusak paksa kunci motor korban. Sementara Thokol menunggu diatas motornya. Saat hendak kabur, korban memergokinya dan meneriaki maling. Dalam pengejaran tersebut kedua pelaku berhasil ditangkap. Massa yang emosi menghajarnya dan membakar motor yang dipakai operasi. (ds/wid)   Radar Bojonegoro


Read more...

Kamis, 01 Juli 2010

Isu Penculikan Anak di Bawah 10 Tahun Gegerkan Warga

Soko Tuban
Dua hari lalu ada sms masuk, (maklum Aku lagi mengungsi di Surabaya)sayang sudah ku hapus karena kuanggap hanya isyu dan gak begitu penting. dari mantan pacarku (sekarang dah jadi istri) seandainya sekedar kenal dan kirim salam itu di bilang pacaran. hehe. yang jelas saat ini dia_lah (menurutku), satu-satunya orang yang dengan setia menunggu kehadiranku(semoga)  Disamping kedua Buah hatiku yang tercinta InsyAllah. isinya kurang lebih begini. ( SMS sebenarnya dalam bahasa jawa) Dari Polsek Bojone goro Plat Nomor mobil Penculik Anak L.......(sudah lupa) Sekedar memancing mungkin ada yang salah ku balas SMS tersebut. Kok polres Bojonegoro Tahu nomormu?( Semenjak Peristiwa SMS TEROR yang ku ceritakan dulu itu Nomor hp mantan pacarku di ganti dan tidak sembarangan orang di kasih, termasuk tidak mengisi pulsa Elektrik di sembarang counter penjual pulsa) Jawabnya. INi tadi info dari  Janda sebelah rumah.. tadi anak Gambor (Nama sebuah dusun dikampungku) mau di culik di sebelah timur sekolahan SD (" lokasinya memang sepi jarak antar pedukuhan Hampir satu kilo meter terbentang di tengah persawahan dengan jalan ber kelok") sudah dinaikan sepedah motor. anaknya teriak-teriak, ketahuan suaminya kom (tetanggaku) kemudian anak itu dilepaskan. Lalu kubalas " Yang menculik orang berapa?". Dijawab.Gak ngerti Aku cuman dengar dari tetangga, Gak lihat sendiri. Tapi Aku di SMS .......(ponakan istriku) anak Njalin (sebuah kampung di desa sebelah) dan anak Jati (Nama sebuah Desa) yang kabarnya hilang belum ketemu. ku abaikan SMS itu. Dan karena memory hp dah penuh delet aja semua SMS yang keluar maupun masuk, Sampai tadi pagi aku di SMS lagi, Anak Jati yang hilang ketemu dibuang di sungai. Jantung, Hati & Ampelanya hilang.Ditinggali uang satu juta."Astaghfirrullah" Setengah tidak percaya aku membaca SMS ter sebut "Benarkah...?!?!?!!!" Karena penasaran. maka kubalas dengan pertanyaan. Dibuang dikali mana Ma? Jawabnya Singkat. Gak ngerti. Nah Kan...?(Gak ngerti lagi) semoga saja tidak bener bener kejadian seperti itu. kuteruskan pertanyaanku. Sampean Dikasih Tahu siapa...? Dijawab. .............(Menyebut nama tetanggaku) Jadi penasaran Benar atau tidak ya...? Atau barang kali memang aku yang ketinggalan berita, kulihat situs web radar bojonegoro...? Hasilnya nihil. Gak ada berita tentang penculikan. Ahirnya seperti biasa . Merapal aji pamungkas sun matak aji goggling dengan kata kunci penculikan soko tuban Hasilnya......? silahkan klik kata kunci diatas. pada baris teratas search engine tersebut terpampang ringkasan Berita yang aku cari ("Aku memang sudah ketinggalan Berita") dan setelah masuk Webnya Terdapat berita seperti ini.

TUBAN – Isu penculikan anak di bawah usia 10 tahun dengan motiv ritual sepekan belakangan beredar luas di wilayah Kabupaten Tuban.
Dugaan penculikan guna kepentingan ritual pesugihan, kesaktian termasuk pula untuk tumbal proyek itu, lantaran percobaan penculikan ini tidak diikuti dengan pesan, baik melalui SMS (short massage service) lewat ponsel maupun pesan lainnya, dengan meminta tebusan uang kepada keluarga korban.
Tengara penculikan dengan sasaran bocah yang masih duduk di bangku SD tersebut, dikuatkan dari serangkaian upaya merenggut paksa terhadap para anak-anak di Kecamatan Kota Tuban, Semanding, Rengel, Soko, Tambakboyo, Widang, Plumpang, serta beberapa kawasan di Tuban belahan barat seperti Kecamatan Jatirogo, Parengan, Senori dan Kecamatan Kerek yang berada di kawasan PT Semen Gresik (PT SG) pabrik Tuban.
Walau pun belum sempat ada anak-anak yang berhasil dibawa kabur penculik, bukan berarti lantas membuat para orang tua yang ada di Bumi Wali-sebutan lain Kota Tuban- tak mengambil sikap.
“Justru situiasi seperti inilah yang harus diwaspadai para orang tua. Kaena bisa jadi isu penculikan terhadap ank-anak itu dihembuskan sendiri oleh komplotan penculik sebagai uaha menciptakan situasi horor di tengah masyarakat,” kata Ketua LSM WAR (Wahana Aspirasi Rakyat) Tuban, Bambang Lukmanto.
Menurut aktifis kemanusiaan, lingkungan dan hukum ini, para orang tua dengan anak-anak yang mauk target penculikan harus lebih ekstra hati-hati terhadap semua orang asing di lingkungan sekolah maupun lingkungan di mana mereka tinggal.
Mengantisipai agar tak membuat situasi semakin horor, saat ini Bambang dengan para relawannya tengah melakukan penelusuran terkait kebenaran isu penculikan tersebut. Dengan begitu, dia berharap segera mendapatkan akurasi data yang digali di lapangan. Termasuk mencari tahu siapa sejatinya yang mengembuskan isu di tengah kecanggihan informasi saat ini, serta motif di sebaliknya.
Sementara, keheningan pagi awal musim kemarau di Dusun Tawangsari, Desa Ngadirejo, Kecamatan Rengel, sedikit terusik menyusul muncul kabar adanya usaha penculikan terhadap salah seorang anak usai mengikuti pengumuman kenaikan kelas di SDN Ngadirejo II akhir pekan kemarin.
Keterangan warga, beruntung siswa cewek yang baru saja naik naik ke kelas 4 ini tergolong mujur. Saat berpisah pulang dari rombongan siswa lain pasca pengumunan kenaikan perawan kencur ini dicegat serombongan orang tak dikenal dengan mengendarai Phanter warna silver berplat nomor L.
Masih keterangan warga, semula salah satu dari lima lelaki itu menanyakan rumah kepala desa. Karena mengaku bingung dengan keterangan bocah yang tinggal di bantaran Bengawan Solo, para rombongan yang diduga berasal dari Surabaya berdasar plat nomor kendaraan yang ditumpanginya, berusaha membujuk gadis kelas 4 SD itu naik Phanter menuju rumah kepala desa dengan memberinya sebatang permen coklat jenis Silver Queen.
Namun baru saja rombongan akan beranjak masuk mobil mendadak muncul sejumlah warga yang baru saja pulang dari sawah. Karena curiga, para petani ini berusaha meminta penjelasan akan diajak kemana gadis kecil itu.
Kecurigaan warga kian menjadi, karena belum sempat memperoleh jawaban mendadak mobil Phanter yang mengangkut rombongan lelaki berpenampilan flamboyant itu sudah keburu kabur.
“Padahal, saat itu sama sekali tak terlintas di benak kami bahwa mereka adalah orang-orang yang diduga akan melakukan penculikan. Informasi itu baru kami dengar dari Pak Kades setelah kami melaporkan kejadian tersebut,” terang sejumlah warga saat rehat makan siang di Dusun Tawangsari.
Sayangnya, warga tak sempat menghafal plat nomor kendaraan yang ditumpangi orang-orang mencurigakan itu, karena konsentrasinya hanya menyelamatkan bocah yang baru saja naik kelas 4 tersebut.
“Yang ada dalam pikiran kami saat itu bagaimana agar bocah SD ini tak jadi dibawa rombongan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah datang ke desa kami. Tapi yang pasti kami tak pernah berpikir bahwa mereka adalah orang-orang jahat,” imbuh warga. sumber (maiwanews).

"Terahir Info yang berhasil terhimpun bahwa kabar adanya anak yang dibunuh dibuang di kali dan diambil hati jantung dll serta ditinggali sejumlah uang, di desa Jati Hanya isyu !!!"

Read more...

Jumat, 21 Mei 2010

Banjir di Tuban Mulai Surut

Soko Tuban
Banjir yang sempat menggenangi sejumlah desa di Tuban mulai surut. Saat ini air Bengawan Solo sudah menurun.

Meski surut namun hingga kemarin (19/5), tinggal dua desa yang masih terendam air banjir. Yakni, Desa Ngadirejo dan Desa Kanorejo, Kecamatan Rengel. Meski masih ada air, namun sudah tak lagi masuk pemukiman warga. Air hanya merendam sebagian jalan poros desa. Itupun ketinggianya hanya sekitar mata kaki orang dewasa. ''Kondisinya saat ini sudah surut,'' kata Camat Rengel, Tadjudin Tebyo kepada Radar Bojonegoro kemarin sore.

Sementara itu sejumlah desa lainnya sudah tak terendam lagi. Antara lain Desa Patihan, (Kecamatan Widang) dan Desa Sandingrowo, Desa Mojoagung, Glagahsari (Kecamatan Soko). Tak hanya itu, Desa Kebomelati, Kecamatan Plumpang juga sudah tak tergenang lagi. (zak/nas)Radar Bojonegoro

Read more...

Rabu, 19 Mei 2010

Lima Desa Masih Tergenang Banjir

Soko Tuban
Hingga kemarin (19/5) banjir masih menghantui lima desa di tiga kecamatan. Yakni, Desa Patihan, Kecamatan Widang; Desa Ngadirejo, Kecamatan Rengel; serta Desa Sandingrowo, Mojoagung, dan Glagahsari, Kecamatan Soko.

Sebab, debit air Bengawaan Solo belum ada penurunan yang siginifikan.

Di Desa Patihan, misalnya, sepanjang jalan poros desa setempat masih terendam banjir dengan ketinggian 10-30 cm. Di Desa Ngadirejo, ketinggian air juga masih sama dengan hari sebelumnya. Yakni, sebagian jalan poros desa setempat tergenang air dengan ketinggian sekitar 50 cm. Hal sama juga terjadi di Desa Glagahsari.

Sedangkan di Desa Sandingrowo, banjir juga masih merendam desa setempat dengan

ketinggian 30 cm. Ada sekitar 10 rumah dan 25 hektare (ha) sawah yang terendam. Dan di Desa Mojoagung, ketinggian air sekitar 30 cm, dan menggenangi sekitar 40 ha sawah dan sekitar 500 meter jalan poros. "Yang jelas (banjir) relatif sudah turun, tetapi masih stabil seperti hari kemarin (Senin, 17/5)," ungkap Kasi Perlindungan Masyarakat Bakesbangpollinmas Tuban, Saefudin, saat dihubungi via ponselnya. Sejauh ini, lanjut dia, penanganan banjir masih ditangani pihak kecamatan.

Sementara itu, Desa Kebomelati, Kecamatan Plumpang juga mulai terendam banjir. Jalan poros desa sepanjang 500 meter (m) terendam dengan kentinggian 50-70 cm. Desa tersebut jaraknya dekat dengan Bengawan Solo. "Namun belum ada rumah yang terendam," tegas Saiful, warga setempat. (zak/fiq)

Read more...

Selasa, 18 Mei 2010

Banjir Meluas di Empat Kecamatan

Soko Tuban
Banjir dua hari akibat luapan Bengawan Solo, mulai Senin (17/5) hingga Selasa (18/5), meluas di empat kecamatan di Kabupaten Tuban. Daerah yang tergenang banjir kemungkinan akan lama surut mengingat berada di tanah cekungan dan belum ada tanggul di pinggir Bengawan Solo.
Kecamatan yang digenangi air, yaitu Kecamatan Soko, Rengel, Plumpang dan Widang. Kecamatan Rengel dan Soko tercatat paling parah terendam banjir karena beberapa desa posisinya tepat di bantaran Bengawan Solo. Kondisi itu diperparah dengan belum adanya tanggul, sehingga air mudah masuk rumah dan areal persawahan.
Sumber : SUJATMIKO(TEMPO Interaktif)

Read more...

Sabtu, 09 Januari 2010

Pemkab Belum Berikan Bantuan

Soko Tuban 
TUBAN - Korban angin puting beliung di sejumlah wilayah di Tuban masih harus bersabar. Sebab, pemkab setempat sampai sekarang belum memberikan bantuan untuk mereka.

''Sudah kami ajukan ke Sekkab. Dan kami masih menunggu anggarannya,'' kata Kasi Linmas Kesbangpolinmas Tuban Saefiudin ketika dikonfirmasi Radar Bojonegoro, kemarin.

Namun, dia enggan menyebutkan jumlah anggaran yang diajukan untuk bantuan kepada warga yang menjadi korban puting beliung tersebut. ''Untuk nominalnya nanti kalau sudah turun saja,'' terang mantan ajudan Wabup Tuban itu.

Asep, sapaan akrabnya mengatakan, puting beliung pada Selasa (5/1) sore lalu tidak hanya menerjang wilayah Kecamatan Soko dan Kenduruan. Namun, angin kencang disertai hujan itu juga menerjang Kecamatan Widang dan Semanding. Di Kecamatan Soko tercatat ada 40 rumah yang rusak akibat diterjang puting beliung. Rinciannya, satu rumah roboh dan 39 rumah gentengnya rusak. Sedangkan di Kecamatan Kenduruan ada enam rumah rusak. Sementara di Kecamatan Semanding ada 51 rumah yang mengalami kerusakan.

Asep menjelaskan, rumah warga yang gentengnya rusak sudah mulai diperbaiki. Mereka rata-rata menggunakan sisa genteng untuk menambal genteng yang pecah. (zak) Radar Bojonegoro

Read more...

Puluhan Rumah Rusak Diterjang Angin Puting Beliung

Soko Tuban

Tuban - Sekitar 40 rumah, lima di antaranya ambruk diterjang angin puting beliung di sejumlah desa di Kecamatan Soko dan Kenduruhan, Tuban, Selasa (5/1) malam. Pemerintah Tuban membantah jika tidak memberikan bantuan.
Desa-desa tersebut, yaitu Mentoro dan Mojoagung, Prambon, Tluwih, dan Bangunrejo, Kecamatan Soko. Kemudian di Dusun Krajan Desa Tawaran, Kecamatan Kenduruhan. Tim dari Pemerintah Tuban masih mendata jumlah rumah rusak, berikut fasilitas umum.
Angin puting beliung juga membuat dua orang yaitu Supiah,36 tahun dan Zainal,13 tahun, keduanya warga Desa Tawaran, terluka, akibat terimpa reruntuhan. Kondisi yang hampir sama juga dialami warga Desa Mentoro. Bahkan tiga rumah ambruk akibat angin yang menyasar perkampungan sekitar pukul 18.30 itu.
Data di lapangan menyebutkan, bermula saat hujan sekitar pukul 17.30 waktu setempat.
Di sela-sela hujan tiba-tiba diiringi angin yang berputar-putar di perumahan warga. Kerasnya angin membuat sejumlah bangunan roboh. Sebagian besar rumah roboh terutama yang semi permanen. Angin juga merobohkan pagar setinggi tiga meter milik H Ali, warga Mentoro. Pohon-pohon juga roboh akibat kerasnya angin.
Buruknya cuaca pada Selasa malam itu, membuat pihak Perusahaan Listrik Negara Tuban, memadamkan saluran listrik. Sebab, sejumlah kabel jaringan rusak tertimpa pohon roboh. “Angin kerasnya sekali,” tegas Dahlan, warga Mentoro.
Sementara itu juru bicara Pemerintah Kabupaten Tuban, Gatot S, membantah Pemerintah tidak ada perhatian terhadap warga yang terkena bencana angin puting beliung. Pemerintah Tuban masih menunggu laporan dari Kecamatan Soko dan Kenduruhan. Sebab, data jumlah rumah yang rusak masih dalam tahap pendataan. Jika, data sudah diterima, akan ditindaklanjuti dengan bantuan. “Salah jika Pemerintah Tuban tidak memberikan santunan,” tegas Gatot. Dia tidak merincikan berapa bantuan yang akan diterima warga.
SUJATMIKO TEMPO Interaktif

Read more...

Senin, 30 November 2009

Janji Pekan Depan Direalisasikan Distribusi Kompor Gas dan Tabung Elpiji 3 Kg

Soko Tuban
TUBAN - Minimnya pasokan menjadi salah satu kendala yang dihadapi Pertamina Surabaya untuk mendistribusikan kompor gas dan tabung elpiji pada program konversi (peralihan) minyak tanah (mitan) di Kabupaten Tuban. Akibatnya, konsultan Pertamina di wilayah Bumi Ronggolawe kebingungan. Padahal, warga setempat sudah mempertanyakan kelanjutan program pemerintah ini.

Manajer Operasional PT Wahana Adya, Agus Meutiartono mengatakan, pihaknya sudah mengajukan ke Depo Pertamina agar tabung dan kompor gas secepatnya didistribusikan ke Tuban. "Dan sudah ada jawaban, pihak Pertamina siap," ungkapnya kemarin (28/11).

Namun, lanjut Agus, dalam surat jawaban itu tidak dijelaskan jadwal pendistribusian di Tuban. Sebab, jatah untuk penerima konversi mitan dari warga Kabupaten Tuban masih menunggu antrean lagi. "Mungkin minggu depan mas,'' janjinya.

Agus mengaku tak bisa berbuat banyak dengan molornya pendistribusian tabung elpiji dan kompor dari Pertamina. Sebab, semua yang mendistribusikan barang ke Tuban adalah tanggung jawab dan wewenang Pertamina. "Tidak dari konsultan. Karena itu, konsultan hanya bisa menggantungkan pihak Pertamina," terangnya.

Diberitakan sebelumnya, kuota konversi mitan untuk Kabupaten Tuban sebanyak 292 ribu kepala keluarga (KK). Namun, setelah dilakukan pendataan, jumlah penerimanya membengkak menjadi 321.804 KK. Dari jumlah itu, yang sudah menerima kompor gas dan tabung elpiji ada 297.923 KK atau 93 persen. Mereka tersebar di 20 kecamatan.

Sementara 23.881 KK lainnya belum menerima, masih menunggu Pertamina. Jumlah warga yang belum menerima ini terdapat di Kecamatan Tuban dan Soko. Di Kecamatan Tuban, dari 10.626 KK yang seharusnya menerima, baru 2.266 KK yang sudah mendapatkan kompor gas dan tabung elpiji 3 kg. Sedangkan di Kecamatan Soko, dari calon penerima 26.893 KK, baru 11.372 KK yang mendapatkan. (zak)Radar Bojonegoro

Read more...

Jumat, 23 Oktober 2009

Temukan Dua Penambang Pasir Mekanik

Soko Tuban
TUBAN - Tim gabungan Satpol PP, Dinas Pertambangan dan Energi, Polres, Polisi Militer, dan Kodim 0811 Tuban kemarin (22/10) merazia penambang pasir mekanik yang beroperasi di Kecamatan Soko dan Parengan. Hasilnya, petugas menemukan dua penambang pasir mekanik yang masih nekat beroperasi.

Razia yang dimulai sekitar pukul 08.30 itu dimulai dari Kecamatan Soko. Salah satu sasarannya di Desa Menilo. Ditempat tersebut, petugas masih menjumpai penambang pasir mekanik. Saat kedatangan petugas, para penambang itupun tidak berkutik. Mesin disel yang semula beroperasi, mendadak dimatikan. Petugas langsung menyetop aktivitas penambangan pasir secara mekanik tersebut dan membawa mesil diselnya sebagai barang bukti.

Setelah itu, petugas gabungan melakukan razia di Desa Selogabus Kecamatan Parengan. Ditempat tersebut, petugas menemukan ada satu penambang pasir mekanik yang masih beroperasi. Sama seperti di Menilo, barang bukti berupa mesil disel juga diamankan untuk dibawa ke Kantor Satpol PP Tuban.

Kepala Satpol PP Heri Muharwanto mengatakan, kedua penambang pasir mekanik tersebut akan segera dipanggil untuk dilakukan pembinaan. Dikatakan Heri, selanjutnya akan menertibkan sejumlah penambang pasir yang ditengarai masih beroperasi. Seperti di Kecamatan Grabagan dan Rengel. ''Penambang pasir laut yang ada di Bancar juga akan kami tertibkan,'' tegasnya. (zak)  Radar Bojonegoro

Read more...

Kamis, 15 Oktober 2009

Dandim Tuban-Kabakorwil II Serahkan Rumah ke Warga

Soko Tuban



Reporter : Abdul Qohar
(beritajatim.com) - Siang tadi, rumah tidak layak huni (RTLH) yang telah selesai di renovasi oleh TNI bersama masyarakat diserahkan kepada pemiliknya lagi.

Penyerahan tersebut ditandai dengan kehadiran Kepala Bakorwil II Bojonegoro, Stiadjid bersama Dandim 0811 Letkol Inf Dadang Sudrajat. Secara simbolis dua pejabat tersebut meninjau langsung beberapa rumah yang telah selesai direhap di Kecamatan Soko dan Rengel, Kabupaten Tuban.

Data yang dihimpun beritajatim.com di lapangan, Kamis (15/10/2009) menyebutkan, kalau se Kabupaten Tuban sebenarnya terdapat 1.000 rumah yang dibantu merehap oleh Pemprov Jatim dan pengerjaannya dilakukan oleh para TNI dimasing-masing koramil.

Dengan begitu, di masing-masing koramil atau kecamatan, terdapat sekitar 50 RTLH yang direnovasi. Sebab, di Kabupaten Tuban terdapat 20 kecamatan yang tersebar diseluruh wilayah bumi Ronggolawe itu.

Kepada beritajatim.com, Kepala Bakorwil II Bojonegoro, Stiadjid mengaku cukup terkesan dengan kegiatan tersebut. Sebab, warga sekitar rumah yang dibantu Pemprov Jatim sangat antusias untuk ikut bersama-sama mengerjakannya.

"Saya berterima kasih kepada para prajurit yang dengan tanpa lelah setiap hari mengerjakan rehap rumah bersama warga. Ini salah satu bentuk TNI manunggal dengan masyarakat," kata Stiadjid disela-sela meninjau langsung lokasi rumah yang dibangun dipelosok desa di Kecamatan Soko, Tuban.

Diterangkan, se Jawa Timur tahun ini ada sekitar 20.000 rumah yang dibantu merehap dengan bantuan dana masing-masing Rp 5 juta. "Kalau terus seperti ini, maka tidak lama RTLH di Jatim akan semakin berkurang banyak," tegasnya.

Terpisah, Dandim 0811 Tuban, Letkol Inf Dadang Sudrajat menegaskan, kalau sejauh ini pengerjaan rehap rumah telah mencapai sekitar 50 persen se Kabupaten Tuban.

"Hampir semua rumah yang dibenahi disemua kecamatan kondisinya sudah luar biasa. Dalam waktu yang tidak lama, semuanya akan selesai," sambungnya.

Sementara itu, empat desa diantaranya yang warganya mendapat bantuan rehap rumah adala Desa Cekalang dan Tluwe, keduanya di Kecamatan Soko, serta Desa Kebonagung dan Pekuwon, keduanya di Kecamatan Rengel.[dul/ted]sumber : beritajatim

Read more...

Rabu, 07 Oktober 2009

Warga Minta JOB P-PEJ - BP Migas Penuhi Tuntutan

Soko Tuban
SOKO-BOJONEGORO - Sekitar 300 warga dari tiga dusun di Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Tuban kemarin (6/10) mendatangi balai desa setempat. Mereka menuntut Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB P-PEJ) dan BP Migas memenuhi keluhan warga terkait pengoperasian tambang minyak di wilayah setempat.

''Warga minta jawaban dari BP Migas dan JOB P-PEJ untuk segera memenuhi tuntutan. Warga mulai mendapat dampak buruk dari pengolahan minyak di pengeboran,'' kata Kepala Desa Rahayu Imam Lughuzali selaku pihak perantara pertemuan antara warga dan BP Migas.

Dia menuturkan, dampak buruk yang ditimbulkan di antaranya suhu terlampau panas, bau tidak sedap, kebisingan, dan gangguan terhadap tanaman. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Balai Lingkungan Hidup (BLH) Tuban beberapa waktu lalu, lanjut Imam, suhu luar di ketiga dusun tersebut mencapai 65 derajat celcius. Sedangkan suhu di dalam ruangan mencapai 35 derajat celcius. Suhu itu melebihi ambang batas di ruangan yang maksimal 28 derajat celcius.

''Khususnya untuk SDN 1 dan 2 Rahayu yang hanya berjarak 150 meter dari lokasi pengeboran. Hal itu sangat mengganggu proses belajar,'' imbuhnya.

Asmui, salah satu perwakilan warga dari Dusun Sarirejo, Gandu, dan Delik mengaku sudah terlalu lama, sejak 2003 warga mendapat dampak buruk adanya penambangan. ''Belum ada solusi yang tepat untuk mengatasi dampak buruk tersebut. Warga terus menerus dirugikan bahkan sekarang ada penambahan flare (titik api) hingga tujuh,'' katanya yang disambut teriakan warga.

Sebelumnya, warga dan JOB P-PEJ bertemu 29 September lalu. Dalam pertemuan itu tercapai lima kesepakatan. Di antaranya, mengembalikan tujuh flare yang telah berdiri di area CPA menjadi dua, meredam suara yang ditimbulkan akibat kegiatan operasional, dan mengurangi bau tidak sedap yang berasal dari CPA, serta memberikan kompensasi kepada warga. Kesepakatan itu ditandatangani Field Manager JOB P-PEJ Sukarnoto Sukimin, Imam Lughuzali, Kapolsek Soko AKP Noor Asyik, dan Danramil Soko Istoha.

Pihak BP Migas yang kemarin diwakili Rusmandani, pengawas pengolahan minyak, menyanggupi untuk memberikan kompensasi kepada warga. Kompensasi itu dicairkan dalam waktu satu minggu ke depan. ''Untuk besarnya, masih menunggu keputusan dari BP Migas Jakarta, tidak bisa lantas diputuskan secara mendadak,'' katanya.

Terkait empat tuntutan lainnya, sekurangnya diupayakan tiga bulan setelah pertemuan, setelah proses koordinasi dengan BP Migas Jakarta.

Sementara itu, eksplorasi sumur 12 A di lapangan Sukowati, Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Bojonegoro yang dikelola JOB P-PEJ mulai memasuki kedalaman 6 ribu feet.

''Sudah mulai ada gas kick namun masih kecil,'' kata Field Admint Superintendent JOB P-PEJ A Rizani.

Dia menjelaskan, pengeboran sumur itu dilakukan sejak 1 September lalu. ''Menggunakan pipa 6 inchi,'' imbuhnya.

Dia menargetkan dalam 14 hari ke depan eksplorasi selesai dengan kedalaman sekitar 7.200 feet. Sehingga, uji coba produksi bisa dilakukan. Rizani menambahkan, saat ini di Sukowati Pad B telah ada lima sumur yang beroperasi. Jika sumur 12 A nanti selesai, maka di Pad B ada enam sumur. ''Sama dengan di Pad A yang ada di Desa Campurejo, Kota Bojonegoro juga ada enam sumur,'' tuturnya.

Mengenai produksi minyak Blok Tuban, Rizani menyatakan, saat ini sudah mencapai 40.400 barel setiap harinya. Dari jumlah itu, 37.800 barel di antaranya dihasilkan dari sumur di Sukowati Pad A dan Pad B. ''Sementara sisanya dari lapangan yang ada di Mudi, Soko,'' ujarnya. (tis/ade) Radar Bojonegoro

Read more...

Sabtu, 20 Juni 2009

55 Persen Masyarakat Tak Memiliki Jamban

Soko Tuban
TUBAN - Masyarakat Tuban yang tinggal di tepi pantai dan daerahnya dialiri sungai cenderung tidak memiliki jamban (kakus) keluarga maupun lingkungan. Daerah tersebut, antara lain, Palang, Senori, Bangilan, Soko, Rengel, dan Plumpang.

Kasi Pencegahan Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Keluarga Berencana (KB) Tuban Syaiful Hadi tidak mengetahui persis berapa jumlah keluarga di enam daerah tersebut yang tidak memiliki jamban. Dia hanya memperkirakan persentasenya masih sekitar 50-55 persen dari total jumlah masyarakat.

Dikatakan Saiful, tidak dimilikinya jamban keluarga dan lingkungan tersebut karena dipengaruhi kondisi lingkungan. Dikatakan dia, masyarakat yang tinggal di lingkungan tersebut terbiasa buang air besar (BAB) di sungai dan laut. Selain mengganggu lingkungan, terang Saiful, tinja bisa mengakibatkan penularan berbagai penyakit. Terlebih, setelah tinja yang berada di tempat terbuka tersebut kering dan menguap.

Dikatakan dokter berusia 51 ini, idealnya setiap keluarga memiliki 1 jamban. Atau, paling tidak dalam lingkungan 5 sampai 10 keluarga memiliki 1 jamban. Karena pemerintah tidak mungkin, membuatkan jamban lingkungan tersebut, kata Saiful, masyarakat bisa membuatnya dengan dana swadaya masyarakat mandiri. Seperti halnya sekarang ini dirintis di Desa Sumurgung, Kecamatan Palang.

Dikatakan dokter yang tinggal di Rengel, untuk memberdayakan masyarakat agar mengubah kebiasaan BAB di jamban, pemerintah meluncurkan program Sanitasi Kota Berbasis Masyarakat. Dalam program tersebut, kata Saiful, targetnya pada 2015 mendatang, 80 persen masyarakat memiliki dan terbiasa BAB di jamban.(ds) (Radar Bojonegoro)

Read more...

Minggu, 31 Mei 2009

Temukan Tiga Usaha Mebeler Langgar Perda

Soko Tuban
TUBAN - Pemkab Tuban secara diam-diam menertibkan sejumlah usaha mebeler di kabupaten Tuban. Hal ini untuk mengantisipasi adanya kayu ilegal yang digunakan para pengusaha mebeler ini.

Penertiban yang dilakukan Jumat (29/5) lalu itu melibatkan petugas gabungan dari Satpol PP, Perhutani, Dinas Pertanian, Polres serta polisi militer (PM) setempat. Kasatpol PP Tuban Hery Muharwanto ketika dikonfirmasi menjelaskan, penertiban kali pertama ini untuk mengantisiapsi adanya kayu ilegal yang dipakai untuk usaha mebeler. ''Sementara baru di Kecamtaan Semanding, dan Soko,'' kata dia. Dari hasil penertiban itu, lanjut Hery, di kecamatan Semanding ditemukan dua usaha mebeler yang melanggar. Sedangkan di kecamatan Soko menemukan satu usaha mebeler yang dinilai melanggar. ''Kami amankan sejumlah peralatan dan juga barang bukti lainya,'' tegas dia. Barang bukti tersebut saat ini diamankan di kantor satpol PP Tuban. ''Sebab ini merugikan negara,'' terang dia.
Sumber : Radar Bojonegoro

Dia menjelasakan, penertiban ini berdasarkan perda No 19 tahun 2002 tentang retribusi izin tata usaha kayu. ''Ini nanti akan kami lakukan pembinaan, sebab menggunakan kayu gelap'' ucapnya. Dikatakan matan Kasi Pol PP ini, sebenarnya di wilayah kota Tuban banyak usaha mebeler. Namun baru tiga usaha mebeler yang diberi peringatan. ''Ini sebagai sock terapy,'' tuturnya. Sedangkan yang lain, tandas dia, akan tetap dilakukan penertiban secara bertahap. ''Selain penertiban, juga dijelaskan penggunaan kayu,'' paparnya.(zak)

Read more...

Minggu, 10 Mei 2009

Polres Tuban Bongkar Komplotan Pencuri Sapi

Soko Tuban
TUBAN - Unit I Satreskrim Polres Tuban kemarin (9/5) berhasil membongkar komplotan pencuri sapi. Dari komplotan ini, untuk sementara polisi mengamankan empat anggotanya. Mereka, antara lain, Sujono, 60, warga Desa Mojomalang, Kecamatan Parengan; Saridin, 50, Desa Binangun; dan Sandimo, 50 Desa Saringembat, keduanya di Kecamatan Singgahan. Berikutnya, Sapuan, 60, Desa Sokosari, Kecamatan Soko. Saat dijemput petugas di rumahnya, keempat tersangka tidak memberikan perlawanan. Hanya, selama diinterogasi mereka berbelit-belit dan beralibi tidak terlibat dalam pencurian tersebut. Untuk mengembangkan kasus tersebut, kemarin ke empat tersangka diperiksa terpisah. Hasil pemeriksaan inilah yang kemudian dikonfrontir dengan tersangka lainnya. Kasatreskrim Polres Tuban Iptu Budi Santoso mengatakan, dari hasil penyelidikan dan penyidikan, keempat pelaku mengaku hanya beroperasi di wilayah Kecamatan Parengan sebanyak tiga kali selama 1995 hingga 2009. ''Hasil kejahatan tersebut dijual tersangka ke Nganjuk dan pasar hewan Jatirogo,'' kata dia. Dikatakan Budi, pengakuan tersebut belum sepenuhnya bisa diterima penyidik. Untuk mendalami kasus tersebut, tandas mantan Kaurbinops Reskrim Polres Tuban ini, penyidiknya terus mendalami penyidikan. ''Sangat mungkin, mereka menyembunyikan fakta yang sesungguhnya,'' tegas Budi. (ds) Sumber : Radar Bojonegoro

Read more...

Selasa, 28 April 2009

Sehari, Dua Motor Amblas

Soko Tuban
TUBAN-Pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) seolah ingin mengejek polisi. Minggu (26/4) lalu, dua motor digondong pelaku curanmor di dua tempat berbeda. Sekitar pukul 14.30 motor Supra nopol S 3788 MJ yang diparkir di pinggir jalan Desa Sidomukti, Kecamatan Parengan digondol maling. Motor tersebut hilang sesaat setelah ditinggal Sutoyo, pemiliknya mengirim makan untuk pekerja di sawah. Jarak sawah dengan tempat dia memparkir motor sebenarnya hanya sekitar 25 meter. Namun, karena jalan menuju sawah tersebut belok, korban tidak mengetahui motornya digondol pelaku.

Sebelumnya sekitar pukul 07.45, pelaku curanmor menggondol motor Supra Fit nopol S 5629 HM yang diparkir di luar pagar SDN 1 Karangtinoto, Kecamatan Soko. Korban pencurian tersebut adalah Kastono, pembina Pramuka sekolah setempat. Motor senilai sekitar Rp 8 juta tersebut ditinggal korban untuk mengajar Pramuka.

Kasat Reskrim Polres Tuban Iptu Budi Santoso mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan keamanan di lingkungannya. Menurut dia, tugas menjaga keamanan tidak hanya tanggungjawab Polri. Namun, juga seluruh lapisan masyarakat.(ds) Sumber : Radar Bojonegoro

Read more...

Senin, 30 Maret 2009

Inventarisir Kerusakan Jalan dan Saluran Irigasi

Soko Tuban
TUBAN - Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Tuban masih menginventarisir jalan dan irigasi di empat wilayah kecamatan yang rusak akibat banjir meluapnya Bengawan Solo (BS). Empat kecamatan tersebut, Widang, Rengel, Plumpang, dan Soko.

Kepala DPU Tuban, Choliq Qunnasich mengatakan, dari empat wilayah kecamatan tersebut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (PNPB) hanya menggelontorkan dana recovery untuk perbaikan jalan di Widang sebesar Rp 1,6 miliar. Sementara untuk tiga wilayah kecamatan lainnya ditanggung sepenuhnya oleh APBD. Choliq belum punya gambaran pasti berapa anggaran yang akan terserap untuk perbaikan jalan dan irigasi di Tuban karena inventarisasi masih berlangsung.

Di Soko yang wilayahnya paling sedikit terendam banjir, menurut dia, jalan yang rusak sepanjang 4 km. Kalau per kilometer jalan beraspal membutuhkan anggaran Rp 250 juta berarti untuk jalan di Soko saja terserap Rp 1 miliar. Jumlah tersebut belum termasuk irigasi dan gedung milik pemerintah yang rusak.

Mantan Kasubdin Prasarana Jalan Dinas Kimpraswil itu mengatakan, untuk recovery tanggul Bengawan Solo yang rusak akibat bencana, pemerintah pusat menurunkan anggaran perbaikan sekitar Rp 700 miliar. Dari jumlah tersebut, yang dikucurkan untuk perbaikan tanggul dan pintu air di Tuban hanya Rp 35 miliar. Dana inilah yang dipakai Bengawan Solo Hilir untuk perbaikan tanggul di Tegalsari sepanjang 80 meter. Choliq menambahkan, selain perbaikan, Tuban juga membutuhkan anggaran untuk pembuatan tanggul sepanjang 25km di sepanjang wilayah bantaran Bengawan Solo di Rengel hingga Soko. ''Selama ini, wilayah tersebut tak bertanggul,'' tandas dia. (ds) Sumber : Radar Bojonegoro

Read more...

Minggu, 08 Maret 2009

Banjir di Tuban Masih Meluas

Soko Tuban
TUBAN - Luapan air Bengawan Solo masih meluas di Tuban. Di Kecamatan Plumpang misalnya. Banjir kemarin (7/3) mulai merendam pemukiman warga di Bandungrejo, Sembung, dan Plumpang. Padahal, sejak Jumat (6/3) lalu, air hanya menggenangi wilayah persawahan.

Kondisi terparah terjadi di Desa Bandungrejo. Selain menenggelamkan sekitar 60 hektare (ha) lahan pertanian, sebagian rumah warga dan jalan kecamatan yang menghubungkan desa ini dengan ibu kota kecamatan juga terendam air. Panjang jalan yang terendam sekitar 600 m. Ketinggian air pada titik jalan yang terendam ini sekitar 40 cm.

Kondisi tersebut mengakibatkan desa ini terisolasi. Jalan yang tergenang air ini tak bisa dilalui mobil. Sejumlah kendaraan bermotor yang memaksa lewat, juga mengalami problem mesin.

Kades Bandungrejo Tulus mengatakan, arus air sungai yang melintasi desanya cukup deras. Kondisi tersebut diperparah dengan genangan air hujan yang turun di desa setempat. Dalam kondisi seperti ini, lanjut dia, sangat mungkin genangan banjir terus meluas dan meninggi.

Di Desa Plumpang dan Sembung, sejumlah rumah warga juga mulai terendam air. Ketinggian air yang naik itu membuat Pemkab Tuban kemarin memberlakukan siaga III. Kepala Kesbangpolinmas Tuban Teguh Setyobudi menyatakan, sampai kemarin ada lima kecamatan yang terendam banjir. Kelima kecamatan itu, Parengan, Rengel, Soko, Plumpang, dan Widang. ''Yang parah di Kecamatan Widang,'' ujarnya.

Di Kecamatan Widang, air luapan Bengawan Solo bisa masuk melalui tanggul Tegalsari yang jebol pada 1 Maret lalu. ''Ya belum bisa diperbaiki (tanggul Tegalsari), sebab masih tergenang air,'' katanya.

Untuk Kecamatan Rengel, lanjut dia, air sudah memasuki perumahan warga. ''Kira-kira enam desa yang terendam,'' imbuhnya.

Dia menambahkan, Pemkab Tuban terus bersiaga membantu korban banjir. Hingga kemarin, tiga perahu karet disiagakan di Kecamatan Widang, satu perahu karet di Parengan, dan satu perahu karet di Rengel. ''Selain itu, juga 8 tenda sudah kami distribusikan ke Widang,'' jelasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Camat Widang Bambang Dwijono mengatakan, di wilayah kecamatannya ada 8 desa yang tergenang banjir. Yakni, Desa Banjar, Tegalsari, Tegalrejo, Kedungharjo, Simo, Compreng (Dusun Temas), Mlangi (Dermalang), dan Desa Mrutuk.

''Transportasi dari Desa Mrutuk menuju Mlangi tergenang air hingga 40 cm. Jadi, ada mobil yang berani lewat, ada juga yang tidak berani,'' katanya.

Camat Parengan Eko Arif Yulianto saat dikonfirmasi mengatakan, setelah sempat diterjang banjir bandang, wilayah kecamatannya kemarin kembali normal. ''Sudah tidak ada desa yang tergenang,'' katanya.

Dia menuturkan, banjir bandang di Kecamatan Parengan pernah terjadi di 1978, 1984, serta 2003. ''Dan tahun 2009 ini termasuk besar,'' imbuhnya.

Dia menambahkan, pihaknya belum bisa memerkirakan berapa besar kerugian akibat banjir bandang tersebut. ''Masih proses perhitungan,'' imbuhnya.

Menurut dia, pemkab telah membantu 5 ton beras untuk korban banjir bandang di Kecamatan Parengan. ''Sudah kami salurkan ke desa-desa,'' katanya.

Sementara itu, untuk meringankan korban banjir, kemarin sumbangan dari pembaca Jawa Pos didistribusikan di Desa Dermalang, Mrutuk, dan Tegalrejo, seluruhnya di Kecamatan Widang.

Di masing-masing desa ini, relawan Jawa Pos menyerahkan 20 bungkus mi instan kepada setiap kepala keluarga (KK). Bambang Supriyono, salah satu anggota relawan mengatakan, sambil menyerahkan bantuan, tim relawan juga mensurvei warga korban banjir. Sehingga, nantinya terkumpul data desa mana saja yang diproritaskan menerima bantuan dan bentuk sumbangangannya.

Sementara itu, di Bojonegoro, ketinggian air Bengawan Solo kemarin (7/3) menurun. Papan duga di Kecamatan Kota mencatat angka di bawah siaga I atau 13 peilschaal.

''Jika nanti (tadi) malam tidak hujan, maka akan turun di bawah siaga,'' kata Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah (BPSAW) Bengawan Solo di Bojonegoro Pudjo Buntoro.

Dia menjelaskan, hari ini ketinggian air diperkirakan terus menurun. Apalagi, kata Pudjo, kondisi ketinggian air di wilayah hulu mulai Kali Jurung di Solo hingga Kali Madiun di bawah nomal. Sementara papan duga di Dungus, Ngawi dan Karangnongko, Kecamatan Ngraho juga mencatat di bawah siaga. ''Kisaran tiga meter di bawah siaga,'' ujarnya.

Untuk wilayah Kecamatan Babat dan Laren di Lamongan dan Kecamatan Widang, Tuban, kata Pudjo, masih akan berada di kisaran siaga III. Itu terjadi karena air dari anak Bengawan Solo masih cukup banyak. ''Kalau hujan, tentunya anak Bengawan Solo akan naik dan Bengawan Solo akan terkatrol naik,'' imbuhnya.

Karena itu, tutur dia, kewaspadaan terhadap banjir masih perlu dilakukan. ''Hujan diprediksi masih akan terjadi dengan intensitas tinggi,'' katanya.

Berdasarkan data satlak PB Lamongan, jumlah rumah yang terendam di Kecamatan Babat bertambah 20 unit. ''Total di Lamongan ada 12 kecamatan dan 102 desa yang terendam banjir. Rinciannya, ada 16.753 rumah yang terendam, jumlah pengungsi mencapai 553 KK,'' jelas Sekretaris Satlak PB Lamongan Imam Trisno Edy kemarin (7/3).

Sementara itu, banjir di sejumlah kawasan di Kecamatan Kota Lamongan mulai surut. Meski demikian, warga tetap waspada karena hujan masih mungkin kembali mengguyur Kota Tahu Campur tersebut.

''Kali Pengaron benar-benar sudah tidak bisa menampung luapan air lagi,'' kata Kabag Humas dan Infokom Pemkab Lamongan Aris Wibawa kemarin (7/3).

Jika hujan deras turun, lanjut dia, maka banjir akan menggenangi wilayah perkotaan seperti Kelurahan Tlogoanyar, Perumnas Made dan Sukomulyo, serta Perumahan Jetis Indah.

Seperti diberitakan, akibat melubernya air dari Sungai Pengaron, tangkis di Dusun Pilang Gadung, Desa Tambakrigadung, Tikung jebol sepanjang 7 meter. Akibatnya, air menggenangi 150 rumah di Desa Tambakrigadung. Air yang meluber itu merendam 6 desa/kelurahan di wilayah Lamongan. Keenam desa/kelurahan itu, Sidomukti, Tanjung, Sidoharjo, Sukomulyo, Tlogoanyar, dan Kebet.

Sementara di Kecamatan Tikung, air merendam Desa Pilangadung, Jotosanur, Guminingrejo dan Pengumbulanadi. Total ada 1.341 rumah di dua kecamatan itu yang terendam air.

Selain itu, luapan sungai tersebut juga menenggelamkan jalan poros Lamongan-Mojokerto, di Jotosanur-Kalikapas hingga mendekati perempatan Kelurahan Sidoharjo dengan kedalaman hingga setengah meter.

Sementara itu, setelah banjir bandang di Desa Bleboh, Kecamatan Jiken, Blora berlalu, sebagian warga desa setempat kini sibuk mencari surat-surat berharganya. ''Beruntung lemari untuk menyimpan surat-surat ini tidak ikut terseret banjir,'' ujar Martini, salah seorang korban banjir kemarin (7/3).

Sejumlah korban banjir bandang ada yang kehilangan semua barang yang ada di dalam rumah. ''Kartu jamkesmas saya hilang bersama surat-surat yang lain,'' ujar Ngatemi, warga lainnya.

Sementara warga yang bisa menyelamatkan surat-surat berharganya, mereka kemarin menjemur surat-surat tersebut. Kebetulan, cuaca cerah.

Bagi sebagian korban banjir itu, mereka masih trauma dengan kejadian tersebut. Air bah yang menerjang perumahan penduduk berjalan cukup cepat. Bahkan, banjir bandang Kamia (5/3) sore itu terbesar sepanjang sejarah di desa tersebut. ''Kalau banjir kecil-kecilan sering terjadi. Kalau yang besar baru kali ini selama saya hidup di sini,'' ujar Suwarsono, korban banjir lainnya.

Kades Bleboh Baskoro menyatakan, dirinya sudah mendata dan melaporkan musibah banjir itu ke pihak kecamatan. Dia berharap pemkab bisa memberikan bantuan lebih dari sekadar bahan makanan dan mi instan. ''Setidaknya ada dana untuk memperbaiki rumah warga,'' pintanya.

Banjir bandang yang terjadi di Desa Bleboh merusak sedikitnya 52 rumah di empat dusun. Dari pendataan pihak desa, kerugian diperkirakan sampai Rp 500 juta. (ds/zak/ade/feb/idi/ono) suomber : Radar Bojonegor

Read more...

Minggu, 01 Maret 2009

Warga Desa Sandingrowo Terisolasi, Berharap Bantuan Datang

Soko Tuban
Banjir telah menenggelamkan banyak rumah di sebagian wilayah Bojonegoro, Lamongan, Tuban, dan Blora. Bahkan, warga Desa Sandingrowo, Kecamatan Soko, Tuban beberapa hari terakhir Rata Penuhterkepung luberan air sungai terpanjang di Jawa tersebut.

ZAKKI TAMAMI, Tuban

---

Bantaran sawah di sebagian Desa Sandingrowo tak terlihat lagi kemarin (28/2). Hamparan padi yang sebelumnya menjadi pemandangan alam desa, berubah menjadi seperti lautan yang terbentang luas karena banjir.

Jalan menuju desa setempat juga sudah tak terlihat aspalnya. Genangan air di jalan itu setinggi pinggang orang dewasa. Sementara di pintu masuk desa tersebut, belasan perahu kecil siap menyambut para ''tamu''. Perahu-perahu itu digunakan sebagai sarana tranportasi di desa karena jalan yang ada sudah terendam air.

Perahu yang ditumpangi wartawan koran ini bergerak masuk desa tersebut. Puluhan rumah yang ada sudah tak terlihat lagi lantainya. Beberapa anak memilih bermain air di sekitar rumahnya. Sedangkan orang tua mereka mengawasi dari rumah.

Sejumlah rumah di desa itu ada yang sudah tertutup rapat. ''Ngungsi Mas, orangnya,'' kata salah seorang warga yang wartawan koran ini menunjuk salah satu rumah yang tertutup rapat.

Warga yang bertahan di rumah saat ini terancam kelaparan. Sebab, persediaan makanan yang ada kian menipis. ''Sampai saat ini belum dapat bantuan,'' kata Yatmi, salah satu warga desa setempat yang mengaku sudah sepekan ini rumahnya terendam banjir.

Tahun lalu, rumah Yatmi juga kebanjiran. Namun, dia langsung mendapatkan bantuan. ''Contohnya mi, nasi, minyak. Kok sekarang belum,'' keluhnya.

''Niki dereng angsal bantuan nopo-nopo Mas (ini belum dapat bantuan apa-apa Mas),'' ujar Ratmi, warga lainnya yang kemarin memasak di atas meja.

Sebelum memilih bertahan di rumah, dia lebih dulu mengungsikan sapi miliknya ke tempat yang aman. Bagi Ratmi dan sebagian warga lainnya, mengungsi bakal membuat mereka akan mengeluarkan banyak biaya. ''Mending di rumah saja, ngungsi malah bondone akeh,'' kata Kaslam, warga desa setempat yang juga mengaku belum menerima bantuan korban banjir.

''Ini kaki saya sudah terserang kutu air, kok bantuan obat-obatane belum datang,'' keluhnya.

Tak hanya rumah warga yang terendam banjir. Sejumlah tempat pendidikan juga sudah tergenang air. Di antaranya, MI Nurul Ulum desa setempat dan SDN Sandingrowo. ''Satu minggu libur nggak ada kegiatan sekolah,'' kata Tasna'in, kepala MI Nurul Ulum.

Libur itu diberlakukan karena ketinggian air di sekolah setempat setinggi paha orang dewasa. ''Selain itu lantai dua dipakai untuk mengungsi warga,'' imbuhnya.

Dia mengaku setiap tahun sekolah tersebut selalu tergenang air. ''Usai banjir pasti disuruh menyetorkan data, tapi kok bantuanya belum tiba-tiba,'' keluhnya. (*)
Sumber : Radar Bojonegoro

Read more...

Jumat, 27 Februari 2009

Terendam Banjir


Soko Tuban

Banjir kiriman di Kota Bojonegoro, mengakibatkan banjir di Kabupaten Tuban. Sebanyak 11 desa di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo terendam air setinggi 0,5 meter-1 meter, Kamis (26/2/2009).

Desa-desa yang terendam air di persawahan maupun permukiman di wilayah Kecamatan Soko yakni, Desa Kenongosari, Pandan Wangi, Kendalrejo, Mojoagung, Menilo, Glagahsari dan Desa Sandingrowo. Di wilayah Kecamatan Rengel ada di Desa Karang Tinoto, Kanorejo, Tambakrejo, Ngadirejo, Sawahan, Rengel, Campurejo dan Sumberejo.

Luberan air juga merambah masuk ke lahan persawahan. Ditaksir ribuan hektar lahan padi dan jagung umur 1,5 bulan hingga 2 bulan terendam air setinggi rata-rata 1 meter.

Pantauan detiksurabaya.com di lokasi bencana banjir menyebutkan, meski air sudah memasuki perkampungan, warga masih tetap bertahan. Mereka menempati rumah bangunan lain yang lokasinya lebih tinggi.

Meski sebagian rumah mereka terendam air, namun yang lebih dipikirkan warga adalah nasib tanaman padi. Padi yang kini berumur 1,5 bulan hingga ada yang siap petik tersebut kini direndam air.

Di Desa Karang Tinoto, Rengel, ketinggian air di badan jalan sudah merangkak hingga 60 cm. Meski begitu, kendaraan tak berani melintas karena takut terseret air yang meluber dari sungai Bangawan Solo.

"Kondisinya air makin naik, sampean tidak bisa ke sana karena jalannya sudah tertutup air. Kendaraan pun tak bisa lewat," ungkap Hartono (31), warga Kanorejo, Kecamatan Rengel, Tuban saat ditemui detiksurabaya.com di tempat pemberhentian perahu di Desa Rengel.

Sementara kondisi parah terjadi Dusun Jetis dan Tangsari, Desa Ngadirejo dan Dusun Klubuk, Desa Kanorejo dan sebagian Desa Tambakrejo. Lokasi dusun ini persis di pinggir bengawan sehingga begitu air meluber, dipastikan merendam kampung.

Banjir langganan ini, hampir tiap tahun menimpa mereka karena sepanjang DAS Bengawan Solo yang melintas di desanya belum dibangun tanggul. Kondisi ini berbeda dengan wilayah Kecamatan Plumpang dan Kacamatan Widang yang sudah terbangun tanggul bengawan setinggi 7 meter.

Terdata kawasan DAS Bengawan Solo di wilayah Kabupaten Tuban yang belum ada tanggul mulai Desa Menilo, Kecamatan Soko hingga Desa Ngadirejo, Kecamatan Rengel. Setelah itu, tanggul telah berdiri mulai wilayah Desa Sumberjo, Kecamatan Rengel lalu Kecamatan Plumpang hingga Kecamatan Widang.(fat/fat) sumber : surabaya.detik.com

Read more...

Jumat, 16 Januari 2009

Pemkab Tetap Minta Tambahan Pupuk

Soko Tuban-TUBAN - Pemkab Tuban tetap bersikukuh meminta tambahan kuota pupuk bersubsidi kepada PT. Petrokimia Gresik.

''Atau minimal sama dengan kuota tahun lalu. Tapi yang jelas kami tetap minta ada tambahan,'' tegas Kabid Perdagangan Dinas Perekonomian dan Pariwisata, Budi Wiyana ketika dikonfirmasi kemarin siang.

Kuota pupuk urea bersubsidi untuk Tuban tahun ini hanya 42.420 ton. Kuota itu sangat jauh dari usulan Dinas Pertanian Tuban sebesar 72.063 ton. Pemberian kuota tersebut berdasarkan Pergub Jatim Nomor 158 tahun 2008 tentang kebutuhan dan penyaluran HET pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian di Jatim tahun anggaran 2009.

Nah, dalam pertemuan dengan pihak Petrokimia Gresik dan seluruh distributor Rabu lalu, tutur Budi, pihaknya kembali menyampaikan permintaan tersebut. ''Pokoknya kami tetap berupaya ada penambahan,'' kata dia.

Terkait distribusi pupuk tahun ini, lanjut dia, pengawasannya juga bakal lebih ditingkatkan. Tujuannya agar pendistribusian lancar dan tidak sampai terjadi kelangkaan lagi.

Sementara itu, nasib kios pupuk di Kecamatan Plumpang dan Kerek-dua daerah yang menjadi pilot project distribusi model full tertutup- mulai ada titik terang. Sejak awal tahun ini, pendistribusian pupuk di kedua kecamatan tersebut langsung dari produsen (Petrokimia Gresik) kepada Inkoptan. Dan Inkoptan mendistribusikan langsung ke Gapoktan (gabungan kelompok tani). Nah, dalam model ini Gapoktan berperan menggantikan kios atau penyalur resmi.

Kabid Perdagangan menuturkan bahwa pihak Petrokimia Gresik maupun Inkoptan (yang bertindak sebagai distributor) sudah memberikan solusi dengan tetap melibatkan kios-kios setempat untuk menyalurkan pupuk. ''Inkoptan sudah menindaklanjuti. Kios-kios di Plumpang sudah dapat bagian lagi,'' tutur pejabat kelahiran Nganjuk itu.

Sementara itu, wilayah distribusi pupuk di Tuban ada sedikit pergeseran. Ini menyusul masuknya Inkoptan sebagai distributor penuh di Kecamatan Plumpang dan Kerek. Distributor PT Tuban Mandiri Perkasa kehilangan wilayah distrubusi kecamatan Kerek. Budi menjelaskan TMP tinggal kebagian melayani kebutuhan pupuk di Singgahan, Bangilan, Senori, Montong, dan Kenduruan.

Wilayah distribusi CV Fimaco juga berkurang. Bila sebelumnya kebagian delapan kecamatan, sekarang tinggal tujuh kecamatan. Yakni Tambakboyo, Jenu, Merakurak, Tuban, Semanding, Grabagan, dan Soko. Tapi khusus Soko, lima desa yang sebelumnya ditangani Inkoptan sekarang semuanya ditangani Fimaco. Sementara Kecamatan Rengel yang sebelumnya dicover Fimaco, kini masuk wilayah distribusi AGRK. Selain itu, AGRK juga kebagian pendistribusian di Parengan dan Widang. Sementara CV Citra Sejati tetap kebagian Palang, Bancar, dan Jatirogo. (wid) Sumber : jawapos.com

Read more...

About This Blog

Photobucket

Cek Tagihan PLN

blog tutorial
Powered By Blogger

Gabung Yuk...!

Test Form

Name:
Email Address:
Alamat Web
Berapa usia anda...? Dibawah 17 th
Antara 17 s/d 30th
Diatas 30 th
Apa jenis kelamin anda Pria
Wanita
Baina huma
Apa pendapat anda tentang blog ini..? Sangat kami harapkan, saran, kritik, maupun pendapat anda. silahkan ketik pada kolom disamping ini

free forms

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP