bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

Senin, 30 Maret 2009

Yang Tersisa dari Darsih, Korban Tragedi Situ Gintung

Soko Tuban
Aditya-Adinda Dijanjikan Hp, Bagas Minta Jajan
Rata Penuh

Kematian Darsih, 30, akibat jebolnya tanggul Situ Gintung di Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, Jumat (27/3) membuat keluarga diliputi rasa kesedihan. Termasuk ketiga anak korban, Aditya Bagus Prabowo, 13, Adinda Putri Nuraini, 6, dan Bagas Juliandra Putra.

KHORIJ ZAENAL ASRORI, Bojonegoro

---------------------------------------------

DARSONO, 50, ayah korban, masih tidak kuasa menerima kenyatan atas tewasnya anak sulungnya di perantauan. Raut wajah pria berbadan kekar ini murung semenjak mendapat kabar anaknya tewas dihantam air bah di Banten dengan tragis. Bahkan, kesedihan terus mengguncang hatinya ketika detik-detik menjelang kedatangan jenazah putrinya.

Jenazah Darsih tiba pada Sabtu (28/3) pukul 17.00 dengan suara sirine ambulans yang membuat detak jantung mengguncang. Kedatangan ambulans disambut dengan isak tangis kerabat, dan langsung menuju rumah duka yang terbuat dari papan kayu di Dusun Warang, Desa Sumur Cinde, Kecamatan Soko, Tuban. "Putriku tewas dalam bencana tsunami kecil di Banten," ucap pria yang bekerja sebagai buruh tani dengan nada lirih.

Begitu pula Tasmijah, ibu korban. Dia terus menangis dengan posisi tergolek di selembar tikar pandan. Tasmijah selalu ditemani Darsono dan kedua anaknya yang lain di saat meratapi kesedihan tewasnya Darsih. Sesekali Tasmijah memejamkan mata. Namun selang beberapa menit kemudian, Tasmijah bangun dengan meneteskan air mata. Pemandangan ini terus berlangsung.

Tewasnya Darsih dalam bencana di Banten ini meninggalkan tiga putra-putrinya. Darsih mempunyai anak tiga dari hubungannya dengan Bagus Maini, 34, mantan suaminya. Darsih dan Gaguk, sapaan suaminya, resmi cerai setengah tahun lalu. Ketiga anaknya, Aditya Bagus Purnama, Adinda Putri Nuraini dan Bagas Juliandra Putra, dirawat oleh Gaguk dan sampai kini tinggal di Gang Kandam II Kelurahan Karangpacar, Kecamatan Kota Bojonegoro. "Sehari sebelum kejadian, tepatnya kamis (26/3) ibunya menelpon ketiga anaknya dengan waktu lumayan lama," ucap Gaguk dengan mata memerah saat ditemui menjelang kedatangan jenazah mantan istrinya.

Meski semua kerabat dirundung kesedihan, Aditya, anak Darsih yang duduk di kelas satu SMP 1 PGRI Bojonegoro, terlihat masih tegar. Raut wajahnya tidak murung. Bahkan saat ditanya, dia juga tidak meneteskan air mata sama sekali. "Diberitahu bapak kalau ibu meninggal, tapi saya tetap tegar," ucap Aditya sembari membawa album foto yang berwarna hijau yang berisi dokumen foto kenangannya bersama kedua orang tuanya.

Aditya hanya menyesali atas kematian ibunya. Sebab, dirinya sempat dijanjikan akan dibelikan handphone (Hp) oleh ibunya kalau pulang nanti. Anak sulung Darsih ini menceritakan, saat ditelepon ibunya Kamis lalu (26/3), dirinya dijanjikan sang ibu Hp. Bahkan, korban juga sempat menjanjikan akan membelikan Hp untuk Adinda, adik Aditya yang masih duduk di kelas satu SD. "Kalau Bagas minta jajan yang banyak," ucap Aditya. Saat Aditya yang berkaos warna biru dongker ditemui menjelang kedatangan jenazah ibunya, dia tidak meneteskan air mata. Bahkan keinginan untuk memiliki Hp sudah dia tunggu-tunggu.

Aditya begitu menginginkan Hp. Saat ditemui, anak baru gede ini langsung meminjam Hp milik wartawan koran ini. Setelah itu, dia baru bisa sedikit tersenyum, karena bisa main game yang ada di fitur Hp tersebut. Bahkan, dia menolak makan siang yang sudah disajikan oleh kerabatnya, karena begitu senangnya menikmati game di Hp. "Selain untuk game, Hp juga untuk SMS (layanan pesan pendek) sesama teman satu sekolah," ucapnya.

Kini, harapan untuk memiliki Hp sirna. Sang ibu yang sudah lama tidak ketemu ini sudah tiada. Tapi, dia yakin suatu saat nanti dirinya akan memiliki Hp. "Walau ibu tidak jadi membelikan handphone, pasti ayah akan membelikan," harap Aditya. (*) Sumber : Radar Bojonegoro

Read more...

Inventarisir Kerusakan Jalan dan Saluran Irigasi

Soko Tuban
TUBAN - Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Tuban masih menginventarisir jalan dan irigasi di empat wilayah kecamatan yang rusak akibat banjir meluapnya Bengawan Solo (BS). Empat kecamatan tersebut, Widang, Rengel, Plumpang, dan Soko.

Kepala DPU Tuban, Choliq Qunnasich mengatakan, dari empat wilayah kecamatan tersebut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (PNPB) hanya menggelontorkan dana recovery untuk perbaikan jalan di Widang sebesar Rp 1,6 miliar. Sementara untuk tiga wilayah kecamatan lainnya ditanggung sepenuhnya oleh APBD. Choliq belum punya gambaran pasti berapa anggaran yang akan terserap untuk perbaikan jalan dan irigasi di Tuban karena inventarisasi masih berlangsung.

Di Soko yang wilayahnya paling sedikit terendam banjir, menurut dia, jalan yang rusak sepanjang 4 km. Kalau per kilometer jalan beraspal membutuhkan anggaran Rp 250 juta berarti untuk jalan di Soko saja terserap Rp 1 miliar. Jumlah tersebut belum termasuk irigasi dan gedung milik pemerintah yang rusak.

Mantan Kasubdin Prasarana Jalan Dinas Kimpraswil itu mengatakan, untuk recovery tanggul Bengawan Solo yang rusak akibat bencana, pemerintah pusat menurunkan anggaran perbaikan sekitar Rp 700 miliar. Dari jumlah tersebut, yang dikucurkan untuk perbaikan tanggul dan pintu air di Tuban hanya Rp 35 miliar. Dana inilah yang dipakai Bengawan Solo Hilir untuk perbaikan tanggul di Tegalsari sepanjang 80 meter. Choliq menambahkan, selain perbaikan, Tuban juga membutuhkan anggaran untuk pembuatan tanggul sepanjang 25km di sepanjang wilayah bantaran Bengawan Solo di Rengel hingga Soko. ''Selama ini, wilayah tersebut tak bertanggul,'' tandas dia. (ds) Sumber : Radar Bojonegoro

Read more...

Minggu, 29 Maret 2009

Satu Korban Tanggul Situ Gintung dari Soko

Soko Tuban
Satu warga Kabupaten Tuban menjadi korban jebolnya tanggul Situ Gintung di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten Jumat (27/3) dinihari lalu. Korban itu bernama Darsih, 30, warga Dusun Warang, Desa Sumur Cinde, Kecamatan Soko.

Kemarin (28/3), jenazah korban tiba di rumah duka , Jenazah itu diangkut dari Banten menggunakan ambulans bersama jenazah dua warga asal Ponorogo. Keduanya, Siti R dan anaknya yang balita. Dua korban itu masih ada hubungan darah dengan mantan suami Darsih. ''Siti itu saudara sepupuku," kata Bagus Maini, 34, mantan suami korban saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Karangpacar, Kecamatan/Kota Bojonegoro.

Kabar jebolnya tanggul Situ Gintung memang membuat keluarga Darsih panik. "Kami mendapat kabar bahwa Darsih tewas di hantam air bah di Banten," kata Darsono, ayah korban saat ditemui di rumahnya di Dusun Warang.

Dia mendapatkan kabar kematian putri sulungnya dari mantan menantunya Bagus. Menurut Darsono, Gaguk, sapaan akrab Bagus, menelepon dirinya melalui handphone kerabatnya Jumat sekitar pukul 22.00. ''Seketika itu keluarga tangisan,'' kata pria yang bekerja sebagai buruh tani ini.

Suwadi, 45, salah satu kerabat korban, saat ditemui di rumah duka menyatakan, dirinya tidak menyangka Darsih tewas dihantam air bah lantaran tanggul Situ Gintung jebol. Dia dan keluarga korban awalnya tidak mengerti adanya tragedi jebolnya tanggul tersebut.

''Peristiwa jebolnya tanggul Situ Gintung kami ketahui setelah mendengar kematian Darsih," ujarnya.

Menurut Gaguk, dari perkawinan dirinya dengan Darsih, lahir tiga anak. Ketiganya, Aditya Bagus Prabowo yang kini duduk di bangku kelas 1 SMP, Adinda Putri Nuraini (kelas satu SD), dan Bagas Juliandra Putra. ''Kasihan Bagas yang masih kanak-kanak," kata Gaguk.

Dia menjelaskan, semenjak cerai sekitar enam bulan lalu, ketiga anaknya ikut dirinya. Mereka tinggal di Gang Kandam II Desa Karangpacar.

Sementara Aditya mengaku sudah mendengar ibunya tewas dihantam air bah. ''Bapak memberitahu jika ibu meninggal di hantam air bah," katanya saat ditemui wartawan koran ini kemarin.

Darsih bekerja di Kelurahan Cirendeu sebagai pembantu di rumah Siti R. Menurut keterangan Gaguk, korban tewas saat berada di rumah majikannya. ''Rumah majikannya dengan tanggul Situ Gintung tidak terlalu jauh jaraknya," tutur Gaguk dengan terbata-bata. (rij) Sumber : Radar Bojonegoro

Read more...

About This Blog

Photobucket

Cek Tagihan PLN

blog tutorial
Powered By Blogger

Gabung Yuk...!

Test Form

Name:
Email Address:
Alamat Web
Berapa usia anda...? Dibawah 17 th
Antara 17 s/d 30th
Diatas 30 th
Apa jenis kelamin anda Pria
Wanita
Baina huma
Apa pendapat anda tentang blog ini..? Sangat kami harapkan, saran, kritik, maupun pendapat anda. silahkan ketik pada kolom disamping ini

free forms

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP