Jumat, 27 Februari 2009

Terendam Banjir


Soko Tuban

Banjir kiriman di Kota Bojonegoro, mengakibatkan banjir di Kabupaten Tuban. Sebanyak 11 desa di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo terendam air setinggi 0,5 meter-1 meter, Kamis (26/2/2009).

Desa-desa yang terendam air di persawahan maupun permukiman di wilayah Kecamatan Soko yakni, Desa Kenongosari, Pandan Wangi, Kendalrejo, Mojoagung, Menilo, Glagahsari dan Desa Sandingrowo. Di wilayah Kecamatan Rengel ada di Desa Karang Tinoto, Kanorejo, Tambakrejo, Ngadirejo, Sawahan, Rengel, Campurejo dan Sumberejo.

Luberan air juga merambah masuk ke lahan persawahan. Ditaksir ribuan hektar lahan padi dan jagung umur 1,5 bulan hingga 2 bulan terendam air setinggi rata-rata 1 meter.

Pantauan detiksurabaya.com di lokasi bencana banjir menyebutkan, meski air sudah memasuki perkampungan, warga masih tetap bertahan. Mereka menempati rumah bangunan lain yang lokasinya lebih tinggi.

Meski sebagian rumah mereka terendam air, namun yang lebih dipikirkan warga adalah nasib tanaman padi. Padi yang kini berumur 1,5 bulan hingga ada yang siap petik tersebut kini direndam air.

Di Desa Karang Tinoto, Rengel, ketinggian air di badan jalan sudah merangkak hingga 60 cm. Meski begitu, kendaraan tak berani melintas karena takut terseret air yang meluber dari sungai Bangawan Solo.

"Kondisinya air makin naik, sampean tidak bisa ke sana karena jalannya sudah tertutup air. Kendaraan pun tak bisa lewat," ungkap Hartono (31), warga Kanorejo, Kecamatan Rengel, Tuban saat ditemui detiksurabaya.com di tempat pemberhentian perahu di Desa Rengel.

Sementara kondisi parah terjadi Dusun Jetis dan Tangsari, Desa Ngadirejo dan Dusun Klubuk, Desa Kanorejo dan sebagian Desa Tambakrejo. Lokasi dusun ini persis di pinggir bengawan sehingga begitu air meluber, dipastikan merendam kampung.

Banjir langganan ini, hampir tiap tahun menimpa mereka karena sepanjang DAS Bengawan Solo yang melintas di desanya belum dibangun tanggul. Kondisi ini berbeda dengan wilayah Kecamatan Plumpang dan Kacamatan Widang yang sudah terbangun tanggul bengawan setinggi 7 meter.

Terdata kawasan DAS Bengawan Solo di wilayah Kabupaten Tuban yang belum ada tanggul mulai Desa Menilo, Kecamatan Soko hingga Desa Ngadirejo, Kecamatan Rengel. Setelah itu, tanggul telah berdiri mulai wilayah Desa Sumberjo, Kecamatan Rengel lalu Kecamatan Plumpang hingga Kecamatan Widang.(fat/fat) sumber : surabaya.detik.com

Read more...

Rabu, 25 Februari 2009

SRMI Tuntut Realisasi Jamkesmas

Soko Tuban
TUBAN-Sedikitnya 30 warga yang mengatasnamakan Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) menggelar aksi di depan Pemkab Tuban kemarin (23/2). Mereka menuntut realisasi data Jamkesmas dan pendidikan gratis untuk rakyat.

Belasan demontrans itu memulai aksinya dari Jalan Gajah Mada. Persisnya, di depan Pasar Baru Tuban (PBT). Dari sini, mereka long march dengan membentangkan spanduk dan sejumlah poster sambil meneriakkan yel-yel keberpihakanya kepada masyarakat miskin. Sejumlah poster itu bertuliskan, Data ulang peserta Jamkesmas, pendidikan gratis untuk rakyat, kriteria masyarakat miskin fersi BPS ngawur, wujudkan masyarakat sehat, dan sejumlah poster lainya.

Di depan halaman Pemkab Tuban, para demonstran berorasi. Meski hanya segelitir, namun aksi itu menarik perhatian sejumlah warga yang melintas. Sesaat setelah beroperasi, tiga perwakilan pengunjuk rasa diminta masuk gedung Pemkab Tuban. Sementara demonstran lainya tetap berada di tempat semula.

Tiga perwakilan pengunjuk rasa tersebut, Sukohar, Johan dan Abdul Qodir. Mereka diterima Asisten I Pemkab Tuban, Sutrisno, dan didampingi direktur RSUD dr. R Koesma Tuban Nursanti, serta dari Dinkes Tuban.

Kohar di hadapan petinggi Pemkab Tuban mengatakan, Jamkesmas di daerah Tuban selama ini belum merata. Ada sejumlah warga yang dikategorikan miskin, namun tidak mendapatkan Jamkesmas. ''Sebab hanya beberapa orang yang mendapatkan Jamkesmas,'' ujarnya. Karena itu, dia berharap agar ada penambahan kuota. ''Selain itu juga kondisi RSUD Tuban masih kotor,'' terangnya.

Menurut dia, di lapangan juga terjadi, ada kartu Jamkesmas yang belum dibagi secara merata. ''Ada kartu Jamkesmas disimpan perangkat desa,'' keluhnya.

Tak hanya itu. Sejumlah masyarakat yang menerima Jamkesmas belum tahu manfaatnya. Mendengar itu, Sukohar menyerukan agar pemerintah merealisasikan data Jamkesmas di luar kuota dan memaksimalkan sosialisasi ke bawah agar masyarakat bisa mengetahui kegunaan Jamkesmas. Selain itu, juga agar pemerintah mempermudah akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin.

Sutrisno menambahkan, pada intinya semua sudah dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum. Data Jamkesmas sampai saat ini itu masih data lama, dan sekarang sudah melakukan pendataan yang baru. Sehingga belum semua terakomodir. ''Dan itu butuh proses,'' katanya. Selain itu, lanjut dia, pendataan Jamkesmas itu tidak bisa diubah sewaktu-waktu. ''Semuanya pokokoknya akan ditindak lanjuti,'' ujarnya. Terkait dengan adanya kartu Jamkesmas yang disimpan perangkat desa, kata Sutrrisno, pihaknya akan melakukan pengecekan di lapangan. (zak)sumber : Radar Bojonegoro

manurut saya sebagai pemilik blog ini benar bahwa ada yan gpunya kartu jamkesmas tapi gak ngerti manfaatnya karena saat penyerahan hanya diserahkan begitu saja, tidak ada penjelasan apapun dari aparat desa yang menyerahkan sehingga salim dan sukilah warga gunung anyar kecamatan soko yang punya kartu tersebut, mereka baru mengerti manfaatnya setelah ketemu dengan saya dan saya jelaskan manfaat kartu tersebut.


Read more...

Jatah Pupuk Bersubsidi Ditambah

Soko Tuban
TUBAN - Kuota pupuk urea bersubsidi untuk Tuban tahun ini ditambah 8.480 ton. Bila sebelumnya hanya dijatah 42.420 ton, kini bertambah menjadi 50.900 ton.

Kabid Perdagangan Dinas Perekonomian dan Pariwisata Budi Wiyana berharap penambahan jatah pupuk bersubsidi tersebut bisa mencukupi kebutuhan para petani di daerahnya. Dia menjelaskan alokasi terbesar pupuk urea tersebut untuk sub sektor tanaman pangan dan hortikultura yakni 47.806 ton. Sisanya, untuk sektor perikanan 2.174 ton dan perkebunan 920 ton.

Selain urea, pupuk jenis lainnya juga ada penambahan jatah. Antara lain Superphos yang bertambah dari 7.725 ton menjadi 8.892 ton, ZA dari 4.061 menjadi 4.173, dan Phonska yang kini dijatah 10.670.

Sementara itu, realisasi distribusi pupuk urea pada Januari sebagian besar kecamatan sudah ditarikkan alokasi untuk bulan Februari. Misalnya, di Kecamatan Merakurak. Alokasi bulan Januari hanya 192 ton, namun distributor CV Fimaco menggelontorkan pupuk 293 ton. Artinya ada 101 ton yang diambilkan dari jatah bulan berikutnya. Hal yang sama juga terjadi di Kerek. Alokasi bulan Januari hanya 235 ton, namun realisasinya pupuk yang didistribusikan Inkoptan sebanyak 660 ton. Artinya terjadi defisit 425 ton. Itu ditarikkan dari kuota untuk beberapa bulan berikutnya. (wid) sumber : Radar Bojonegoro

Read more...

Sabtu, 14 Februari 2009

Harga Beras Jawa Terus Merosot

Soko Tuban
Harga beras Jawa di pasaran Bojonegoro, Jawa Timur, dalam sebulan terakhir ini cenderung turun.

"Harga beras Jawa sudah sebulan ini terus turun, saya tidak berani kulakan, kalau sekarang di tempat saya kosong," kata seorang pedagang beras di pasar Banjarjo, Desa Banjarjo, Kecamatan Kota, Bojonegoro, Sakim (55), Sabtu.

Menurut dia, sebulan yang lalu harga beras Jawa di tempatnya Rp12.000,00 per kg, tetapi terakhir dalam pekan ini turun menjadi Rp9.000,00 per kg.

Karena itu, dia mengaku tidak berani membeli beras Jawa dari pedagang beras yang datang dari wilayah Kecamatan Soko, Tuban untuk dijual kembali.

Alasannya, diperkirakan harga beras Jawa dalam beberapa hari ke depan akan semakin turun, akibat panenan tanaman padi di luar jenis Jawa mulai terjadi di sejumlah wilayah, baik di Bojonegoro dan Tuban.

Menurut dia, para pedagang beras di Bojonegoro, dalam membeli beras Jawa produksi Tuban tersebut, tidak pernah banyak, paling banter sekali beli satu kuintal.

"Pembelinya hanya kalangan tertentu," katanya.

Dia mencontohkan, dirinya selama ini memiliki langganan seorang penjual makanan pecel di Padangan, yang setiap hari membeli beras Jawa rata-rata 20 kg.

Dia menjelaskan, harga beras Jawa yang sentranya di Desa Prambon, Kecamatan Soko, Tuban, bisa mencapai Rp15.000,00 per kg, ketika musim kemarau.

"Petani setempat menjual beras Jawa ketika kemarau, ketika panen musim hujan disimpan," katanya menjelaskan.

Tanaman padi Jawa, menurut seorang warga di Kecamatan Soko, Tuban, Supardji (40), diperkirakan luasnya pada musim hujan ini hanya berkisar 40 ha.

Tanaman padi Jawa di wilayah itu dari tahun ke tahun luas arealnya cenderung menyusut, akibat secara ekonomis lebih menguntungkan menanam padi jenis lainnya.

"Karena itu, petani menjual berasnya ketika musim kemarau," katanya mengungkapkan.

Setelah panen, gabah padi Jawa yang dipanen dengan ani-ani tersebut, disimpan dulu di rumah dan diproses setelah panenan padi lainnya langka. Para petani yang masih mempertahankan menanam tanaman padi Jawa, karena sudah menjadi tradisi dan dilakukan turun temurun.

"Di wilayah Soko, tanaman padi panen dalam setahun hanya sekali," kata Supardji yang juga bagian pengairan di wilayah Soko itu. (kpl/meg) Sumber : Kapanlagi.com

Read more...

About This Blog

Cek Tagihan PLN

blog tutorial

Gabung Yuk...!

Test Form

Name:
Email Address:
Alamat Web
Berapa usia anda...? Dibawah 17 th
Antara 17 s/d 30th
Diatas 30 th
Apa jenis kelamin anda Pria
Wanita
Baina huma
Apa pendapat anda tentang blog ini..? Sangat kami harapkan, saran, kritik, maupun pendapat anda. silahkan ketik pada kolom disamping ini

free forms

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP